Toleransi dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika

×

Toleransi dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika

Sebarkan artikel ini
20190923 102909

Senin, 23 September 2019

ARTIKEL, Oleh : Sigit Pramono, Limadetik.com

1. Makna Toleransi menurut Ilmu Teknik

Kita Sering mendengar istilah toleransi, bahkan kata ini dijadikan sebagai salah satu materi dalam cabang pelajaran ilmu teknik. Jika kita telusuri, makna dari kata ini adalah batas-batas penyimpangan yang diijinkan atau dua batas penyimpangan yang masih diijinkan. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa penyimpangan itu diijinkan dan mengapa harus ada toleransi?.

Apa yang menjadi alasan lahirnya toleransi? Kalau kita renungkan dan pahami maka toleransi ini lahir karena adanya dua alasan pokok, pertama, karena tidak pernah adanya kesempurnaan dan ke dua, perbedaan dan penyimpangan adalah hal yang mutlak.

Kesempurnaan tidak pernah akan kita jumpai dan kita ciptakan di dunia ini. Semua yang ada hakekatnya hanya sebatas pendekatan. Yang benar bukan yang sempurna melainkan yang paling mendekati sempurna, artinya semakin benar adalah semakin mendekati kesempurnaan dan tidak pernah mencapai kesempurnaan itu sendiri. Begitu pula dalam proses produksi atau penduplikasian sebuah produk maka tdak mungkin kita akan mencapai ukuran ideal sesuai yang direncanakan.

Tidak mungkin kita akan memproduk atau menduplikasi produk persis sama dengan ukuran yang ditentukan, hal ini dikarenakan faktor manusianya, alat ukurnya bahkan mesinnya yang tidak luput dari ketidak sempurnaan. Ketidak sempurnaan ini akan menghasilkan produk atau duplikasi yang tidak sempurna juga. Untuk menjembatani masalah ini maka perlu dilahirkan suatu kesepakatan agar penyimpangan biarlah tetap ada “karena memang tidak bisa kita hilangkan” walaupun kesesuaian pasangan antar komponen produk tetap bisa kita jaga kualitasnya. Jembatan itu tak lain dan tak bukan adalah toleransi.

Dengan adanya toleransi ini maka kesenjangan antara ketidak sempurnaan manusia beserta alat bantunya dengan tuntutan kualitas produk yang disyaratkan bisa dihubungkan. Begitu hebatnya peran toleransi ini hingga produk-produk industri bisa terus diproduksi dan diduplikasi walaupun kita yakin dengan berlapang dada bahwa komponen itu tidak sempurna. Dengan adanya toleransi ini pulalah produk-produk bisa dipasangkan dengan produk-produk lainnya. Dari sini kita bisa belajar bahwa toleransi ini lahir karena kepastian tidak adanya yang sempurna di dunia ini.

Faktor lain yang ikut mempengaruhi lahirnya toleransi adalah bahwa perbedaan itu merupakan sebuah keniscayaan. Perbedaan adalah hal yang pasti. Tidak mungkin ada dua hal yang sama, bahkan kalau kita ingin teliti sesuatu itu tidak sama dengan sesuatu itu sendiri. Satu kg gula tidak sama dengan satu kg gula yang lain. Perbedaan ini mungkin karena jumlah butirannya, mungkin juga karena ukuran penimbangnya yang kurang teliti.

Jumlah butiran satu kg gula yang pertama tidak mungkin sama dengan satu kg gula yang lain, ukuran butirannyapun tidak pernah sama, dan perbedaan ini akan diperbanyak jika ketelitian alat penimbangnya kurang teliti. Tetapi dengan adanya toleransi, perbedaan-perbedaan ini bisa kita kesampingkan demi suatu hubungan yang lebih penting bagi kehidupan manusia secara sosial walaupun mutu dan kualitas harus tetap kita jaga dengan menggunakan toleransi itu sendiri.
Bagaimana toleransi itu bisa menjaga kualitas, padahal perbedaan pasti terjadi dan penyimpangan tak mungkin dihilangkan? Dalam istilah toleransi ada dua kata kunci yang membatasinya, yaitu batas atas dan batas bawah.

Batas atas adalah suatu batasan yang mengijinkan suatu penyimpangan ukuran untuk menjadikan ukuran maksimal yang diijinklan sedangan batas bawah adalah suatu batasan penyimpangan untuk menghasilkan ukuran minimal yang diijinkan dari suatu produk. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penyimpangan masih diijinkan selama penyimpangannya tersebut masih dalam batas atas dan batas bawah. Penyimpangan sudah tidak diperbolehkan jika penyimpangan tersebut sudah di luar ke dua batas tersebut, beginilah toleransi menjaga kualitas produk.

Penyimpangan, kesalahan maupun perbedan boleh terjadi selama dalam batas-batas tersebut, kesalahan sudah tidak diijinkan lagi jika kesalahannya sudah di luar batas-batas tersebut. Di sini bukan masalah kesalahan, penyimpangan ataupun perbedaannya tetapi lebih pada batas batas penyimpangan itu yang harus kita sepakati dengan suatu komitmen.

Pelajaran yang dapat diambil adalah suatu kesalahan, perbedaan dan penyimpangan boleh terjadi selama semua itu masih dalam batas toleransi demi suatu hubungan yang bermanfaat bagi manusia. Kesalahan tidak diijinkan, jika kesalahan sudah di luar toleransi karena hasil kesalahan tersebut tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia secara sosial. Saling menghargai, saling menghormati dan saling mejaga adalah adalah makna dari istilah toleransi ini.

2. Toleransi dalam Kehidupan Sosial
Dalam ilmu sosial sering juga kita dengarkan istilah toleransi. Dengan maksud yang sama dengan ilmu teknik maka toleransi dalam ilmu sosial menyentuh pada subyek manusia, hal ini berbeda dengan dunia teknik yang mengambil subyek pada benda yang diproduksi. Walaupun subyek yang disentuh berbeda tapi makna dan tujuan dari toleransi tidak jauh berbeda.
Apa yang menjadi alasan mengapa kita harus bertoleransi. Ada dua alasan pokok di sini, pertama manusia pada kodratnya tidak ada yang sempurna dan yang ke dua perbedaan pada manusia secara sosial adalah suatu keniscayaan. Perbedaan-perbedaan ini antara lain disebabkan, budaya, suku, agama atau keyakinan.

Saling menghargai, menghormati dan menjaga adalah sikap nyata toleransi dalam kehidupan sosial. Perbedaan pada diri manusia dalam bermasyarakat dan bernegara adalah suatu keniscayaan. Suatu bangsa terlahir menurut Ernest Renan tidak berdasarkan oleh kesamaan suku, ras dan wilayah. Menurutnya suatu bangsa akan lahir jika syarat-syaratnya terpenuhi yaitu antara lain, memiliki jiwa yang sama, memiliki solidaritas yang besar, memiliki sejarah yang sama, merasakan kejayaan yang sama di masa lalu dan memiliki penderitaan bersama sehingga menimbulkan rasa keinginan hidup bersama. Dari teori kebangsaan di ataslah bangsa Indonesia dilahirkan yang membentuk negara Kesatuan Indonesia dengan sejarahnya yang panjang, yang dengan sejarah tersebut telah memenuhi syarat berdirinya sebuah Negara. Hal ini terbukti bahwa Bung Karno yang merupakan salah satu pendiri bangsa menetapkan bahwa wilayah Indonesia adalah seluruh wilayah bekas jajahan Belanda.

Dengan teori tersebut maka nyatalah bahwa unsur-unsur yang ada di dalam Negara Kesatuan Indonesia tidaklah mungkin sama. Tidak mungkin seluruh Indonesia ini suku jawa semua, suku madura semua, suku sunda semuanya dan lain sebagainya. Bangsa indonesia berdiri di atas perbedaan-perbedaan yang sangat nyata. Tidak ada bangsa di seluruh dunia ini yang memiliki kemajemukan seperti di Indonesia.
Indonesia yang ibaratnya adalah gedung di mana seluruh rakyat dengan keberagamannya berlindung, memiliki fondasi untuk menopang kesemuanya.

Nilai-nilai atau unsur-unsur yang terkandung di dalam fondasi inilah yang digunakan sebagai batasan-batasan toleransi yang harus disepakati oleh masyarakatnya. Oleh karena itu atas nama toleransi maka perbedaan walaupun adalah keniscayaan tetapi perbedaan itu ada batasnya. Setiap perbedaan yang merupakan unsur dari komponen bangsa adalah keharusan kita semua untuk menerima, menghargai dan menghormatinya. Sejatinya apapun perbedaan yang ada di bumi nusantara ini tidak ada yang saling menegasikan, semua perbedaan saling mengisi dan melengkapi, inilah hakekat Bhineka Tunggal Ika. Tetapi jika perbedaan itu untuk menegasikan, menentang dan menyalahkan perbedaan yang lain maka perbedaan itu harus dimusnahkan, karena itu adalah akar dari disintegrasi bangsa. Dan perbedaan inilah yang kita maksud dengan penyimpangan yang sudah di luar batas toleransi atau diistilahkan dengan intoleransi.

3. Perbedaan dalam Kehidupan Berbangsa
Bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang majemuk, baik budaya, bahasa, geografi maupun agama dan kepercayaannya. Perbedaan adalah suatu keniscayaan pada bangsa ini. Perbedaan ini tidaklah mungkin dihilangkan. Suatu kehendak untuk menghilangkan perbedaan ini ataupun sikap yang menghina atas suatu perbedaan yang tidak seuai dengan kelompok atau idenitas kelompok tertentu adalah penodaan atas toleransi itu sendiri. Hal ini tidak bisa dibenarkan, karena toleransi itu bukan bertujuan untuk menghina yang berbeda tapi untuk meghargai yang berbeda tersebut.

Dalam kehidupan berbangsa, sebagai warga negara sudah seharusnya sadar untuk lebih mengutamakan kepentingan bangsa dari kepentingan kelompok kita. Perbedaan perbedaan yang kita temui selama masih dalam batas-batas toleransi maka perbedaan itu seharusnya kita anggab sebagai kekayaan bangsa kita.

4. Perbedaan yang Masih Diijinkan dan yang tidak Diijinkan.

Di dalam kodrat manusia sebagai mahluk pribadi dan mahluk sosial, di sana juga melekat hak dan kewajibannya. Hak sebagai mahluk pribadi tentu berbeda dengan hak sebagai mahluk sosial begitu pula dengan kewajiban.

Sebagai pribadi atau kelompok tentu kita punya hak yang berhubungan dengan jati diri kita ataupun jati diri kelompok kita. Mengekspresikan diri kita dan kelompok kita adalah bagian dari hak kita sebagai mahluk pribadi ataupun kelompok. Tetapi secara sosial kita tidak bisa memaksakan perbedaan yang kita miliki itu kepada kelompok lain. Di sini peran toleransi sangat penting karena kita juga harus mengakui, menghargai dan menghormati perbedaan yang dimiliki pribadi ataupun kelompok lain. Artinya sebagai pribadi atau kelompok kita bisa berekspresi sesuai jati diri kita atau kelompok kita sebagai hak pribadi, tetapi secara sosial kita belum tentu bisa mengekspresikan jati diri kita jika kebebasan berekspresi itu melanggar, menodai ataupun menyinggug jatidiri kelompok lain.

Kemampuan membawa diri adalah salah satu faktor keberhasilan dalam pelaksanaan toleransi.
Di dalam kehidupannya sebagai mahluk individu kadang kita memiliki kesamaan dengan individu lainnya. Hal ini yang memungkinkan terbentuknya perkumpulan beberapa individu yang memiliki kesamaan yang kita dinamakan kelompok sosial. Kelompok sosial ini tentunya memiliki kesamaan-kesamaan individu di dalamnya. Kelompok-kelompok ini bisa berdasarkan agama, suku, ras, budaya, bahasa, status sosial, pendidikan dan lain-lain. Di dalam eksistensinya kelompok sosial ini memiliki hak untuk mengekpresikan jati dirinya. Ini adalah wujud penghargaan dari sebuah tatanan masyarakat modern dalam mengakui, menghargai dan melindungi hak individu. Hak inidividu semakin terlindungi dan teraktualisasikan seiring dengan berkembangnya kebudayaan dan peradaban manusia yang semakin menghormati keberadaan manusia sebagai mahluk yang merdeka.

Selain sebagai mahluk individu yang memberikan keleluasaan manusia untuk berekpresi sesuai dengan haknya maka manusia juga ditakdirkan sebagai mahluk sosial. Pada kodratnya setiap manusia sejak terlahir tidak bisa hidup tanpa keberadaan manusia yang lain. Kita akan menjadi manusia jika kita hidup dan berkehidupannya bersama dengan komunitasnya yaitu manusia lainnya. Entah dinamakan apa jika mahluk seperti kita tapi tidak pernah dan tidak bisa hidup dengan jenis mahluk manusia, mungkin kita sering menamakan dengan sebutan Tarzan, walaupun kita tidak yakin bahwa mahluk ini benar-benar ada. Apapun kelebihan dan kekurangannya maka dia hanya bisa hidup jika bersama dengan manusia lainnya. Kekurangan kita akan dikompensasi dari kelebihan manusia yang lain sebaliknya kelebihan yang kita miliki akan kita konpenkansasikan kepada kekurangan manusia lainnya. Manusia hidup dengan manusia lain dalam kebersamaan, saling membantu, mengisi dan memahami, ini juga sebenarnya kebutuhan manusia yang hakiki sebagai makhluk sosial.

Dalam hubungan soasial bermasyarakat dan bernegara manusia dibatasi oleh batasan-batasan yang mengikatnya. Artinya negara ini tetap mengakui perbedaan-perbedaan itu. Dalam melihat perbedaan-perbedaan yang terjadi maka negara harus memilah-milah mana perbedaan yang merupakan bagian jati diri bangsa dan mana perbedaan yang malah merusak persatuan bangsa. Tentunya tidak bisa menyamaratakan untuk jenis perbedaan ini.

Kita boleh berbeda agama atau keyakinan tetapi yang tidak boleh adalah yang tidak berkeyakinan atau tidak ber-Tuhan. Sistem kapitalisme dan materialisme yang merusak sendi-sendi kehidupan bangsa ini adalah salah satu contoh ketidak berkeyakinannya dalam berTuhan, karena prinsip materialisme yang menjadi pedoman utamanya adalah keuntungan material belaka yang kadang menyingkirkan peran dari kehidupan sosial secara adil dan merata. Kita boleh berbeda budaya tetapi yang tidak boleh adalah yang tidak berbudaya. Menghina perbedaan adalah salah satu contoh tindakan kurang berbudaya, karena itu bukan budaya bangsa kita. Kita boleh berbeda bahasa tetapi yang tidak boleh adalah yang tidak mampu berbahasa. Menghina, menghasut, membuat berita bohong atau hoax adalah salah satu contoh ketidakmampuan berbahasa dalam komunikasi, karena semua itu tidak dikenal dalam budaya bahasa bangsa kita. Pada dasarnya budaya bangsa ini dalam berkomunikasi adalah tidak mengenal bahasa-bahasa yang bersifat menghasut, menghina maupun bohong atau hoax.

5. Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa
Seperti yang sudah tertulis di atas bahwa perbedaan adalah mutlak dan tidak mungkin dipaksakan untuk harus sama. Perbedaan adalah kodrat bangsa nusantara ini. Kondisi geografis yang berbeda yang disebabkan karena sangat luasnya wilayah nusantara, hal ini tentunya menyebabkan perbedaan-perbedaan semua itu. Suku bangsa, budaya, keyakinan, bahasa, karateristik adalah contoh-contoh perbedaan yang nyata.

Tercatat bangsa Indonesia memiliki 714 suku bangsa, enam agama dan satu keyakinan, serta 1.001 bahasa daerah. Sungguh luar biasa kemajemukan bangsa ini. Selain menjadi sisi positif sebagai suatu kekayaan, maka kemajemukan ini juga menyimpan potensi negatif yaitu mudahnya terjadina konflik antar kelompok yang berbeda itu.

Sangatlah mungkin jika bangsa ini tidak hati-hati, maka kekayaan yang berupa kemajemukan ini bisa berubah menjadi suatu bencana. Perbedaan yang salah satunya adalah perbedaan keyakinan merupakan salah satu perbedaan yang paling sensitif. Sangatlah mudah menyulut suatu konflik yang didasarkan karena perbedaan keyakinan ini di negeri ini.

Kita patut bersyukur, karena seluruh potensi-potensi konflik itu sudah dipredeksi dan diantisipasi oleh bangsa ini ratusan tahun yang lalu. Karena kemampuan melihat masa depan, Mpu Tantular telah membuat tulisan yang dibuat sebagai suatu kitab yang dinamakan kitab Sota Soma. Dalam kitab itu akan kita temukan tulisan yang berbunyi “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”. Tulisan inipula yang kemudian dijadikan pita yang dipegang dengan erat oleh burung Garuda lambang negara kita.

Maksud dari kalimat tuisan itu adalah “berbeda beda tetapi tetap satu jua, tidak ada kebenaran yang mendua”. Kalimat ini sangat visioner. Dengan jiwa yang terkandung di dalam kalimat inipulalah bangsa Indonesia membuat solusi atas perbedaan-perbedaan yang ada di bangsa ini.

Bangsa yang besar bukan ditentukan dari umur, kekayaan mapupun kecerdasan bangsa itu. Sudah banyak bukti banyak bangsa besar yang tidak ditentukan oleh umur bangsa itu, kekayaan bangsa itu maupun kecerdasan penduduk bangsa itu. Kebesaran sebuah bangsa lebih ditentukan oleh komitmen bangsa itu dalam memegang dan melaksanakan kesepakatan bangsa tersebut.
Perbedaan boleh terjadi tetapi kebijakan harus tetap dari negara. Kebenaran yang diambil dari suatu kesepakatan kehidupan berbangsa harus kita kedepankan sebagai kebenaran yang tidak boleh kita langgar.

Bangsa ini sudah terlanjur memiliki kesepakatan untuk dilaksanakan dengan penuh komitmen. Kesepakatan bangsa Indonesia adalah Pancasila. Kita berkeyakinan bahwa jika bangsa ini beserta seluruh komponennya melaksanakan Pancasila dengan penuh komitmen sesuai peran masing-masing maka bangsa ini niscaya akan menjadi besar. Sehingga kita akan tahu mengapa bangsa ini terus terpuruk, hal ini tidak lain dan tidak bukan karena kita tidak penuh komitmen dalam melaksanakan kesepakatan bangsa ini.

6. Perbedaan Pandangan Hidup antar Bangsa merupakan Batas-Batas Toleransi
Setiap bangsa pasti memiliki pandagan hidup berbangsa yang berbeda-beda. Tidak semua pandangan hidup bangsa lain bisa diterima sebagai bagian cara hidup bangsa kita. Begitupun sebaliknya tidak semua pandangan hidup bangsa lain harus kita tolak untuk menjadi cara hidup bangsa kita.

Kita ambil contoh Presiden Amerika Bill Clinton pada tahun 1998 telah mengakui berzina, dan masyarakatnya tetap banyak yang memberikan dukungan, mungkinkah hal tersebut berlaku di Indonesia? Jika presiden Indonesia mengaku berzina, pasti akan dicopot oleh masyarakatnya. Di sinilah letak pentingnya batas-batas toleransi pada tiap-tiap bangsa. Setip bangsa memiliki batas-batas toleransi yang berbeda-beda. Hal ini ditentukan oleh kepridadian, pandangan hidup dan nilai-nilai luhur tiap-tiap bangsa.

Bangsa Indonesia telah memiliki konsesus atas nilai-nilai yang dianggap benar sehingga dengan kebenaran tersebut melahirkan semangat dan etikat untuk melaksanaannya dan nilai-nilai inilah yang dijdikan penuntun dalam bersikap dan bertingkah laku dalam berbangsa dan bernegara. Inilah arti dari pandangan hidup bangsa yang tidak lain tidak bukan adalah Pancasila. Di dalam Pancasila terkndung nilai-nilai yang mulia yang dijadikan pedoman atau batas-batas dalam bertingkah laku. Bahwa perbedaan itu pasti terjadi maka bentuk dari perbedaan itu harus dikur degan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila bukan diukur dengan alat ukur lainnya yang bukan bearasal dari nilai-nilai luhur bangsa.

Segala macam perbedaan yang berkeinginan untuk mengubah haluan negara yang berdasarkan Pancasila adalah sebuah perbedaan yang sudah keluar dari batas-batas toleransi. Demi tegaknya ketahanan negara maka perbedaan ini harus segera dibuang jauh dari Indonesia. Mengepa demikian? karena perbedaan ini akan memunculkan faham-faham yang selalu menyudutkan, menyalahkan dan menentang keberanekaragaman bangsa ini.

Indonesia sebagai bagian dari bangsa-bangsa di dunia ini tidak bisa terhindar dari pengaruh faham, ideologi dan keyakinan yang berkembang di dunia. Pegaruh-pengaruh faham, ideologi dan keyakinan itu harus diukur dengan alat ukur nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Dalam berhubungan dengan dunia internasional, perkembangan teknologi menjadi alat yang dominan untuk saling bertukar informasi. Perkembangan teknologi di era globalisasi di satu sisi membawa kuntungan tapi di sisi lain bisa mendatangkan bahaya bagi ketahanan bangsa jika tidak bijaksana dalam menerimanya.

Arus informasi yang semakin bebas membuat masyarakat sangat mudah menerima apapun informasi yang diingikan, terlepas itu informasi positif maupun negatif. Faham, ajaran, ideologi yang kadang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsapun semakin mudah meracuni jiwa masyarakat Indonesia. Fenomena yang terjadi saat ini sudah sampai batas yang sangat menghawatirkan. Dengan fenomena ini maka eksitensi negara sangat dipertaruhkan.
Negara Indonesia didirikan di atas perjuangan seluruh rakyat yang penuh kemajemukan. Oleh karena itu negara yang dibangunnya ini tentulah bukan diperuntukan oleh sebagian kelompok saja. Tidak ada istilah hegemoni mayoritas dan tirani minoritas di negeri ini. Seluruh rakyat apapun perbedaannya berhak dan wajib berpartisipasi dalam mengisi kemerdekaan ini dengan apapun posisinya. (*)

Penulis adalah: Sekretaris DPC Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia Kota Malang, Sekretaris Jendral Gerakan Pendidik Pancasila.