Artikel

Muhasabah : Ketika Publik Figur Melakukan Kesalahan

×

Muhasabah : Ketika Publik Figur Melakukan Kesalahan

Sebarkan artikel ini
Muhasabah : Ketika Publik Figur Melakukan Kesalahan
Ilustrasi

Muhasabah : Ketika Publik Figur Melakukan Kesalahan

Oleh : Subliyanto
_________________________________

LIMADETIK.COM – Beberapa hari ini, kita disuguhkan dengan berita duka dari publik figur yang kemungkinan atau dimungkinkan didapati melakukan kesalahan dalam tugasnya. Sehingga dari kesalahan yang dimungkinkan itu ia menjadi buah bibir publik.

Terlebih ia merupakan publik figur, yang dalam teori “selera makanan” merupakan makanan favorit dalam perspektif media dan organisasi. Maka sudah bisa dipastikan para penikmatnya akan dengan lahap menyantapnya.

Apalagi di dukung dengan massifnya media sosial dan sosial media di era saat ini sebagai bumbu literasinya. Tentu akan semakin sedap rasanya.

Bahkan, saking ngerinya membaca ragam pemberitaan yang menyoroti hal tersebut, baik di media sosial maupun sosial media, sejenak penulis berpikir dan bertanya pada diri penulis dan tentu kepada khalayak. Selama periode yang bersangkutan bertugas, berapa ribu jamaah yang sudah diberangkatkan ke tanah suci dan pulang kembali ke tanah air dengan selamat?.

Mungkin pertanyaan ini sebatas ajakan muhasabah diri dan kita semua untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita selama periode yang bersangkutan bertugas. Diakui atau tidak, dan mendapat pengakuan atau tidak muhasabah ini patut dicerna, agar kalau toh kita harus juga andil untuk berkomentar dan mengomentari setidaknya tidak malu dengan peci putih kita dan gelar haji kita.

Luar biasa, itulah bedanya publik figur dengan “maling ayam”. Sekali tercium aroma kemungkinan dan dimungkinkan melakukan kesalahan, seakan lenyap semua prestasi kebaikannya. Disini penulis menggunakan kalimat kemungkinan dan dimungkinkan sebagai ikhtiar untuk tidak menghakimi karena proses masih sedang berlangsung oleh yang berwenang.

Terlepas hal itu benar atau tidak, nyata atau tidak, tentu penulis tidak masuk pada ranah tersebut, biarlah yang berwajib dan berwenang yang meprosesnya. Namun disini penulis hanya ingin menguatkan jiwa dan memotivasi diri dengan mengambil hikmah dari kejadian itu.

Ujian dan cobaan Atau Teguran

Sudah manusiawi dan menjadi hukum alam kalau manusia akan dihadapkan dengan berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Dan bergantung dari masing masing kita menyikapinya. Dan sebagai insan beriman, tentu akan menyikapi semua persoalan hidup dan kehidupan yang dihadapinya dengan bersandar kepada Tuhan karena ia sadar bahwa semua yang dihadapi dalam hidupnya adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dihadapi.

Dan ia sadar bahwa setiap yang ia lakukan akan dimintai pertanggung jawaban, baik di dunia terlebih di akhirat. Dan manusia yang beriman akan mengembalikan semua persoalan hidup dan kehidupan yang dihadapinya kepada Tuhan, Allah yang maha bijaksana, karena semua yang terjadi pada dirinya adalah yang terbaik, baik buat dirinya maupun buat orang lain di sekitarnya.

Dalam kacamata agama terdapat dua hal yang harus dan terus dikuatkan pada diri manusia dalam menghadapi persoalan hidup dan kehidupannya. Pertama adalah cobaan atau ujian. Maka jika persoalan hidup dan kehidupan yang manusia hadapi masuk kategori ini, tentu sasarannya adalah kesabaran.

Dengan kata lain Allah akan memberikan hadiah setelah manusia lulus mengikuti ujianNya. Kedua adalah teguran.Maka jika persoalan hidup dan kehidupan yang kita hadapi masuk kategori ini, tentu kesadaran diri yang menjadi sasarannya agar manusia tersebut kembali pada jalan hidup yang telah ditetapkan olehNya.

Kedua katagori di atas merupakan wujud cintaNya kepada hambaNya. Maka berbaik sangka adalah sikap terbaik bagi manusia yang harus melekat pada jiwanya. Karena cinta tak selamanya diwujudkan dengan sejuta keindahan. Namun kadang cinta juga diwujudkan dengan rasa yang sekilas menyakitkan. Karena keindahan yang hakiki adalah kelak manakala kelak kita berjumpa dengan Ilahi.

Manusia dan Nafsu Duniawi

Sudah menjadi pengetahuan kita semua secara umum, bahwa manusia diciptakan salah satu tugasnya adalah memakmurkan dunia dan isinya. Yang artinya adalah mensyukuri nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kita. Hanya saja, tidak sedikit dari kita yang lupa akan hal itu, bahkan melalaikannya.

Dan yang kerap terjadi adalah perlombaan manusia dalam mengambil keuntungan semata dari sang pemilik dunia dan isinya. Bahkan saking alotnya perlombaan tersebut beragam cara dilakukan untuk mendapatkan yang disebut dengan kemenangan, hatta koredor-koredor baku yang sudah ditetapkan oleh sang pencipta acap kali diterobosnya.

Mungkin pelanggaran-pelanggaran inilah yang membuat sang pemilik dunia dan isinya marah kepada kita. Dan kemarahannya dengan berbagai teguran kepada kita sebagai manusia yang telah tidak taat kepada-Nya. Hal itu jelas sebagaimana termaktub dalam firman-Nya ;

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. al-Rum : 41)

Jika demikian yang terjadi, lantas dimana wujud syukur kita sebagai manusia yang notabene tinggal menikmati segala bentuk kenikmatan yang Allah berikan ? Tidakkah kita sadar dan menyadari bahwa kita semua hanyalah pemegang hak pakai di dunia ini ? bukan pemegang hak milik atas segala fasilitas hidup dan kehidupan kita ?

Tidak sadarkah kita bahwa kita semua diciptakan dari tanah dan akan kembali pada tanah ? Haruskah kita menunggu teguran yang lebih dahsyat dari sang Khaliq atas segala kesalahan yang telah kita perbuat ? Tentu jawaban dari kita semua adalah tidak.

Karenanya, kita sebagai manusia hendaknya mamanaj nafsu duniawi yang sudah menjadi sifat insaniyah pada diri kita sebaik mungkin dalam bingkai iman. Karena hanya dengan keimanan yang kokoh rute hidup dan kehidupan manusia akan terarah dan tidak akan salah melangkah.

Keimanan akan membuahkan ketakwaan, dan ketakwaan akan membuahkan ketaatan, serta ketaatan akan membuahkan keshalehan, yang dengan itu semua kita sebagai manusia tidak akan melampaui batas yang sudah ditetapkan oleh sang pencipta jalan kehidupan.

Analoginya, kita akan makan secukupnya, tidur atau istirahat secukupnya, olahraga secukupnya, serta beraktivitas atau bekerja semampunya agar tubuh kita tetap dalam kondisi sehat. Namun naluri manusia selalu merasa kurang dan selalu merasa tidak puas. Dan memang itulah sifat insaniyah yang tersemat dalam diri manusia.

Hanya saja, jika sifat insaniyah tersebut tidak kita kendalikan dengan iman yang kokoh, maka naluri insaniyah tersebut akan terus bergerak dengan liar tak mengenal traffic light yang sudah ditetapkan sebagai rambu-rambu lalulintas kehidupan.

Maka upgrading iman merupakan hal yang sangat penting untuk terus kita lakukan. Karena keimanan manusia fluktuatif. Kadang bertambah, kadang juga berkurang. Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Sehingga muhasabah diri pada diri kita sangat diperlukan dalam kehidupan keseharian kita.

Dengan demikian, setidaknya kita dapat melihat dan mengetahui grafik evalutif perbuatan kita, dan menyusun plan progresif menuju masa depan yang lebih baik, baik di dunia dan terlebih kelak di akhirat. Wallahu a’lam bis shawab [*]

Penulis merupakan pegiat literasi, pemerhati sosial dan pendidikan, tinggal di Pamekasan