Nasional

Ali Yusuf : PRB Adalah Investasi Dalam Proses Pembangunan

×

Ali Yusuf : PRB Adalah Investasi Dalam Proses Pembangunan

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Image 2019 10 12 at 16.11.26

JAKARTA, limadetik.com — Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang diperingati secara internasional pada tanggal 13 Oktober setiap tahunnya, berlangsung sejak tahun 1989, hal tersebut merupakan momen sekaligus upaya untuk mempromosikan budaya global tentang kesadaran akan risiko yang akan menimpa masyarakat saat terjadi bencana.

Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) M Ali Yusuf menyampaikan harapannya agar perhelatan tersebut tidak hanya sekedar ritual rutin yang bersifat seremoni belaka, akan tetapi sebagai upaya kesadaran untuk pengurangan risiko bencana.

Menurutnya PRB harus terus didengungkan melalui berbagai cara, karena hingga saat ini masih banyak pihak yang beranggapan bahwa upaya dan kegiatan PRB adalah kegiatan sia-sia, buang anggaran dan bahkan hanya menjadi penghambat pembangunan.

“Masih banyak pihak yang belum memiliki anggapan bahwa PRB harus diintegrasikan dalam rencana pembangunan, padahal PRB adalah sebuah investasi dalam proses pembangunan. Karena jika PRB diacuhkan, akibatnya proses dan hasil pembangunan dapat seketika hancur terdampak bencana dan proses pembangunan harus dimulai lagi dari nol,” kata Ali Yusuf, Sabtu (12/10/2019).

Sebagaimana diketahui bersama bahwa Indonesia merupakan kawasan rawan bencana, hampir semua daerah di Indonesia memiliki kemungkinan untuk terdampak bencana. Sehingga dalam menghadapi situasi tersebut, seluruh komponen bangsa Indonesia tidak bisa hanya menunggu dan bergerak menangani dampak setelah bencana terjadi, tetapi harus melakukan upaya untuk mengurangi risiko bencana secara sungguh-sungguh, sistematis, dan terukur berdasarkan kajian risiko bencana yang disusun secara partisipatif oleh stakeholder (pemerintah, masyarakat dan lembaga usaha).

“Oleh karena itu, LPBI NU berharap Peringatan Bulan PRB tidak sekedar ritual rutin yang bersifat seremoni belaka, hanya hingar bingar sesaat, hanya berisi diskusi tanpa tindak lanjut sehingga tidak menghasilkan capaian-capaian sebagaimana maksud dan tujuan awal diadakannya event tersebut,” ujarnya. (LD/NU Online)