Kehilangan Gigi Pertama Pengalaman Positif untuk Anak

Ilustrasi

JAKARTA, Limadetik.com — Bagaimana perasaan anak Anda ketika kehilangan gigi bayi pertamanya? Bisa jadi anak takut, malu, bahagia, juga bangga.

Gigi pertama atau gigi susu biasanya akan lepas dan berganti gigi permanen. Anak-anak biasanya kehilangan gigi susunya ketika berusia enam tahun. Gigi lepas meninggalkan celah atau disebut ompong, kemudian gigi penggantinya tumbuh.

Proses bertahap ini salah satu perubahan biologis pertama yang ditemukan anak pada tubuh mereka. Emosi yang menyertai bervariasi, mulai dari gembira karena anak menganggap dirinya sudah dewasa, hingga takut karena kehilangan bagian tubuh.

Peneliti bekerja sama dengan School Dental Services di Kota Zurich melibatkan orang tua dan anak yang setidaknya sudah kehilangan satu gigi susu. Dari hampir 1.300 tanggapan yang diterima, sekitar 80 persen orang tua melaporkan anak-anaknya merespons positif, dan hanya 20 persen merespons negatif.

“Fakta bahwa empat dari lima anak menyambut positif kehilangan gigi susu pertamanya adalah kabar baik untuk orang tua dan dokter gigi,” kata penulis utama studi, Raphael Patcas, dilansir dari¬†Science Daily,¬†Jumat (2/11).

Peneliti menemukan kunjungan ke dokter yang dilakukan lebih dini, sebelum gigi susu pertama lepas berperan penting menyangkut perasaan anak. Mereka menjadi tidak begitu kaget ketika berkunjung lagi ke dokter gigi saat giginya lepas.

Gigi susu biasanya tidak langsung lepas, melainkan mengendur terlebih dahulu, kemudian perlahan semakin melonggar. Patcas mengatakan semakin lama gigi itu melonggar, semakin positif dan semakin siap anak menunggu waktunya tiba. Anak juga semakin lega dan bangga ketika pada akhirnya si gigi susu lepas.

Sosiodemografi juga berhubungan dengan perasaan anak. Sebagai contoh, anak dari orang tua dengan tingkat pendidikan tinggi biasanya lebih bersuka cita ketika gigi susunya lepas. Ini karena budaya dan norma dari orang tua.

“Gigi berlubang pada anak juga perlu diperhatikan. Penting berkomunikasi tentang hal ini dengan anak-anak secara bijaksana,” kata Profesor Psikologi Anak, Moritz Daum.


sumber: republika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here