Batik Sumenep Tampil Elegan, Pemkab Jadikan Fashion Show sebagai Gerakan Lestarikan Budaya dan Dongkrak UMKM
LIMADETIK.COM, SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terus menguatkan upaya pelestarian budaya lokal melalui pendekatan yang kreatif dan dekat dengan masyarakat. Salah satunya dengan menggelar Lomba Fashion Sunday Batik on the Street 2026, yang menjadikan jalanan pusat kota sebagai panggung terbuka untuk menampilkan kekayaan batik khas Sumenep, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 70 peserta dari kategori anak-anak hingga dewasa itu tidak sekadar menjadi ajang peragaan busana. Lebih dari itu, acara tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pelestarian budaya, pengembangan ekonomi kreatif, promosi pariwisata, dan pemberdayaan pelaku UMKM batik lokal.
Ragam motif batik khas Sumenep yang dikenakan para peserta menarik perhatian masyarakat yang memadati lokasi kegiatan. Setiap penampilan menjadi representasi kecintaan terhadap warisan budaya sekaligus menunjukkan bahwa batik tetap memiliki daya tarik di tengah perkembangan tren fesyen modern.
Bupati Sumenep Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo melalui Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Setdakab Sumenep, Hizbul Wathan, SH., MH., mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi agenda tahunan yang mampu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menarik minat wisatawan.
“Sunday Batik on the Street bukan sekadar lomba fashion. Ini adalah gerakan budaya untuk menjaga identitas daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan batik Sumenep kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.
Menurut Hizbul, batik Sumenep tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan sejarah, filosofi, dan kearifan lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat Madura.
Karena itu, ia menegaskan, pelestarian batik merupakan tanggung jawab bersama agar warisan budaya tersebut terus hidup dan dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional.
“Batik adalah identitas dan kebanggaan masyarakat Sumenep. Di setiap motif tersimpan cerita dan nilai luhur yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Ia menambahkan, konsep Batik on the Street sengaja dihadirkan untuk mendekatkan batik kepada masyarakat. Jalanan dijadikan ruang ekspresi bagi para perajin, desainer, pelaku UMKM, hingga generasi muda untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisi.
“Kami ingin generasi muda bangga mengenakan batik lokal. Ketika masyarakat membeli dan memakai batik karya pengrajin Sumenep, sesungguhnya mereka juga ikut menggerakkan perekonomian daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Faizah Karamatun menjelaskan, penyelenggaraan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen memperluas promosi batik khas Sumenep sekaligus meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap produk lokal.
Ia mengungkapkan, khusus kategori dewasa, seluruh peserta yang berasal dari Tim Penggerak PKK dan Puskesmas se-Kabupaten Sumenep diwajibkan mengenakan batik produksi UMKM lokal sebagai bentuk dukungan nyata terhadap para perajin daerah.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Sumenep berharap batik tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi kreatif yang memperkuat daya saing daerah serta menjadikan Sumenep sebagai salah satu destinasi unggulan wisata budaya di Jawa Timur.
Penulis : Wahyu
Editor : Wandi






