Sosbud

Pesan Natal Wabup Sumenep Achmad Fauzi: Pluralisme Harus Dirawat

×

Pesan Natal Wabup Sumenep Achmad Fauzi: Pluralisme Harus Dirawat

Sebarkan artikel ini
Wacana Madura Jadi Provinsi, Ini Kata Bupati Sumenep Achmad Fauzi
FOTO: Bupati Sumenep, Achmad Fauzi. (@limadetikcom)

SUMENEP, Limadetik.com – Pluralisme dan prinsip-prinsip menjunjung perbedaan merupakan salah satu hal yang penting dirawat di Indonesia. Pasalnya pluralisme merupakan kodrat yang tidak bisa ditawar lagi.

“Sikap pluralisme dapat diaplikasikan melalui perjuangan dan persamaan hak bagi kelompok minoritas,” kata Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi dalam kata sambutan tertulis Perayaan Hari Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 yang diterima redaksi, Selasa, (26/12/2017).

Politisi PDI-P tersebut menambahkan, kelompok minoritas dapat meraih makna pluralisme melalui peraturan perundang-undangan yang lebih akomodatif. Sehingga memungkinkan kelompok-kelompok minoritas dapat memperoleh sekaligus menjalankan hak-hak politik, budaya, dan ekonomi.

“Reformasi saat ini membawa perubahan bagi bangsa ini. Banyak dampak signifikan yang dapat dirasakan. Salah satunya, semakin kecilnya potensi intimidasi terhadap kelompok minoritas. Masyarakat Indonesia semakin dewasa menyikapi keberagaman,” tegas Fauzi.

Fauzi menjelaskan, saat ini banyak energi yang dihabiskan karena mempersoalan isu SARA. Padahal banyak tugas bangsa yang mesti diselesaikan ke depan. Sehingga Fauzi berharap, tidak terjadi lagi aksi teror dan intimidatif yang diakibatkan oleh perbedaan SARA.

“Jika dicermati, masyarakat kita sudah semakin dewasa. Terbukti, sudah terjadi penurunan angka konflik sosial yang diakibatkan oleh perselisihan karena perbedaan SARA,” tegas Fauzi.

Oleh karena itu, pada pelaksanaan Natal tahun ini, Fauzi berharap tidak saja membawa pesan perdamaian, tapi juga harus menumbuhkan kembali semangat pluralisme. Semangat yang akan menjadi pintu masuk bagi terciptanya masyarakat Indonesia yang integratif.

“Selamat Hari Natal bagi umat Kristiani yang melaksanakan. Mari kita rajut kembali semangat pluralisme. Kita hindari segala bentuk konflik sosial yang dapat meruntuhkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,” dekimian tukas Fauzi. (*)