Ketua TP PKK Bagikan Pupuk Organik Cair Kepada Gapoktan di Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, Trenggalek
LIMADETIK.COM, TRENGGALEK – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Novita Hardini mendorong pertanian berkelanjutan atau sustainable agriculture.
Menurut Novita, sektor pertanian selalu dibayang-bayangi ancaman gagal panen yang terjadi karena karena cuaca yang tidak menentu dan terbatasnya subsidi pupuk.
Istri Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin tersebut seringkali mendapatkan keluhan dari masyarakat yang kesulitan untuk membeli pupuk subsidi.
“Hari-hari ini tidak semua masyarakat mau diberikan bantuan gratis, masyarakat sebenarnya mau membeli selama barang itu ada, terutama pupuk subsidi,” kata Novita, ditemui di Kampoeng Manajemen Tanaman Sehat (MTS) Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Kamis (8/2/2024).
Menurut Calon Legislatif DPR RI Dapil Jatim VII tersebut, kebutuhan pupuk sangat berpengaruh kepada keberlangsungan kehidupan masyarakat yang mayoritas petani.
Untuk itu ia mengajak masyarakat agar tidak ketergantungan kepada pupuk subsidi dengan beralih ke pupuk organik. Sebagai stimulus, ia membagikan pupuk organik cair (POC) kepada petani agar bisa merasakan manfaatnya secara langsung.
“Pupuk organik ini lebih sehat, sedangkan pupuk kimia sedikit demi sedikit akan merusak struktur tanah, yang kemudian hasil panennya juga berbahaya bagi kesehatan,” jelas Novita.
Semangat mewujudkan pertanian berkelanjutan sendiri sudah digalakkan Pemkab Trenggalek sejak tahun 2016 dengan gencar memberikan edukasi pentingnya pupuk organik untuk petani.
“Hasil panen dengan sistem organik ini lebih enak, sehat, dan bahkan nilai jualnya lebih tinggi,” lanjut founder Uprintis Indonesia ini.
Para petani di Trenggalek yang sudah merasakan manfaat penggunaan pupuk organik pun sedikit demi sedikit meninggalkan pupuk kimia. Karena permintaan yang semakin tinggi, Novita yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) ‘Sarinah’ Trenggalek tersebut gencar memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik.
“Kita memberdayakan KWT di Kabupaten Trenggalek untuk mengumpulkan sampah rumah tangga, lalu kotoran ternak di kandang dan kita edukasi petani untuk membuat pupuk sendiri. Modalnya sebenarnya hanya gentong untuk bisa menampung pupuk organiknya,” terang lulusan Magister Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung ini.
Konsep pertanian berkelanjutan ini menurut Novita juga sebagai perwujudan pembangunan yang memperhatikan isu lingkungan dan rendah karbon. “Nah untuk pemasarannya kita pasarkan ke pasar modern yang ada di kota kota besar karena permintaan tanaman pangan organik terutama di perkotaan semakin tinggi,” pungkasnya.