Scroll Untuk Membaca Artikel
Nasional

PUISI: Jemari Ibu

×

PUISI: Jemari Ibu

Sebarkan artikel ini
PUISI: Jemari Ibu
FOTO: Ilustrasi ibu dan anak

Oleh: Herdayanti

Terusik kembali. Bongkahan demi bongkahan yang berbaris rapi.
Terekam tanpa usai.
Lelah tanpa menggonggong.
Meredup tanpa menyaring.

GESER KE ATAS
SPACE IKLAN

Pagar-pagar yang berbaris kala itu mengoceh dirinya saksi.
Dikala tubuhku diayunkan perlahan.
Bercengkrama menyinggung harapan.
Menjatuhkan tetes demi tetes goresan padi.

Jika kumenatap jemari dalam potret lamunan.
Mata seakan membangunkan hasrat.
Melukis jemari yang kian memberiku beban.
Lantaran hari laksana mengkerut.

Untukmu jemari ibu.
Tertuang tanpa isyarat kalbu.
Memberontak mengumandangkan Tangis dan do’a.

× How can I help you?