LIMADETIK.com – Oleh : Subliyanto

Bak sebuah makanan, istilah kemiskinan sudah menjadi konsumsi harian yang kerap kita dengar di telinga kita. Dari pelosok desa hingga istana negara, dari kepala dusun hingga kepala negara, bahkan calon kepala negara, hampir semuanya memperbincangkan bagaimana mengatasi kemiskinan dalam kehidupan sosial manusia. Hingga dari sekian perbincangan dituangkan dalam program dan kegiatan. Tentu hal ini perlu diapresiasi sekecil apapun konsep yang dituangkan. Karena diakui atau tidak, semuanya adalah bentuk wujud kepeduliaan sosial dalam kehidupan bersama berbangsa dan bernegara, yang di Indonesia terkemas dalam bingkai pancasila.

Membahas kemiskinan tentu rujukan pertama adalah definisi, karena dengan definisi dapat ditemukan teori yang kemudian akan dilahirkan berbagai macam solusi. Dan kemiskinan itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara bahasa adalah berasal dari kata miskin, yang artinya adalah tidak berharta, serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Sementara menurut istilah adalah situasi penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yang sangat diperlukan untuk mempertahankan tingkat kehidupan yang minimum. Sehingga dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa indikator kemiskinan adalah tidak berharta, dan serba kekurangan.

Dalam konsep cara pandang,  segala sesuatu bergantung dari kacamata ilmu yang kita gunakan untuk menilainya, demikian juga kaitannya dengan kemiskinan. Dan tentu bagi pribadi muslim dan beriman, maka sudah seharusnya konsep yang digunakan adalah konsep-konsep dalam Islam, bukan konsep-konsep ataupun teori-teori barat yang notabeni menggerus konsep keimanan. Karena disinilah intisari dari sosok pribadi muslim.

Allah mempunyai sifat “Rahman” dan “Rahim”, yang artinya adalah pengasih dan penyayang. Maka dalam hal ini, melalui “Rahman dan “Rahim-Nya, Allah juga sudah menjamin semua kebutuhan hidup hamba-Nya yang Ia ciptakan dan Ia kasihi serta Ia sayangi. Namun demikian tentu hal itu tidak akan manusia dapatkan begitu saja. Allah karuniakan pada manusia akal sehingga dengan akal tersebut manusia bisa berpikir untuk menjawab realitas kehidupan yang ia jalani. Dan tidak hanya akal saja, jauh sebelum manusia diciptakan dan dikarunia akal, Allah sudah memberikan wadah berupa bumi dan langit serta isinya, sehingga bagaimana agar akal tersebut dimanfaatkan berdasarkan ilmu yang telah Allah ajarkan, yang muara dari semuanya adalah keimanan dan ketaqwaan.

Maka pada bab ini Allah berfirman : “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui”. (QS. al-Baqarah : 21-22)

Lantas bagaimana dengan kemiskinan ?

Kemiskinan merupakan hal bersifat pasti, yang artinya semua manusia akan melaluinya. Namun “pasti” yang setiap manusia akan melalui tersebut bukanlah lepas begitu saja, akan tetapi memiliki tujuan yang lebih esensi, yaitu untuk mengukur kadar keimanan dan ketaqwaan manusia. Hal ini sudah Allah tegaskan dalam firman-Nya :

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. al-Baqarah :155-157)

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa kemiskinan merupakan ujian semata yang diberikan oleh Allah kepada semua manusia untuk mengukur sejauh mana manusia bertauhid kepada-Nya.

Kemudian bagaimana dengan fakta kemiskinan yang ada dan terjadi ?

Disinilah Allah kembali menuntun manusia untuk menggunakan akalnya. Maka tak heran jika dalam Al-Qur’an banyak ditemukan ayat-ayat yang mengajak manusia untuk berpikir dan merenung serta bersyukur, hingga menemukan titik tauhid di dalamnya.

Allah memberikan arahan atau dalam bahasa saat ini kisi-kisi kepada hamba-Nya bagaimana cara manusia bisa lulus dari ujian yang Allah berikan. Dan hal itu dicontohkan oleh Rasul-Nya Muhammad SAW. yang mana beliau mengajarkan kepada ummatnya untuk bekerja sebagai bekal ibadah kepada-Nya. Beliau mengajarkan kedisiplinan dan menjauhi kemalasan. Beliau mengajarkan kepada ummatnya untuk mejemput rezeki yang Allah taburkan di muka bumi. Beliau mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan kedermawanan, serta budi pekerti yang mulia. Dan semua itu Muhammad ajarkan pada ummatnya sejak ia masih kecil, atau yang dalam sejarah dikenal dengan fase prakenabian. Mulai dari mengembala kambing hingga berniaga.

Tidak hanya itu, Allah pun memberikan rumus-rumus kongkrit pada manusia untuk menumbuhkan rasa peduli kepada sesama, termasuk di dalamnya adalah kepedulian kepada kemiskinan. Rumus-rumus itu berupa konsep zakat, infaq, dan shadaqah. Allah berfirman :

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”. (QS. At-Taubah: 71).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersedekah senilai dengan sebiji Kurma dari penghasilan yang baik (halal) dan Allah hanya menerima sedekah yang baik (halal), maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia menumbuh-kembangkannya bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kamu menumbuh-kembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti (sepenuh) gunung.” (HR. Al-Bukhari II/511 no.1344, dan Muslim II/702 no.1014).

Maka, dalam hal mengatasi kemiskinan, sejatinya konsep-konsep inilah yang perlu disadarkan dan dikampanyekan kepada manusia agar kemiskinan tidak mengantarkan manusia pada lemahnya iman. Kepeduliaan sosial juga perlu digalakkan agar tercipta kehidupan yang sejahtera sebagaimana peradaban Madinah. Karena kemiskinan itu pasti akan manusia lalui sebagai ujian bagi manusia yang beriman, sebagaimana telah Allah firmankan di atas. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here