Oleh : Subliyanto

ARTIKEL – Belum lama ini kita disuguhkan dengan sosok ahli filsafat bernama Rocky Gerung yang dalam sebuah diskusi menyatakan bahwa “kitab suci adalah fiksi”. Sontak pernyataan tersebut menuai tanggapan yang beragam. Dan sudah bisa dipastikan yang merespon adalah manusia-manusia hebat yang masih punya akal sehat.

Karena bagi manusia yang akalnya betul-betul sehat ia tidak akan serta-merta mengamini setiap paparan analogi yang seakan-akan sekilas tampak benar, karena kebenaran yang sesungguhnya bersumber dari konsep wahyu yang membutuhkan konsep iman dalam mencernanya. Dan dalam konsep iman terdapat hal yang tidak bisa dinalar oleh akal.

“Kitab Suci Fiksi”, merupakan dua istilah kalimat yang bersifat umum dan bersifat khusus, dimana kalimat yang khusus menjadi penjelasan dari kalimat umum yang di depannya sehingga akan mempunyai makna sebagai sifat. Jika itu yang terjadi maka nilai-nilai esensial dari kitab suci akan lenyap. Dan hal ini akan berakibat fatal bagi aqidah seorang muslim.

Demikian juga istilah fiktif yang menurut Rocky beda maknanya dengan fiksi. Namun perbedaan tersebut Rocky jelaskan dalam definisi secara terminologi saja, ia lupa bahwa setiap makna sebuah istilah erat kaitannya dengan makna akar katanya. Dan tentu hal ini kesalahan fatal dalam konsep berilmu.

Karena dalam setiap definisi pertama kali yang harus diketahui adalah makna secara etimologi terlebih dahulu kemudian makna secara terminologinya, karena keduanya bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Lantas teori apa sebetulnya yang dipakai Rocky dengan konsep akal sehat yang diusungnya?.

Hamid Fahmi Zarkasyi dalam paparannya tentang sejarah peradaban barat menjelaskan bahwa : “Barat ketika masuk zaman modern orang berpikir bagaimana menemukan kebenaran. Tetapi ketika barat masuk pada zaman posmodern dia tidak lagi berpikir bagaimana mencari kebenaran, tetapi mempertanyakan kebenaran. Yang dicari oleh orang posmodern adalah makna, bukan lagi logika formal. Yang dipertanyakan oleh orang posmodern adalah makna-makna atau kebenaran dibalik makna. Sedangkan makna di dalam kebenaran ada di dalam bahasa”

Dari sini dapat disimpulkan bahwa teori akal sehat yang diusung oleh Rocky sangatlah tidak relevan dengan konsep-konsep dalam Islam. Karena secara tidak langsung kita digiring untuk masuk pada pola pikir yang tidak sehat.

Dalam kitab “Tijanud darori dan kitab As-Sanusi” terdapat istilah “Ad-Daur wa At-Tasalsul”, yaitu pola pikir yang bersifat perputaran logika yang tidak ketemu pangkal dan ujungnya, hingga lupa kebenaran yang sesungguhnya. Tentu ini harus menjadi warning bagi generasi muslim agar tetap pada garis-garis kebenaran yang telah dibakukan dan dibukukan. Sehingga tidak terjebak pada pola pikir yang berantakan.

Semoga catatan singkat ini dapat menjadi filter bagi kita dalam memainkan logika dan memposisikannya. Sehingga akal sehat yang sesungguhnya terpatri dalam pribadi-pribadi muslim generasi penerus bangsa.[]

Penulis adalah pendidik asal Pamekasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here