Catatan Yant Kaiy: Festival Nelayan “Rokat Tasek” Pasongsongan

IMG 20191125 WA0060
Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi saat membrikan sambuntan dalam acara festival nelayan pasongsongan (foto: Yant Kaiy)

SUMENEP, limadetik.com — Pada malam hari habis sholat isya’, Sabtu (23/11/2019), saya ke pelabuhan Pasongsongan seorang diri. Jarak rumah saya ke pelabuhan sekitar 4 km. Jalan dari rumah saya ke pelabuhan rusak berat. Suasana jalan yang gelap dengan kanan-kiri hamparan jurang bekas tambang batu putih untuk rumah. Tidak ada bangunan rumah sepanjang jalan 2,5 km tersebut.

Ada kabar dari teman saya Alimurrahman, salah seorang pegawai di UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Pasongsongan, bahwa malam itu akan digelar acara Khotmil Qur’an sebagai rangkaian acara Festival Nelayan. Tanpa babibu lagi saya meluncur ke lokasi. Ternyata benar, acara sudah dimulai. Alimurrahman tampak sibuk beramah-tamah dengan beberapa pemuka agama Pasongsongan. Saya pun jaga jarak, karena saya tamu tak diundang.

IMG 20191125 154946
Hairul Anwar ST.MT, Ketua Kadin dan Ketua Perssu Sumenep terbidik kamera Wartawan limadetik.com saat berada di acara festival nelayan (foto: Yant Kaiy)

Di tengah lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, beberapa perahu nelayan yang dihias lampu warna-warni itu bergerak di pinggir dermaga. Terlihat indah dan mengesankan karena aksesories warna cerah memantulkan cahaya. Kesan artistiknya begitu mempesona, membuat mata tidak berkedip melihatnya. Kagum terhadap kreatifitas mereka. Ya, mereka ternyata punya nilai seni yang luar biasa untuk ukuran seorang nelayan.

Desa Pasongsongan terkenal sebagai pembuat perahu tradisional. Umumnya, di beberapa wilayah pantura Pulau Madura kalau mau bikin perahu pesan sama tukang perahu yang ada di Pasongsongan. Saya sempat berbincang dengan arsitek perahu Pasongsongan, Suharto namanya. Kebetulan malam itu hadir diacara Khotmil Qur’an. Menurut dia, untuk membikin satu perahu membutuhkan waktu lama dengan biaya ratusan juta rupiah. Maklum karena perahu itu terbuat dari kayu jati. Dia menunjukkan sama saya perahu yang masih belum selesai, yakni ada di sisi sebelah timur dermaga Pasongsongan.

Jam 21.15 WIB saya pun pulang dari pelabuhan. Saya harus buru-buru pulang karena rumah saya berada di Dusun Sempong Barat, Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Ke arah selatan dari pelabuhan. Orang bilang, saya penakut. Dan saya mengakuinya. Sampai di rumah saya menulis berita untuk limadetik.com. Berita baru di publikasikan sekitar jam 00.07 WIB. Saya puas karena redaksi limadetik.com cukup respek ketika saya mengirim artikel langsung diedit, kendati saya hanya sebagai kontributor.

Cukup pagi ketika saya membuka smartphone, ada WA dari Syaf Anton Wr (budayawan Madura asal Sumenep). Beliau akan datang ke pagelaran budaya dan tradisi “Rokat Tasek” Pasongsongan. Saya mencoba menghubungi beliau via WA tapi tak ada respon, terpaksa saya menelponnya. Ternyata sudah ada di lokasi. Setelah foto sana-sini saya baru menjumpainya. Setelah berjabatan tangan saya turun dari panggung, karena saya tidak memiliki undangan.

Ketika Wakil Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi datang bersama pejabat penting lainnya, ia  disambut dengan beberapa tarian anak kecil yang diiringi musik saronen. Beliau dikalungi bunga melewati  jalan berkarpet. Sejenak ia memperhatikan beberapa stan masakan hasil olahan ikan. Setelah itu beliau menuju tempat yang telah disediakan pihak panitia.

IMG 20191125 154926
Kepala Desa Pasongsongan terpilih Ahmad Saleh Harianto sempatkan diri berfoto bersama Wabup Achmad Fauzi (foto: Yant Kaiy)

Sejurus kemudian, Wakil Bupati Sumenep memberikan kata sambutan. Dalam pidatonya beliau menekankan pentingnya mempertahankan warisan tradisi “Rokat Tasek”. Beliau juga mengupas ilustrasi Kabupaten Sumenep, mulai luas wilayah, keberadaan pulau yang dimiliki Kabupaten Sumenep hingga garis pantainya.

Setelah pembacaan doa sebagai akhir acara seremonial itu, lalu dilanjutkan dengan pagelaran tari kolosal. Mulai dari Saronen, Sandur, tari topeng Madura, yang dilanjutkan dengan larung benih ikan laut. Dengan menaiki perahu hias, Wakil Bupati Sumenep dan rombongan secara simbolik melepaskan ikan-ikan kecil itu ke tengah laut. Sempat saya melihat Kepala Desa Pasongsongan terpilih Ahmad Saleh Harianto ikut dalam larung ikan itu.

Tepat jam 12.00 WIB saya pulang untuk sholat dhuhur yang dilanjutkan makan siang. Satu jam kemudian saya meluncur lagi ke pelabuhan Pasongsongan. Tujuan saya kembali yaitu untuk mengikuti Dialog Budaya. Tiba di lokasi saya tidak bisa masuk karena saya tidak memiliki undangan. Syaf Anton Wr. dengan lambaian tangannya memanggil saya. Malu dong, batin saya bilang begitu. Saya tidak menghiraukannya. Saya harus tahu diri. Saya duduk seorang diri tidak jauh dari tempat acara itu.

Pagelaran budaya apa pun tidak lengkap rasanya kalau tidak ada dialog budaya di dalamnya. Sengaja pihak panitia Festival Nelayan di Pasongsongan menghadirkan budayawan Sumenep, yaitu Syaf Anton Wr. Juga ada pemateri lain dari Kadisparpora Drs. Carto, MM dan Direktur Pembinaan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Kemendikbud Dra. Christriyati Ariani, M.Hum.

Bertempat di salah satu bangunan di UPT. Pelabuhan Perikanan Pantai Pasongsongan gelar dialog budaya berlangsung. Para pemerhati, pengamat, dan pekerja seni budaya berkumpul dengan santai di ruang terbuka itu. Tidak ketinggalan beberapa rekan pers juga turut ambil bagian.

Saya sempat mencatat beberapa  isi penting dari acara Dialog Budaya itu. Syaf Anton memaparkan tentang terkikisnya budaya luhur akibat gadget. Sedangkan dari Kemendikbud menyajikan istilah Rokat Tasek dan penjelasannya. Dan Kadisparpora Sumenep mengetengahkan tentang seni tradisi Kabupaten Sumenep yang tidak mendapat legitimasi formal dari pemerintah pusat. Salah satu faktor karena tidak adanya literasi yang bisa memperkuat kalau kesenian ini dan itu adalah milik Kabupaten Sumenep.

Syaf Anton Wr. menyanggah dengan tegas, sebenarnya di Pasongsongan ada penulis yang dengan gigih mau mengungkap tentang sejarah Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin kendati ia tidak menemukan satu literatur yang bisa dijadikan pijakan untuk penulisan sejarah itu sendiri. Dia adalah Yant Kaiy (nama saya disebut dengan Syaf Anton Wr.). Kalau memang Kadisparpora mau membuat buku, itu kan sangat mudah sekali. Cukup dengan biaya Rp 10juta, untuk biaya buku setebal 150 halaman, tukas Anton.

Dalam batin saya bilang, ternyata banyak orang yang menginginkan kesenian ini dan itu menjadi milik daerahnya. Tapi mereka enggan untuk merogoh dana untuk tujuan mulia demi anak cucunya. Kasihan!.

Sebelum pulang dari Dialog Budaya sebagai rangkaian program Festival Nelayan, saya sempat berjumpa dengan owner Madura Energy, Hairul Anwar. Beliau dengan keluarganya melihat suasana pelabuhan Pasongsongan dan menyaksikan perahu hias tradisional yang masih bersandar di sisi dermaga. Refresing, pikir saya. Saya berjabat tangan dengan beliau dan tanya ini-itu.

 

Penulis: Yant Kaiy

editor: yd

Tinggalkan Balasan