https://limadetik.com/

Intensitas Hujan Diprediksi Tinggi, BPBD Sumenep Harap Masyarakat Jangan Buang Sampah Sembarangan

  • Bagikan
R.Abd Rahman Riadi, Kepala BPBD Sumenep

SUMENEP, Limadetik.com – Walau musim hujan tahun 2020 ini di Sumenep diprediksi akan mulai pada awal november yang akan datang. Namun nyatanya hujan sudah mulai turun di bulan Oktober sejak dua minggu yang lalu dengan intensitas yang cukup lumayan tinggi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, Abd Rahman Riadi mengatakan, curah hujan saat ini masih belum normal. Sebab, perkiraan BMKG itu di pertengahan bulan November baru masuk musim penghujan.

https://limadetik.com/

Salah satu harapan sekaligus imbauan pihak BPBD agar masyarakat berhenti membuang sampah sembarangan untuk menghindari terjadinya sempalan-sempalan pada drainase ataupun sungai yang mengakibatkan terjadinya banjir.

“Kita semua harus sadar lingkungan, tidak membuang sampah di sembarang tempat. Karena itu yang mengakibarkan terjadinya banjir, dan sesuai peta yang ada banjir itu sering terjadi seperti salah satunya di Kecamatan Lenteng, Desa Cangkring, Sendir. Kecamatan Batuan di Babbalan, Patean, itu biasanya rawan banjir,” ungkapnya, Sabtu (31/10/2020).

Baca juga: BPBD Sumenep Imbau Masyarakat Waspada La Nina Masa Transisi Musim

Sedangkan menurut Rahman, daerah yang rawan terjadi longsor yakni di daerah Kecamatan Rubaru tepatnya di Desa Basoka. Selain itu, juga di Kecamatan Guluk-Guluk dan juga di Pragaan daya.

Maka dalam mengantisipasi kemungkinan-kemungkin itu terjadi, pihaknya telah berkoordinasi dengan beberapa intansi terkait misalnya dengan PU sumber daya air, Cipta Karya bagaimana dalam menormalisasikan aliran sungai dan gorong-gorong.

“Oleh karena itu saya mengharapkan kepada masyarakat bahwa diawal memasuki transisi musim penghujan ini untuk tidak membuang sampah sembarangan,” harapnya.

Di samping itu, dirinya juga menghimbau kepada masyarakat agar lebih waspada dan sadar dalam upaya pencegahan banjir. Semisalnya di masing-masing rumah paling tidak ada ada resapan air maupun biopori.

“Kalau di tiap rumah itu ada biopiri atau juga resapan air, maka air yang jatuh di pekarangan rumah itu tidak langsung jatuh ke selokan atau ke gorong-gorong dan drainase yang muaranya kesungai” terangnya.

Rahman menambahkan, pihaknya juga meminta masyarakat untuk mengupayakan penghijauan daerah-daerah perbukitan, agar bisa membantu mencegah adanya longsor.

“Untuk bisa membantu mencegah terjadinya longsor, masyarakat lebih baik melakukan penghijauan. Dan itu salah satu upaya mengurangi risiko bencana, dan di beberapa titik kita sudah memberikan rambu peringatan rawan bencana, seperti halnya baliho, banner dan lain-lain agar masyarakat lebih waspada di musim-musim penghujan seperti ini” pungkasnya.

(yd/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan