Limadetik.com – Masyarakat Bajo merupakan salah satu kelompok masyarakat yang lebih banyak menggantungkan hidupnya pada laut yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia bahkan dapat kita temukan juga di luar Indonesia seperti Malaysia dan Philipina. Sejarah perkembangan masyarakat Bajo pada awalnya tinggal diatas perahu yang disebut dengan bido’ sebuah perahu kayu yang diatasnya terdapat atap dari daun kelapa atau ilalang serta berukuran tidak terlalu besar dan digerakkan menggunakan layar dan bisa juga dengan dayung.
Kemudian hidup berpindah-pindah bergerak secara kelompok menuju daerah ataupun tempat yang berbeda yang sesuai dengan lokasi terbaik untuk nangkapan ikan. Tetapi terkadan mereka berpindah-pindah tempat hanya untuk menghindari konflik yang terjadi di suatu daerah. Diatas perahu itulah sejarah awal orang-orang Bajo menjalani hidupnya sejak lahir, berkeluarga hingga akhir hayatnya.
Bentuk Rumah yang menjadi tempat tinggal masyarakat bajo juga terkenal sangat unik karena mereka biasanya membuat rumah yang seluruhnya berada diatas laut dangkal, kemudian dengan Perkembangan zaman yang begitu cepat ternyata juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap masyarakat Bajo yang kini tidak lagi hidup dan tinggal diatas perahu tapi beralih menjadi masyarakat pesisir dengan bangunan rumah panggung dan rumah permanen. Masyarakat Bajo kini juga telah menikmati modernitas mulai dari bentuk rumah, perubahan alat tangkap ikan hingga pada tahap kesadaran tentang dunia pendidikan.
Disisi lain modernitas memiliki satu wujud yang mengerikan yaitu mengancam nilai-nilai kebudayaan lokal apabila tidak dirawat dan dikembangkan. Modernitas yang tidak terkontrol juga akan menghantarkan pada bentuk ekploitasi lingkungan yang berakibat terhadap rusaknya ekosistem darat, laut dan udara. Bentuk ekploitasi tersebut tentu sangat bertolak belakang dengan prilaku dan pandangan masyarakat Bajo terhadap laut.
Sebenarnya bagaimana masyarakat Bajo memandang laut dalam kehidupan sehari-hari mereka?. Sebagai masyarakat yang dekat dengan laut bahkan hampir seluruh sendi kehidupan mereka memiliki keterkaitan dengan laut tentunya sangat menarik untuk mengetahui bagaimana sebenarnya mereka mamaknai laut.
Laut Sebagai Sumber Mata Pencaharian
Hampir secara keseluruhan semua sendi kehidupan masyarakat di kepulauan Sapeken berhubungan dengan laut. Sebagai masyarakat pesisir, tentunya menjadi nelayan adalah pekerjaan utama yang mereka miliki dan pastinya keterampilan mereka dalam mengarungi samudra untu menangkap ikan tentu tidak perlu diragukan Laut dengan segala sumber daaya yang ada didalammnya telah memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat kepulauan. Dari hasil laut para masyarakat mencukupi kehidupan mereka mulai dari kebutuhan rumah tangga bahkan sampai memberikan jaminan pendidikan kepada anak-anak mereka baik pada tinggkat SLTA maupun sampai perguruan tinggi.

Pekerjaan nelayan di kepulauan Sepeken juga sangat bervariasi ada yang menjadi petani budidaya rumput laut, nelayan tradisional seperti nganjale menangkap ikan dengan jala di sekitaran karang, memessi dengan menggunakan pancing yang bentuknya kadang berbeda beda sesuai dengan ikan dan kondisi laut yang dituju, ngangandoah menangkap cumi cumi dengan menggunakan alat pancing seperti udang tetapi memiliki mata kail di bagian belakangnya, nyulu atau menangkap ikan di laut dangkal dengan menggunakan tombak kecil yang berukuran panjang sekitar 50 cm, ngarawe atau tradisi menangkap ikan hiu serta masih banyak lagi jenis-jenis pekerjaan nelayan masyarakat di kepulauan Sapeken.
Sehingga tidak terlalu berlebihan jika masyarakat Bajo di kepulauan Sapeken menganggap laut sebagai sumber segala kehidupan serta menjadi tempat mereka menggantungkan hidupnya. Seperti yang disampaikan oleh Khairul Faizal bahwa masyarakat pulau Sapeken memiliki cinta yang cukup tinggi dan tetap utuh terhadap laut, tak pernah bergeser apalagi berkurang sedikitpun hanya semesta yang menjadi saksi bagaimana masyarakat diperlakukan oleh laut dan bagaimana balasan mereka memperlakukan laut.
Laut Sumber Kehidupan
Masyarakat Bajo memaknai laut sebagai sumber kehidupan mereka, karena sejarah mobilitas mereka semuanya dihabiskan dan berkaitan dengan laut. Lingkungan laut merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam proses serta keberlangsungan kehidupan manusia dan mahluk lain yang hidup di bumi karena didalam dan diatas laut terdapat kekayaan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan.
Masyarakat suku Bajo memang memiliki suatu kedekatan emosional dan sejarah yang begitu kuat dengan sehingga tidak ada satupun alasan mereka merusak ekosistem laut.
Mereka percaya bahwa merusak laut sama saja seperti merusak kehidupan mereka sendiri. Dalam sejarahnya orang Bajo sendiri memiliki trust ataupun kepercayaan yang kuat terhadap laut, tetapi tidak kepada orang darat atau biasa mereka sebut dengan istilah bagai karena biasanya orang-orang bagai tersebut sering melakukan tindakan menangkap ikan yang berlebihan dan ilegal yang kemudian berdampak terhadap rusaknya terumbu karang dan kemudian akan mengakibatkan ikan-ikan mencari rumah baru dan semakin menjauh dari permukiman masyarakat Bajo.
Ada hal yang bersifat kultural yang kemudian melekat dalam diri setiap masyarakat Bajo kepulauan Sapeken terhadap laut yang kemudian hal tersebut membuat mereka yakin bahwa laut bukan hanya tempat untuk mencari ikan tetapi laut juga merupakan rumah dan sumber kehidupan mereka yang harus selalu dijaga kelestariannya.
Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Hendro Santoso kepala desa Sadulang kecamatan Sapeken mengataakan bahwa “laut adalah sumber kehidupan kami yang memberikan ketenangan jiwa serta harus selalu dijaga kelestariannya”.
Kedekatan historis masyarakat Bajo dengan laut juga terbukti dengan adanya salah satu pepatah masyarakat Bajo yang masih dipercaya hingga saat ini yaitu:
Madarat kite ngilantu
didarat kita lapar
Madilaut kite esso
dilaut kita kenyang
Ungkapan tersebut memiliki makna yang cukup dalam bagi masyarakat Bajo khususnya di kepulauan Sapeken memandang laut sebagai landasan dalam kehidupan sehari-hari sehingga seluruh aspek kehidupan mereka lebih dominan berada diatas laut.
Laut bagi masyarakat Bajo memiliki arti yang cukup dekat dengannya seperti sahabat, obat, makanan, sarana transportasi didalamnya menjadi sumber kebaikan dan juga keburukan, rumah/tempat tinggal nenek moyang mereka hingga menganggap laut adalah ibu mereka karena dari kecil hingga tiada mereka masih dekat dengan laut.
Khairul Faisal juga menyampaikan dalam bukunya yang berjudul Kaki Langit bahwa laut memang menjadi ladang luas dan terlengkap yang dimiliki oleh warga kepulauan Sapeken, ia merupakan anugerah tuhan yang paripurna dan memiliki makna yang begitu dalam karena di laut warga akan memulai dan menutup hari serta menjadi tempat merasakan terik matahari dan nyanyian hujan.
Selain itu di laut juga kadang menjadi tempat memulai cerita asmara masyarakat kepulauan Sapeken karena mayoritas laki-laki bekerja menjadi seorang nelayan sedangkan para perempuan bekerja sebagai penjemur ikan, mengikat rumput laut di pinggir pantai.
_______________________________
Penulis: Adalah penggiat budaya kepulauan