Opini

Zikir Saman di Desa Pasongsongan, Warisan Budaya Abad XVII: Surat Terbuka untuk Disparpora Kabupaten Sumenep

×

Zikir Saman di Desa Pasongsongan, Warisan Budaya Abad XVII: Surat Terbuka untuk Disparpora Kabupaten Sumenep

Sebarkan artikel ini
IMG 20200109 192414

Sumenep, 10 Januari 2020
Limadetik.comOpini: Yant Kaiy

Dari beberapa wawancara dengan para keturunan Syekh Ali Akbar yang saya lakukan, salah satunya dengan KH. Muhammad Mustofa Mukammal pengasuh Pondok Pesantren Al-Istikmal Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep, menerangkan kalau Zikir Saman adalah satu-satunya kebudayaan Islam paling awal ada di Pasongsongan. Bahkan disinyalir kalau kebudayaan Zikir Saman merupakan kebudayaan Islam pertama yang ada di wilayah Madura

Adalah putri Syekh Ali Akbar bernama Nyai Agung Madiya yang membawa Zikir Saman ke Desa/Kecamatan Pasongsongan. Pada abad XVII Nyai Agung Madiya dipercaya menjadi panglima perang dengan Raja Sumenep Bindara Saod. Nyai Agung Madiya dan pasukannya membantu Kerajaan Aceh Mengusir penjajah Belanda. Ia sukses menumpas penjajah. Pulang ke Sumenep membawa Zikir Saman.

Baca juga: Zikir Saman Khas Desa Pasongsongan

Kebudayaan baru itu sering dipertontonkan kepada khalayak ramai oleh Nyai Agung Madiya. Bahkan pada acara resmi dalam menyongsong/menyambut raja, Zikir Saman menjadi satu pertunjukan tetap.

Baca juga: Sejarah Pasongsongan, Lebih Dekat dengan Syekh Ali Akbar

Kekhawatiran akan punahnya Zikir Saman di Desa Pasongsongan menjadi catatan tersendiri bagi beberapa pihak, terlebih mereka yang nota bene adalah keturunan Syekh Ali Akbar. Sebab kaum muda masa kini cenderung lebih mengedepankan teknologi sebagai sebuah karya maha tinggi yang bisa mengakomodir kebutuhan manusia di dunia. Mereka seolah-olah terbuai kalau teknologi karya manusia di abad ini lebih dari segala-galanya. Padahal ilmu manusia itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan ilmu Allah.

Di tengah kekhawatiran itu pula, semestinya Pemkab Sumenep (dalam hal ini Disparpora) bisa mengakomodir persoalan ini. Sebab Zikir Saman sejatinya dimasukkan daftar sebagai kekayaan budaya lokal milik Kota Keris Sumenep sebelum kabupaten lain mencatutnya.

Sedangkan bagi para keturunan Syekh Ali Akbar tidak mau tahu tentang persoalan ini karena bukan bagiannya. Juga bukan tanggung jawabnya. Para keturunan tokoh ulama Syekh Ali Akbar hanya menjaga kebudayaan Zikir Saman itu tidak terkontaminasi nilai kesenian lain. Sehingga orisinalitas Zikir Saman tetap terjaga, tak lapuk dimakan jaman dan tak punah dilebur waktu.

Memang Zikir Saman dibawa Nyai Agung Madiya dari bumi Serambi Mekah Aceh. Dan Zikir Saman merupakan satu aliran tarekat, yakni Tarekat Sammaniyah. Namun ada beberapa pernik perbedaan dalam pelaksanaannya. Pelaksanaan Zikir Saman di Desa/Kecamatan Pasongsongan dilaksanakan dengan duduk. Para jemaah terus berzikir, sedangkan hadinya (pemimpin) melantunkan shalawat dan ayat-ayat yang mengagungkan Allah SWT.

Yant Kaiy adalah wartawan limadetik.com