https://limadetik.com/

Catatan Budaya Yant Kaiy (Bagian I dari 2 Tulisan): Peluncuran Buku Puisi “Fragmen Bulan Hijau” Karya En. Hidayat

  • Bagikan
IMG 20191216 WA0100
Para Budayawan dan Sastrawan Madura di peluncuran buku antologi puisi almarhum En.Hidayat

SUMENEP, limadetik.com — Perjalanan dari Pasongsongan ke Sumenep memakan waktu hampir satu jam dengan sepeda motor. Saya menuju kediaman Kakak S. Yohana di Desa Paberasan, sebelum menghadiri undangan peluncuran antologi puisi karya almarhum En. Hidayat. Setelah mandi, sholat isya’, dan makan malam saya langsung menuju lokasi. Sabtu (14/12/2019).

Bertempat di Pusdiklat Lantai II Kantor PCNU Sumenep di Jl. Raya Trunojoyo 295 Gedungan Sumenep, perhelatan yang digagas Syaf Anton Wr. menghadirkan D. Zawawi Imron dalam ceramah sastra. Sedangkan yang mengapresiasi peluncuran buku puisi En. Hidayat adalah M. Faizi, A.Dardiri Zubairi, Syaf Anton Wr. dan beberapa penyair, sastrawan, dan budayawan Kota Keris Sumenep.

https://limadetik.com/

Perhelatan ini sebenarnya lebih mengedepankan pada acara doa bersama, memperingati 100 hari wafat almarhum En. Hidayat. Kemasan acara tidak akan seru tanpa memperbincangkan kajian kepenyairannya, latar belakang, dan sepak terjang En. Hidayat di dunia sastra tanah air. Pihak keluarga almarhum juga dihadirkan (diwakili kakaknya), menceritakan kalau dirinya tidak tahu almarhum ternyata seorang penyair.

IMG 20191216 WA0098
Budayawan Madura D.Zawawi Imron (tengah) bersama Yant Kaiy dari limadetik.com (kanan)

Pernyataan yang sama diungkapkan oleh M. Faizi, selama ia berteman dengan En. Hidayat, tak pernah mereka terlibat pembicaraan serius tentang sastra. M. Faizi tak mengira kalau almarhum mempunyai bakat dalam menulis puisi.

Sementara itu, D. Zawawi Imron yang kita kenal dengan sebutan penyair “Si Celurit Emas” dalam ceramah sastranya hanya di mukadimah menyebut nama En. Hidayat. Selebihnya beliau lebih banyak membahas tema budaya Madura dengan perbandingan budaya Bugis.

Dalam budaya Madura ada kalimat: “Abantal ombak asapo’ angin, alako berre’ apello koneng.” Arti kongkrit dalam kalimat ini, manusia dilahirkan ke dunia harus berikhtiar untuk merubah dirinya ke arah yang lebih baik. Ikhtiar merupakan perintah wajib dalam Islam, sukses dan tidaknya bergantung pada ketetapan-Nya.

Sedangkan dalam budaya Bugis ada kalimat: “Kalau layar sudah kukembangkan, kemudi erat kupegang, walaupun perahu akan tenggelam, pantang aku surut kembali.” Filosofi Bugis ini menurut D. Zawawi Imron hampir sama dengan Filosofi Madura.

Acara selesai hampir pukul 10.00 WIB. Saya pulang tiba di rumah jam 01.30 WIB karena masih melepas kangen dengan beberapa teman penyair. Karena acara seperti ini jarang sekali digelar di Sumenep.

Adalah Syaf Anton Wr. pencetus pagelaran budaya ini bekerjasama dengan Rumah Literasi sebagai penerbit kumpulan puisi En. Hidayat, dan Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) Sumenep pendukungnya. Para pekerja seni sangat berharap agar acara yang sama bisa lebih sering digelar pada 2020 nanti. Semoga! (Yant Kaiy/yd)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan