https://limadetik.com/

Mengorek Filosofi “Ikan Busuk” Dalam Dunia Bisnis

  • Bagikan
IMG 20210116 WA0049 e1610769680484
Foto: Ikan Busuk

Penulis          : Risma Alif Kinanti

Mahasiswi    : Universitas Muhammadiyah Malang

https://limadetik.com/

Jurusan/Fak: Akuntasi/FEB


 

Filosofi kuno mengatakan “Ikan busuk di mulai dari kepalanya”. Dikutip dari eramuslim.com,
kalimat bijak seperti itu diucapan para pedagang di pasar ikan Marcellum di Roma. Filosofi
tersebut memang sering kita dengar, namun sangat jarang orang yang memahami makna filosofi
tersebut.

“Ikan busuk dimulai dari kepalanya” memiliki makna pembusukan atau kerusakan yang terjadi
pada organisasi, masyarakat, lembaga ataupun perusahaan dimulai dari atasan.

Pemimpin atau atasan diibaratkan sebagai kepala ikan. Kepala ikan sebagai sumber gizi dan pengendali yang
harus dijaga karena memiliki bagian penting untuk kesehatan seluruh badan ikan. Jika kepala ikan mulai busuk, maka terjadilah pembusukan sampai dengan ekor.

Jika filosofi tersebut kita hubungkan pada dunia bisnis, tidak begitu besar kemungkinan yang dapat membuktikan filosofi ini benar benar terbukti. Seperti kita ketahui di dunia bisnis selalu terdapat kecurangan sekalipun telah membuat sanksi seberat mungkin.

Dalam dunia bisnis, bagaimanapun kita mengawasi kinerja karyawan atau organisasi selau terdapat celah bagi orang- orang yang berniat kurang baik atau melakukan kecurangan.

Saya pun membuktikan filosofi “ikan busuk dari kepala” dengan cara mengamati ikan mati dalam 1 minggu. Dan hasilnya ikan mati tersebut busuk dimulai dari perut bukan dari kepala. Dapat ditarik kesimpulan, filosofi ini menurut saya tidak selalu benar.

Kecurangan atau kerusakan yang terjadi pada sebuah organisasi, masyarakat, lembaga ataupun perusahaan tidak
selalu ditimbulkan oleh atasan. Tidak semua atasan atau kepala memiliki pemikiran buruk seperti filosofi tersebut. Baik buruk seseorang tidak bisa dijamin dari sebuah kedudukan.

Maka, jika setiap orang memiliki niat baik dan teguh pendirian, bagaimanapun cobaan tidak akan tegoda.
Pemimpin memang sebagai contoh bagi bawahan, namun tidak selalu kesalahan atau kecurangan yang terjadi diakibatkan oleh pemimpin. Karena kita juga tidak bisa menilai niat baik atau buruk sesorang dari jabatan. s

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan