Urgensi Etika Komunikasi bagi Gen-Z di Era Media Sosial
OLEH : Wildan Yudha Maulana
Mahasiswa Ilmu komunikasi universitas annuqayah
_______________________________
OPINI – Di zaman sekarang, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Kemudahan akses, penyebaran informasi yang sangat cepat, serta kemudahan dalam berinteraksi jarak jauh juga menjadi faktor utama bagaimana generasi muda (Gen-Z) sangat menyukai produk digital seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan Twitter. Tidak heran jika Gen-Z sering dikatakan sebagai Generasi Net, atau Generasi Internet.
Akan tetapi, di balik romantisme media sosial tersebut, ada beberapa problem destruktif yang menjadi tantangan Gen-Z:
Pertama, informasi yang salah (Hoaks). Hal ini sangat berbahaya ketika mencari informasi, karena tujuan dari dibuatnya hoaks tersebut adalah untuk menutupi kebenaran, dan cenderung manipulatif. Dampaknya akan membuat Gen-Z mencerna informasi yang salah jika tidak dibarengi dengan pencarian kredibilitas informasi tersebut.
Kedua, kurangnya akuntabilitas. Banyak pengguna media sosial yang merasa bahwasannya data diri yang ada di media sosial itu dapat disembunyikan. Hal itu dapat menyebabkan menurunnya tanggung jawab mereka terhadap postingannya sendiri karena cenderung merasa bebas: ikut menyebarkan hoaks, berkomentar menggunakan kata-kata kasar, plagiarisme, dan bullying.
Dua hal tersebut sangat bertolakbelakang dengan prinsip etika deontoligis (Imanuel Kant) yang mengatakan bahwa bahwa kejujuran dan kewajiban moral adalah fondasi dari sebuah etika. Menurut Kant, jika hal tersebut tidak dilakukan, maka tidak hanya dampaknya yang destruktif, tapi juga etika yang mengalami dekadensi.
Hal ini juga selaras dengan Lasswell yang mengatakan bahwa pesan yang dikirim harus kredibel agar tercipta positive effect apabila pesan sudah diterima.
Apa bila di relevansikan dengan komunikasi digital, maka secara sederhana dapat kita katakan bahwa dalam proses penyebaran informasi, kebanaran atas informasi tersebut harus benar dan bisa dipertanggungjawabkan agar menciptakan lingkungan media sosial yang positif.
Maka perlu adanya solusi atas problem-problem tersebut:
Pertama, literasi digital. Gen-Z harus mempunyai kemampuan untuk memahami informasi, karena literasi digital mengajarkan Gen-Z untuk untuk memverifikasi dan memahami konteks dari suatu informasi. Tidak hanya itu, Gen-Z juga dituntut miliki kepekaan dalam mengidentifikasi mana konten yang baik dan mana yang tidak baik, serta tidak ikut menyebarluaskan berita palsu
Kedua, tanggung jawab digital
Gen-Z harus tahu cara menggunakan media sosial dengan bijak, serta tahu dampak penyalahgunaan media sosial tersebut. Maka, secara tidak langsung, hal itu juga menuntut mereka untuk tidak hanya berhati-hati dalam menyebarkan informasi, tetapi juga harus belajar menghargai bermacam perbedaan pendapat dan menghormati hak orang lain dalam berkomunikasi di media sosial.
Oleh karena itu, literasi digital dan tanggung jawab digital menjadi kunci utama dalam membangun perilaku komunikasi yang sehat di ruang digital. Gen-Z tidak hanya dituntut cakap secara teknologi, tetapi juga matang secara etis: mampu memverifikasi informasi, menyadari dampak dari setiap unggahan, serta menghargai orang lain dalam perbedaan.
Dengan demikian, penerapan etika komunikasi tidak hanya mencegah dampak destruktif media sosial, tetapi juga menciptakan ekosistem digital yang positif, bertanggung jawab, dan beradab.












