Pendidikan

Sekda Sumenep Hadiri Talkshow Inspiratif Transformasi Pendidikan dan Tumbuh Kembang Anak di Era Digital

×

Sekda Sumenep Hadiri Talkshow Inspiratif Transformasi Pendidikan dan Tumbuh Kembang Anak di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Sekda Sumenep Hadiri Talkshow Inspiratif Transformasi Pendidikan dan Tumbuh Kembang Anak di Era Digital
Dua dari kiri KH. Muhammad Shalahuddin A. Warist (Ra Mamak) dan Guru Besar UIM, Prof. Ali Al Humaidy

Sekda Sumenep Hadiri Talkshow Inspiratif Transformasi Pendidikan dan Tumbuh Kembang Anak di Era Digital

LIMADETIK.COM, SUMENEP – Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep, Agus Dwi Saputra, menghadiri kegiatan Halal Bihalal dan Talkshow Inspiratif bertema “Transformasi Pendidikan dan Tumbuh Kembang Anak di Era Digital”. Kegiatan digelar KPP Sumenep itu berlangsung di Aula HK Resto, Sumenep, Selasa (28/4/2026).

Kegiatan yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube KPP Sumenep itu berlangsung meriah dan dihadiri tokoh pendidikan, akademisi, kalangan pesantren, serta masyarakat umum yang peduli terhadap perkembangan pendidikan di era digital.

Dalam sambutannya, Sekda Sumenep Agus Dwi Saputra menegaskan bahwa transformasi pendidikan bukan sekadar perubahan menuju sistem digital, melainkan perubahan pola pikir agar lebih baik dalam menghadapi tantangan zaman.

Menurutnya, kekhawatiran terhadap dunia pendidikan saat ini sangat beralasan, terutama terkait beratnya tugas dan tanggung jawab guru di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Jangan biarkan anak kita lebih dekat dengan HP daripada orang tuanya,” ujar Agus Dwi Saputra.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep itu menekankan bahwa pendidikan anak saat ini harus lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter, peningkatan kompetensi, serta penguatan literasi.

“Saya harap semua harus mendampingi anak kita dengan baik. Kita harus hadir mendampingi anak secara utuh,” imbuhnya.

Ia berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan pemikiran dan langkah nyata yang bermanfaat bagi masa depan pendidikan di Kabupaten Sumenep.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warist atau yang akrab disapa Ra Mamak, menyampaikan bahwa tantangan transformasi pendidikan tidak hanya terjadi di lingkungan pesantren, tetapi juga menjadi persoalan global yang dihadapi seluruh negara.

Menurutnya, ilmu pengetahuan hari ini seharusnya menjadi pondasi peradaban, bukan justru melahirkan egoisme dan sikap individualistik.

“Ilmu hari ini harus menjadi pondasi peradaban kita. Tantangan transformasi hari ini menjadi sangat egoistik. Ilmu sangat narsistik, ilmu berpikir tentang ilmunya sendiri, agama berpikir tentang agamanya sendiri. Padahal kata sesepuh, Tuhan itu tidak harus dibela, agama harusnya hadir kepada umat,” kata Ra Mamak.

Kiai muda karismatik tersebut juga menegaskan bahwa transformasi pendidikan bukan hanya persoalan alat atau teknologi, melainkan tentang mentalitas manusia dalam menggunakannya.

“Transformasi bukan persoalan alat, tetapi mentalitasnya,” ujarnya.

Sekda Sumenep Hadiri Talkshow Inspiratif Transformasi Pendidikan dan Tumbuh Kembang Anak di Era Digital
Sekda Sumenep Agus Dwi Saputra satu meja bersama Ra Mamak dan Guru Besar UIM, Prof Ali Al Humaidy serta Ketua KKP Sumenep, Abd. Rahman pada acara halal bihalal

Terkait digitalisasi di lingkungan pesantren, ia menilai rendahnya pemanfaatan teknologi bukan semata karena keterbatasan alat, melainkan cara pandang masyarakat pesantren terhadap teknologi itu sendiri.

“Masyarakat pesantren itu melihat digitalisasi menuju maksiat atau menuju ilmu dan pencerahan. Padahal ini hanya perangkat, hanya wasilah. Dan wasilah itu dinamis, di setiap peradaban berbeda-beda,” tambahnya.

Dalam sambutannya, Ketua KPP Sumenep, Abd. Rahman juga menyoroti tantangan dunia pendidikan yang kini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi digital. Menurutnya, bukan hanya guru, tetapi murid pun mulai mengalami ketergantungan terhadap dunia digital.

Ia mengakui bahwa digitalisasi membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga memiliki dampak negatif yang harus diantisipasi bersama.

“Hari ini kita ditantang bagaimana hal tersebut bisa seimbang dan masa depan anak tetap terjamin dengan tetap mengedepankan karakter dan peradaban,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa mendidik anak bukan hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah, melainkan juga membutuhkan keterlibatan aktif orang tua di lingkungan keluarga.

“Semua butuh sinergitas agar dunia digital tidak menjadi malapetaka bagi kelangsungan hidup dan masa depan anak-anak kita,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Universitas Islam Madura (UIM), Prof. Dr. H. Muhammad Ali Al Humaidy, mengungkapkan bahwa persoalan pendidikan di Kabupaten Sumenep sangat kompleks dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Menurutnya, dinamika pendidikan di Sumenep tidak hanya berkaitan dengan wilayah daratan dan kepulauan atau persoalan infrastruktur, melainkan juga menyangkut tata kelola pendidikan, kurikulum, hingga kualitas sumber daya manusia para guru.

“Bicara pendidikan di Sumenep dinamikanya luar biasa. Bukan hanya bicara daratan dan kepulauan, tetapi mulai dari tata kelola, kurikulum, hingga sumber daya manusia para guru,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung persoalan dugaan praktik pungutan liar dalam proses kenaikan pangkat guru yang sebelumnya sempat menjadi perhatian.

“Sampai saya pernah merekomendasikan kepada bupati agar ada tim yang mengawasi praktik pungli pada kenaikan pangkat guru. Alhamdulillah di masa Pak Agus hal tersebut mulai berkurang dan relatif turun,” katanya.

Menurut Prof. Ali Al Humaidy, langkah tersebut merupakan upaya strategis untuk menyelamatkan dunia pendidikan dan masa depan generasi bangsa, termasuk kebijakan pelarangan membawa gadget ke sekolah bagi siswa.

“Itu kenapa harus dilakukan, karena sangat miris sekali dunia digitalisasi sekarang ini. Kita harus menyelamatkan anak-anak dari ketergantungan teknologi,” pungkasnya.