https://limadetik.com/

Covid-19 dan Ujian Kebijaksanaan Kita

  • Bagikan
IMG 20200406 092501

Sumenep, 6 April 2020

Limadetik.com – Oleh : Ali Wafa

https://limadetik.com/

(Pegiat Sosial Politik dan Penyuka Musik)

Dalam waktu yang sebentar, Corona Virus Disease (Covid-19) yang bermula dari Wuhan, China, kini sudah melanda negara-negara di dunia. Indonesia sendiri – yang agak terlambat siaga – saat ini dibuat kelimpungan dengan kehadiran wabah yang oleh WHO ditetapkan sebagai pandemi ini.

Setiap hari, orang-orang yang terinfeksi wabah ini terus bertambah. Daftar terbaru (23 Maret 2020), jumlah positif Covid-19 di Indonesia mencapai 579, 49 meninggal, dan 30 sembuh. Angka ini – terutama bila membandingkan jumlah yang meninggal dengan yang sembuh – wajar apabila menimbulkan kepanikan kolektif di masyarakat.

Tetapi persoalan yang ikut memperkeruh suasana di tengah wabah ini adalah masih banyaknya perilaku ‘Covidiot’. Istilah ini menjadi terkenal akhir-akhir ini. Kita boleh menyebutnya sebagai kebodohan jenis baru di tengah Covid-19

Kebodohan Jenis Baru: ‘Covidiot’.

Ada dua pengertian yang dikandung oleh istilah ini. Pertama, Covidiot merujuk pada orang-orang yang bebal, yang keras kepala, dengan mengabaikan himbauan ‘social distance’ (jarak sosial) sehingga mengakibatkan penyebaran Covid-19.

Covidiot jenis ini terlalu menganggap remeh wabah Covid-19. Penjelasan dari otoritas kesehatan yang bersandarkan pada penjelasan ilmiah kadang tak mempan untuk membuatnya mengikuti himbauan social distance. Kerap kali Covidiot berlindung di balik alasan-alasan yang terdengar relijius dengan dalih kematian merupakan ketentuan yang kuasa.

Padahal dijelaskan bahwa Covid-19 bisa menginfeksi siapa pun. Seseorang yang tubuhnya imun sekali pun tetap bisa terinfeksi virus dan bisa menjadi “carrier” atau “spreader”, yakni tumpangan bagi virus untuk membawa, menyebarkan dan menularkan kepada orang lain. Korban potensial dari Covid-19 adalah orang lansia, anak-anak dan bayi, orang yang punya riwayat penyakit asma, dan berbagai komplikasi penyakit – yang oleh pihak medis digolongkan sebagai “risiko tinggi”.

Kedua, Covidiot adalah orang-orang yang bebal yang menimbun belanjaan, menyebarkan ketakutan yang tidak perlu, dan merampas persediaan penting lainnya. Jenis ini juga tak kalah parah. Jika Covidiot – dalam pengertian pertama – kebebalannya bersumber dari sikap dan tindakannya yang terlampau meremehkan Covid-19, Covidiot yang kedua bisa dibaca bahwa kebebalannya berasal dari terlampau berlebihan menyikapi wabah. Akibatnya mereka melakukan penimbunan belanjaan baik untuk dikonsumsi sendiri dan yang lebih parah untuk dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Untuk kasus yang terakhir, kita sepakat bahwa mereka bertindak kriminal.

Apapun jenis kebebalan atau “kengeyelan” dari Covidiot di atas,  kedua-duanya merugikan orang lain. Ungkapan Ricky Gervais (twitter, 27 April 2014) dan Ivan Lanin (22 Maret 2020) begitu jelas dan pedas: “When you are dead, you do not know you are dead. It is only painful for others. The same applies when you are stupid” (Orang mati tidak merasakan kematiannya. Orang lainlah yang merasakan sakit atau sedih atas kematian orang itu. Demikian juga halnya dengan orang bodoh dan kebodohannya)

Menjaga Pola Hidup Sehat

Sikap paling baik dalam situasi saat ini adalah keseimbangan dalam memahami Covid-19. Di satu sisi, Covid-19 adalah jenis virus yang tingkat penyebarannya tinggi. Tetapi harus juga dipahami bahwa virus ini bisa dikalahkan dengan cara kita menerapkan pola hidup sehat agar imun tubuh kuat menghadapi virus. Bukti-bukti pasien Covid-19 yang akhirnya sembuh – terbebas dari Covid-19 – membuktikan bahwa mereka memiliki imun tubuh yang baik sehingga mampu mengalahkan virus.

Hingga saat ini, pemerintah pusat hingga daerah sedang melakukan berbagai upaya pencegahan Covid-19 melalui himbauan kepada seluruh warga masyarakat agar mempraktikkan social distance (demi meminimalisir penyebarannya), himbauan pola hidup sehat dengan cuci tangan dan hingga pembentukan gugus tugas pencegahan Covid-19. Pemerintah juga sedang mengupayakan test massal. Tetapi semua ini hanya bisa efektif apabila didukung oleh kesadaran dan kebijaksanaan dari masyarakat secara umum, yakni kita semua.

Kesadaran dan kebijaksanaan kita setidaknya bisa dipraktikkan dalam sikap atau tindakan mencermati dan mengikuti himbauan dari otoritas kesehatan dan pemerintah, berpedoman pada penjelasan ilmiah, tetap rendah diri dan menurunkan ego demi kebaikan bersama, dan tetap berdoa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan