GRESIK, Limadetik.com – Perajin songkok di Kabupaten Gresik terancam gulung tikar. Sebab, bludru yang menjadi bahan utama pembuatan songkok sulit ditemui di pasaran.
Hal ini dirasakan Ahmad Agus (42) perajin songkok yang mengaku sudah 2 tahun belakangan mengaku kesulitan mendapat pasokan kain bludru. Bapak tiga anak ini mengaku merintis usahanya sejak 2004 silam.
“Kalau pun ada barangnya itu pun mahal harganya. Bayangkan dalam satu bulan harganya bisa naik 3 kali,” kata Agus saat ditemui awak media di rumah produksinya, Jalan KH Kholil Gresik, Jumat (12/1/2018).
Dalam satu bulan Agus merincikan harus merogok koceknya sebesar 37 juta untuk biaya produksi dan gaji 9 karyawannya. “Dari biaya yang saya keluarkan paling banyak untuk membeli bahan dasar utama yakni kain bludru yang hampir 70 persen dari biaya pengeluarannya,” jelas mantan karyawan toko itu.
Sementara pengrajin songkok bermerk Awing juga mengalami hal yang sama terkait pasokan bahan bahu kain bludru. Perusahaan skala menengah ke atas ini juga mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku setahun ini.
“Pasokan kain bludru dari Korea sulit didapati tidak tahu dari pihak bea cukainya atau gimana, pemerintahannya,” ujar Suraji, Kepala Produksi Songkok Awing.
Tak hanya itu, bahan bludru berukuran 90 cm tersebut harganya tak stabil seperti dulu. “Harganya tidak stabil kenaikan bisa 30 persen lebih, itu pun datangnya terlambat,” ujarnya.
Namun untuk menghindari permainan pasar, pihaknya masih mempertahankan kualitas agar produktivitas tetap terjaga. “Kita tidak mengejar kuantitas, melainkan kualitas agar harga tetap stabil tidak dipermainkan oleh toko,” ungkapnya.
(*)