SUMENEP, limadetik.com – Sejak tiga bulan lalu di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur mulai masuk musim kemarau. Hingga saat ini masih belum turun hujan.

Akibatnya, sejumlah tanaman cabai di Desa Banuaju Barat, Kecamatan Batang-batang mulai layu dan sebagian mati. Sebab, sumber mata air yang biasa digunakan menyiram cabai sudah kering sejak tiga pekan lalu.

“Sumur yang biasa digunakan untuk menyiram cabai airnya menyusut. Mungkin karena sudah lama tidak turun hujan. Tapi kalau untuk kebutuhan masyarakat air masih mencukupi,” kata salah satu petani setempat, Moh. Arman, Selasa (23/20/2018).

Menurutnya, harga cabai saat ini lumayan bagus. Ditingkat petani, harga cabai masih kisaran Rp 12 ribu per kg. “Tapi karena sumber air sudah mulai berkurang, terpaksa dibiarkan meskipun harga cabai lumayan bagus,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorogi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalianget, Usman Kholilid memprediksi wilayah Sumenep baru akan turun hujan pada pertengahan November.

Apalagi dari 27 kecamatan yang ada di Kota Keris ini turunnya hujan diprediksi tidaklah bersamaan. Seperti halnya di wilayah Kecamatan Arjasa, Gayam, Kangayan, Nongungung, Raas, Sapeken, Bluto, Ganding, Guluk-guluk, Lenteng dan Kecamatan Pragaan masuk dasarian I-III November 2018

“Sedangkan untuk Kecamatan Ambunten, Batang-batang, Batuan, Batuputih, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Giligenting, Kalianget, Gapura, Kota Sumenep, Manding, Pasongsongan, Rubaru, Saronggi dan Kecamatan Talango masuk dasarian I-II Desember 2018,” terangnya. (hoki/rud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here