Cerpen

CERPEN: Kertas Kosong

×

CERPEN: Kertas Kosong

Sebarkan artikel ini
IMG 20200617 214305
Ilustrasi foto

Oleh: Herdayanti

Banyak hal yang tidak pernah ku ketahui di dalam hidup ini, anggap saja namaku susan. Aku adalah anak yang paling bodoh dari sekian banyak saudaraku. Aku sering kali mencari apa yang belum kutemui.

Menurutku banyak hal yang bisa ku ambil dan ku cari dari sekian banyak masalah yang hadir tapi, ternyata keegoisanku membuatku bodoh sendiri, kebingungan, dan tak tentu arah, dan berdiam diri memikirkan langkah apa yang akan ku ambil selanjutnya.

Di tengah jalan terdengar oleh ku suara hempasan angin seakan menerbangkan sebuah kertas untuk seseorang, bodohnya aku secara tidak sengaja aku mengikuti arah angin tersebut, namun tak nampak olehku sesuatu, aku bingung apakah aku hanya penasaran saja atau bahkan aku sudah gila. Sama seperti apa yang dikatakan oleh saudara-saudaraku yang lain. “ Tapi apakah itu mungkin..? “ tanyaku didalam hati.

Arah kaki kemudian mengajakku kembali ke rumah dan melihat arah jarum jam yang ada di lenganku, aku makin tak tentu arah, dengan siapa dan di mana aku terlatih. Sekian hari dan sekian banyak masalah yang telah hadir selalu tertuang didalam kertas yang senantiasa berjaga di atas meja didalam kamar ku, kertas itu pun seakan penuh dibanjiri dengan masalah dan keseharianku.

Di sepertiga malam aku kembali terbangun dan terlihat olehku 2 lembar kertas kosong yang mengajakku untuk menulis di atasnya kembali dengan apa yang telah terjadi pada siang hari yang belum kutuangkan di dalamnya. Aku ragu dan bimbang, “ jika ku tuangkan kejadian tadi di dalam selembar kertas yang tersisa, apakah aku bisa menuangkan kembali di sisa satu kertas lagi…? “ ujarku menatap buku dan pena kecil itu.

Ragu dan tanya membanjiri pikiran ku yang penat. Jujur saja aku tidak sanggup jika kertas yang menopang keseharian dan masalahku pupus. “ aku butuh kertas lagi untuk menulis kembali keseharianku, namun aku ingin kertas kosong itu menjadi akhir dari keseharian dan masalahku..” lirihku membaringkan tubuhku.

“Aku sangat pusing dengan 2 kertas kosong yang berada dihadapanku, apakah ke dua kertas tersebut akan tetap kosong atau bahkan menampung keseharianku juga “ tanyaku kembali.

Semua saudaraku menganggapku bodoh dengan terlalu berfikir panjang untuk sebuah kertas kosong itu. Tapi mau bagaimana lagi, sampai-sampai aku mengingat salah satu nasihat dari saudara laki-laki ku, ujarnya seperti ini “ jika kamu belum siap untuk kedua kertas kosong tersebut, maka ikutilah kata hatimu, karena kata hatimu adalah penentu bagi dirimu sendiri “ jika aku teringat kembali dengan kata-kata itu ternyata aku mulai sedikit menentukan apa yang harus ku ambil. Tapi, aku ragu karena kedua kertas kosong tersebut terus menangis dan ingin aku menulis kembali di atasnya.

Permasalahan ini terlalu rumit bagiku, mungkin aku terlalu bodoh dengan apa yang ada di hadapanku atau mungkin aku telah terkecoh dengan adanya dua buah lembar kertas kosong itu. Aku pun kembali membaringkan badanku di kedua sofa yang berada tepat di ruang tamu rumah kami, dan tidak lama kemudian salah satu dari saudara perempuanku menemuiku dan meminta pendapat dariku, padahal aku sendiri butuh pendapat yang pasti tentang permasalahan ku yang bisa dibilang tidak perlu untuk di permasalahkan dalam waktu yang cukup panjang.

Tapi, “ aku kan belum menemukan solusi untuk masalahku sendiri, masa iyya aku mau memberi nasihat atau pendapatku dengan kakak ku yang bijak ini..” timpal ku didalam hati.

Aku pun kemudian menghindar dan kembali masuk kedalam kamarku memandangi kertas kosong tersebut, dengan sedikit lamunan aku merasa ada bayangan, mungkin aku sudah menemukan jawaban ku. “ hemm… bagaimana kalau aku menggabungkan keseharianku di dalam 1 lembar kertas kosong tersebut dan 1 lembarnya lagi aku simpan untuk diakhir permasalahan atau keseharianku…” ujarku dengan senyuman.

Dari sedikit banyak waktu yang aku punya, aku sedikit terkecoh, padahal bayangan tersebut sudah ada namun tak pernah aku sadari, “ apa mungkin karena aku terlalu bodoh “ ujarku kembali.

Mungkin memang nasib kertas tersebut untuk aku kosongkan sampai pada waktunya tiba, kemudian aku pun merangkum keseharianku di dalam selembar kertas kosong dari dua kertas kosong yang tersisa, cukup rumit namun tak jadi masalah bagiku. Kini kertas kosong tersebut tersisa satu lembar dan akan menjadi penentu diawal dan akhir keseharianku.