Anggota Tim PPKD Sumenep Minta Pemerintah Memasukkan Karapan Kerbau di Pulau Kangean dalam Event 2025
LIMADETIK.COM, SUMENEP – Kabupaten Sumenep, Jawa Timur memiliki banyak kebudayaan, salah satunya karapan kerbau yang hanya ada di Kepulauan Kangean. Namun sejauh ini, salah satu kebudayaan itu masih belum tersentuh secara langsung oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep.
Salah satu warga Kepulauan Kangean, Hairullah menyampaikan, bahwa sejauh ini kegiatan karapan kerbau di Arjasa masih belum tersentuh secara langsung oleh tangan tangan Pemerintah Kabupaten Sumenep, sebagai upaya untuk terus menjaga dan melestarikan kebudayaan masyarakat lokal.
“Kami sudah menyampaikan ini kepada pemerintah daerah yakni Disbudporapar Sumenep, kendati sifatnya secara lisan. Namun saya fikir harusnya bisa difahami dan ditanggapi secara serius, sebab ini kan persoalan budaya atau tradisi yang harus terus dijaga karena adanya memang di Pulau Kangean” katanya, Selasa (10/9/2024).
Pernyataan warga Kepulauan Kangean ini pun mendapat respon dan dukungan dari salah satu anggota tim Perumus Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Sumenep, sekaligus budayawan H. Ibu Hajar. Ia menyebutkan sangat mendukung jika Pemkab Sumenep mengambil langkah yang pasti untuk mempertahankan kebudayaan masyarakat pulau Kangean.
“Karapan kerbau yang ada di Kepuluan Kangean ini memang merupakan tradisi atau kebudayaan yang perlu dilestarikan. Sebab saya melihat ini menang kebudataan yang sangat unik, jadi saya sebagai anggota tim PPKD Sumenep mendukung untuk dilestarikan” kata Ibnu Hajar.
Dirinya lanjut Ibnu uniknya karapan kerbau di pulau kangean ini berbeda dengan karapan sapi yang biasa dilihat masyarakat daratan Sumenep. Dari uniknya inilah ada banyak nilai budaya yang memang perlu dilesrarikan.
“Kalau kita menyaksikan karapan sapi joki atau yang ngerap ini ada pas dibelakang sapinya. Tapi karapan kerbau ini beda, joki nya justru memandu dengan menaiki kuda, ini bagi saya sangat langka dan unik” ungkapnya.
Budayawan yang ngetrand dengan sejumlah sajak atau puisi-puisinya ini juga menyebutkan, bahwa apa yang dimiliki masyarakat kepulauan kangean yakni karapan kerbau merupakan kekayaan hasanah budaya yang harus terus dijaga dan dirawat.
Itu karenanya, penting pemerintah mengambil langkah, baik dengan melakukan lomba atau event kepulauan yang tidak menutup kemungkinan menjadi bagian dari pendorong dan pembangkit ekonomi masyarakat.
“Saya rasa kalau ini dijadikan event atau dilombakan, saya rasa tidak hanya akan bernilai edukasi. Tapi juga bisa menopang ekonomi masyarakat setempat, bahkan ini nisa jadi menarik perhatian masyarakat daratan akan berbondong-bondong untuk menyaksikan. Saya berharap tahun 2025 bisa masuk dalam kalender event” pungkasnya.