BATURAJA, Limadetik.com — Salah satu warga menemukan fosil yang Masih menjadi misteri dan tanda tanya bagi masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ulu, khususnya warga yang mendiami kawasan hutan Bukit Pelawi Desa Pusar Baturaja Barat, atas ditemukannya sebuah fosil yang telah mengeras menjadi batu, Selasa (28/8/2018).

Foto yang diduga fosil rahang naga ditemukan warga

Fosil yang diperkirakan telah berusia ribuan tahun ini masyarakat sekitar mengatakan sisa peninggalan hewan besar ribuan tahun lalu namun belum dapat di pastikan hewan jenis apa, dilihat dari fosil yang telah menjadi batu tersebut  diperkirakan sebuah gigi rahang hewan berukuran sekitar 18 cm dengan berat sekitar 2 Kilogram ditemukan diatas sebuah bukit yang konon tempat seekor naga yang sering berkunjung kesana untuk berjemur dan berkubang, yang kini disebut warga setempat “Kubangan Naga”.

Para awak media saat foto bersama kadis pariwisata dan budaya Kab.OKU

Menurut salah satu warga yang tinggal dan penemu fosil tersebut Raden Said Anwar  atau biasa di panggil Abah Panjul (63) Warga Tebing Pelawi, RT 5 (Lima) Kampung 4 (Empat) Desa Pusar, menceritakan, awal ditemukannya fosil tersebut saat dirinya sedang mendaki bukit yang adi kawasan Bukit Pelawi  atau disebut warga Bukit Kubangan Naga, secara tak sengaja dirinya pada saat itu menggali tanah yang bercampur air terpegang batu tersebut yang kemudian dibersihkan dan ternyata sebuah fosil.

“Saya tertarik dengan benda tersebut sehingga saya bawa pulang untuk sekedar disimpan, itu saya temukan sekitar lima tahun yang lalu atau di tahun 2013, barulah saat ini setelah bertemu dengan warga dan teman teman media mencoba mengungkap batu tersebut, dan sepertinya benar itu sebuah fosil diperkirakan salah satu rangka bagian di tubuh hewan” kata Abah Panjul.

Ia menambahkan, apakah bagian gigi geraham hewan atau bagian punggung hewan, “Yang pasti kalau ini milik salah satu hewan artinya dulu disini pernah ada hewan besar yang mendiami lokasi disini, dan kemungkinan ada sisa fosil lain yang berkaitan dengan ini,” ucapa Raden Said Anwar.

Setelah kedatangan teman – teman jurnalis yang kemudian membentuk Tim expedisi gabungan dari Media Online dan Cetak, Lanjut  Panjul, berencana akan terus mengungkap kembali apa yang telah ditemukan dari pertemuan pertama yaitu fosil dan akan kembali mengecek lokasi penemuan.

Sementara Pemerintah Kabupaten OKU dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Budaya menyambut baik akan dilakukannya ekspedisi lanjutan oleh Tim Media bersama dinas tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Faisol Ibrahim di dampingi Kabid Wisata budaya Hendri, mengatakan akan mendukung semaksimal mungkin terkait penemuan fosil oleh warga dan akan diteruskan ke ahli arkeologi Nasional Pusat (Arkenas) yang membidanginya.

“Kita siap dukung akan penemuan fosil ini, kemungkinan ini ada fosil lain yang belum di temukan, namun kita tidak bisa mengatakan kalau fosil ini dari jenis hewan apa, sebab itu yang bisa mengetahui ahlinya langsung, dan ini akan segera kita sampaikan ke Profesor Truman, mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat di jadwalkan kedatangannya, sebab jadwal beliau padat dengan kesibukannya selain menjadi dosen pengajar di beberapa Universitas,” jelas Faisol ibrahim.

Dia menyarankan, agar tindak lanjut dari rencana pencarian selanjutnya oleh tim expedisi agar menyampaikan laporan terlebih dahulu ke pihaknya dengan diketahui Kepala Desa setempat dan warga setempat, barulah laporan itu akan di kirim ke pusat sehingga dapat dilakukan penelitan lebih lanjut.

“Sama halnya penemuan di goa harimau dulunya berawal dari penemuan masyarakat berupa fosil, lalu dilakukan penggalian hingga menemukan fosil manusia yang tersimpan ribuan tahun di dalam gua tersebut, yang kini sedang mengumpulkan kembali fosil rangka manusia purba di masukan ke dalam museum yang saat ini sudah dibangun, sekarang menjadi penelitian tingkat  dunia bukan lagi kita yang meneliti, beberapa Negara lain telah terjun meneliti dan melihat langsung ke goa harimau” terangnya.

Untuk itu tambah Kadis Pariwisata dan Budaya, kita siap seratus persen mendukung dan memfasilitasi apa yang menjadi temuan warga ini, karena ini bisa menjadi salah satu penemuan baru di kawasan itu, apabila itu memang demikian artinya lokasi tersebut harus di jadikan cagar budaya. (fikry/yd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here