Suci dengan Thaharah

LIMADETIK.com – Thaharah bermakna pembersihan dari segala kotoran yang tampak atau pun tidak. Secara terminologis, thaharah berarti tindakan menghilangkan hadas dengan air atau debu yang bisa menyucikan.

Makna lainnya adalah upaya melenyapkan najis dari kotoran. Makna lengkapnya, thaharah berarti menghilangkan segala sesuatu di tubuh yang menjadi penghalang bagi pelaksanaan shalat dan ibadah.

Dalam Ensiklopedi Shalat, Dr Sa’ad bin Ali bin Wahf al Qahthani menjelaskan, thaharah memiliki dua jenis fungsi. Pertama, thaharah secara spiritual, yakni membersihkan diri dari kemusyrikan dan kemaksiatan. Thaharah ini bisa dilakukan dengan cara bertauhid dan beramal saleh. Thaharah spiritual dinilai lebih penting dibandingkan thaharah fisik.

Thaharah badan bahkan tidak mungkin bisa terwujud jika masih ada najis kemusyrikan. “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis. ” (QS at-Taubah: 28). Hadis Nabi SAW pun menga takan, “Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.”

Karena itu, setiap mukalaf (Muslim yang sudah terkena kewajiban mematuhi perintah agama dan menjauhi larangan-Nya) berkewajiban untuk menyucikan hatinya dari najis kemusyrikan dan keraguan.

Itu dapat di wujud kan lewat keikhlasan, tauhid, dan keyakinan. Mereka juga harus membersihkan diri dari kotoran, seperti maksiat, dengki, iri, kecurangan, suap-menyuap, sombong, ujub, riya, dan sum’ah.

Pembersihan ini bisa dilakukan dengan tobat yang sebenar-benarnya dari segala macam dosa dan kemaksiatan. Thaharah ini merupakan sebagian dari iman. Sementara, thaharah lainnya ada lah thaharah fisik atau lahir.

Thaharah fisik artinya bersuci dari berbagai hadas dan najis. Nabi SAW bersabda, “Bersuci itu sebagian dari iman.” Thaharah kedua ini dilakukan dengan cara yang disyariatkan oleh Allah Taa la. Caranya ada tiga, yakni wudhu, mandi, dan tayamum ketika tidak ada air. Najis dari pakaian, badan dan tempat shalat juga harus dihilangkan.

Thaharah fisik dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan air. Setiap air yang turun dari langit atau keluar dari perut bumi adalah dalam posisi dasar penciptaannya. Dapat menyucikan, yakni dari hadas dan kotoran, meski telah mengalami perubahan rasa atau warna atau baunya oleh sesuatu yang bersih. “Sesungguhnya air itu dapat menyucikan yang tidak bisa dibuat najis oleh sesuatu.”

Di antara jenis-jenis air tersebut adalah air hujan, air dari sum ber mata air, air sumur, air sungai, air lembah, air salju yang mencair, dan air laut. Untuk yang terakhir, Rasulullah SAW pun bersabda, “Laut itu airnya bisa menyucikan dan bangkainya pun halal.” Jika air itu berubah warna, rasa atau baunya yang disebab kan oleh suatu najis, air itu men jadi najis yang harus dihindari menurut ijma ulama.

Kedua, thaharah dengan debu yang suci. Thaharah ini merupakan thaharah pengganti dari air. Jika seorang tidak memung kinkan bersuci dengan menggunakan air pada bagian-bagian yang harus disucikan dengan alasan ketiadaan air, takut bahaya yang diakibatkan oleh air (aki bat demam atau sakit) dapat di ganti kan oleh debu yang suc

Tidak selamanya bersih itu suci. Dalam buku Percikan Sains dalam Alquran, Ir Bambang Prang gono mengungkapkan, jika harus memilih antara bersih dan suci, dia pun membandingkan antara halal dan baik atau cantik dengan salehah. Bersih lebih bersifat fisik, sementara suci lebih dekat dengan spiritual.

Paradigma Islam mengandung kekontrasan. Agak kotor bisa saja dianggap suci. Bila ukur an lahiriah yang dipakai, pa kaian ihram jelas tidak memenuhi syarat kebersihan dan tidak so pan. Dua lembar kain handuk di pakai handuk dipakai beberapa hari tanpa celana dalam dan sing let. Tentu sedikit banyak akan ter kena rembesan keringat atau cairan tubuh lain.

Ihram adalah pakaian kebesaran Muslim. Ia pakaian terhormat di hadapan Allah SWT, se telan jas tuksedo merek Lanvin yang baru, dasi Gucci, dan sepatu Bally tidak bisa mengungguli kemuliaan dua helai kain ihram kusut di Arafah.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, suci amat penting. Ketika mencari pasangan hidup, seorang Muslimah diharamkan un tuk memilih calon suami yang musyrik. Meski dia ganteng dan macho. “Dan jangan kamu nikahi lelaki musyrik sampai dia ber iman. Budak belian yang beriman lebih baik bagimu daripada lelaki musyrik, meski ketampanannya menakjubkanmu” (QS al-Baqa rah:221).

Demikian dengan standar me milih perempuan. Standar calon istri ideal menurut Alquran ada lah cantik bagaikan bidadari. Salah satu karakteristik bidadari di surga adalah kesuciannya. “Me reka itu belum pernah disentuh sebelumnya oleh manusia atau jin.” (QS ar-Rahman 55-56).

Karena itu, calon istri ideal ada lah mereka yang belum per nah dipacari dan disentuh pemu da lain. Namun, tidak mengapa ke tika memilih janda yang pernah menikah dengan sah. Dia te tap suci sebab bersentuhan de ngan suami sebelumnya di atas kalimat Allah.


sumber: republika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here