oleh

Di tengah Ancaman Demo, Rupiah Kembali Bertengger pada Angka Rp.14.685

JAKARTA, Limadetik.com – Di tengah ancaman demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja, nampaknya nilai tukar rupiah masih bertengger di level Rp14.685 per dolar AS pada Selasa (20/10/2020) pagi. Rupiah menguat 22 poin atau 0,15 persen dari Rp14.707 per dolar AS pada Senin 19 Oktober 2020 kemarin.

Pada penguatan rupiah kali ini juga disusul won Korea Selatan dan peso Filipina, masing-masing 0,14 persen dan 0,07 persen. Sementara mayoritas mata uang Asia lain berada di zona merah, sebagaimana disadur dari laman CNNIndonesia.

Sementara itu, Baht Thailand melemah 0,16 persen, yen Jepang minus 0,14 persen, ringgit Malaysia minus 0,14 persen, yuan China minus 0,1 persen, dan dolar Singapura minus 0,01 persen. Dolar Hong Kong stagnan.

Hal serupa juga terjadi di deretan mata uang utama negara maju. Hanya rubel Rusia yang menguat 0,17 persen dari dolar AS.

Sedangkan sisanya, dolar Australia melemah 0,4 persen, poundsterling Ingris minus 0,09 persen, franc Swiss minus 0,07 persen, dolar Kanada mnus 0,05 persen, dan euro Eropa minus 0,01 persen.

Berdasarkan keterangan Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen aksi demo penolakan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (UU Ciptaker). Demo kebetulan dilakukan tepat pada satu tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

“Pasar mungkin akan mengamati aksi demo yang akan berlangsung hari ini. Pergerakan rupiah mungkin mendatar, cenderung melemah, dengan potensi di kisaran Rp.14.650 sampai Rp14.750 per dolar AS,” kata Ariston kepada CNNIndonesia.com, Selasa (20/10/2020).

Di samping itu lanjut Ariston, pergerakan rupiah juga mendapat sentimen dari ketidakpastian stimulus ekonomi AS. Menurutnya, meski ada kemajuan pembahasan, namun hal ini belum membuat pelaku pasar masuk ke aset berisiko.

“Stimulus fiskal ini bisa membantu pemulihan ekonomi AS di tengah pandemi dan memberikan sentimen positif ke aset berisiko,” tukasnya.

 

(uli/cnnindonesia.com)

Komentar

Berita Terkini