Rakor P2P 2026: Dinkes Bondowoso Klaim DBD Terkendali, Kasus HIV Turun Hingga 50 Persen
LIMADETIK.COM, BONDOWOSO – Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso mencatat kemajuan signifikan pada Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang kini capaiannya sudah 38 persen dari target 46 persen. Dari hasil pemeriksaan, temuan kasus didominasi penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan kolesterol tinggi.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, dr. Moch Jasin dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Tahun 2026, Rabu (16/9/2026).
“Sebelum kita bergerak, capaian CKG berada di angka 20 persen. Sekarang sudah mencapai 38 persen dari target total 46 persen. Tinggal sekitar 8 persen lagi dan kami optimistis hingga Desember target tersebut bisa tercapai,” kata dr. Moch Jasin pada Limadetik.com.
Ia menjelaskan, capaian itu didapat setelah pihaknya melakukan pelayanan jemput bola di luar fasilitas kesehatan. Menurutnya, strategi tersebut efektif meningkatkan partisipasi masyarakat dan memungkinkan intervensi dini agar penyakit tidak berkembang menjadi stroke dan jantung.
Selain penyakit tidak menular, pengendalian penyakit menular juga menunjukkan tren positif. Kasus demam berdarah tahun ini lebih terkendali dibanding tahun lalu. Leptospirosis yang tahun lalu menjadi perhatian, hingga kini hanya tercatat 7 kasus. Kasus HIV juga turun signifikan dari lebih dari 150 kasus tahun lalu, menjadi 69 kasus hingga Agustus 2026.
Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah yang menjadi fokus Rakor P2P, yakni peningkatan cakupan imunisasi, TB, dan surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).
“Imunisasi telah melalui proses penelitian yang panjang. Kalau ada demam setelah imunisasi, itu merupakan reaksi yang umum terjadi dan tenaga kesehatan juga sudah menyiapkan langkah penanganannya,” tegas dr. Moch Jasin.
Sebelumnya, kegiatan Rakor P2P 2026 dibuka oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Bondowoso, Solikin yang mewakili Sekretaris Daerah. Dalam sambutannya, Solikin menegaskan bahwa Bidang P2P memiliki peran strategis karena mengampu enam dari dua belas Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, meliputi pelayanan bagi terduga TB, penderita HIV, ODGJ, diabetes melitus, hipertensi, serta usia produktif.
Ia juga mengingatkan masih adanya tantangan berupa penolakan masyarakat terhadap beberapa program kesehatan.
“Kalau kita cermati, salah satu kendala yang masih dihadapi adalah adanya penolakan dari sebagian masyarakat terhadap beberapa program kesehatan. Karena itu, dibutuhkan kerja sama lintas program dan lintas sektor untuk menyelesaikannya,” ujar Solikin.
Rakor P2P 2026 sendiri digelar untuk mengevaluasi capaian program dan menyusun strategi menghadapi tantangan kesehatan masyarakat dalam upaya mewujudkan Bondowoso yang tangguh, unggul, berdaya saing global, dan berbudaya dalam bingkai keimanan dan ketakwaan.
“Pencegahan tetap lebih baik daripada pengobatan. Mungkin manfaatnya tidak langsung dirasakan, tetapi dalam jangka panjang akan sangat berdampak terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat Bondowoso,” pungkas dr. Moch Jasin.
Penulis : Budhi
Editor : Wahyu








