https://limadetik.com/

Sisi Lain Bupati Sampang, Melawan  Covid-19 dengan Sholawat

  • Bagikan
Sisi Lain Bupati Sampang, Melawan  Covid-19 dengan Sholawat
FOTO: Yuszak As, Pemerhati Sosial Agama dan Kemasyarakatan

Oleh: Yuszak AS.

Saya bisa memahami Bupati Sampang, Slamet Junaidi melakukan langkah alternatif mengetuk Penguasa langit untuk menangani Covid-19 di wilayah kekuasaannya. Bila kepala daerah yang lain, sibuk melockdown tatkala angka infeksi virus meningkat di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

https://limadetik.com/

Manariknya, Bupati Sampang kelahiran 17 Agustus 1972 ini malah menganjur warga membaca sholawat tibbil qulub, burdah dan dzikiran lainnya. Karena, mengobati penyakit sebatas aspek lahiriah itu, ibarat memotong rumput hanya di permukaan. Namun, akarnya tetap akan tumbuh di hari kemudian. Adanya Vaksinasi massal, ternyata masih terjadi lonjakan korban terpapar baru. Kondisi ini antara cita dan fakta. Bagaimana realitasnya Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia?.

Atas cita dan fakta yang berbeda itulah, Bupati Sampang melakukan perenungan mendalam seraya bermunajat kepada Allah SWT, mengajak bershalawat agar keselamatan warga Sampang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, maka pandemi Covid-19 segera usai. Dan keadaan kehidupan masyarakat kembali normal.

Prosesi pembacaan sholawat dilakukan dengan berjamaah dengan menggunakan pengeras suara. Permintaan Mantan DPR RI Fraksi Partai NasDem ini ditujukan kepada pengurus Majlis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Perguruan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang. Pembacaan sholawat digelar di mushola dan masjid di seluruh wilayah Kabupaten.

Barang tentu, prosesi pembacaan sholawat dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan. Ini dilakukan dalam rangka peningkatan ketaqwaan kepada Allah SWT dan keselamatan seluruh lapisan masyarakat dari pandemi Covid-19.

Sisi Lain Bupati Sampang, Melawan  Covid-19 dengan Sholawat
FOTO: Himbauan Bupati Sampang bersama Wakilnya

Langkah suami Mimin Haryati ini merupakan local wisdom (kearifan lokal) yang biasa dilakukan oleh para leluhur dalam mengusir wabah penyakit. Lazimnya, masyarakat muslim Madura untuk mengusir bala bencana dengan membaca sholawat Tibbil Qulub dan burdah di atas.

Bupati asal Partai NasDem ini sesungguhnya, mengingatkan kita semua. Bahwa pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung 16 bulan ini tak bisa diselesaikan dengan penerapan prokes, atau vaksinasi, atau pembatasan sosial semata. Terbukti tak ada satupun pakar epidemiologi dunia yang berhasil memutus mata rantai penyebaran virus Corona.

Sementara, sholawat burdah lumrah digunakan untuk mengusir jin atau penyakit, biasa dibacakan sholawat Burdah. Sholawat yang disusun oleh Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri atau populer dengan sebutan Imam Bushiri.

Banyak penguasa wilayah Republik Indonesia ini, sejatinya sudah lelah. Berbagai usaha pendekatan ilmu kesehatan masyarakat sudah dilakukan, tetapi hasil belum nampak maksimal. Malah beberapa bulan ini kasusnya kian meningkat. Di Sampang juga sama. Update data terakhir 1199 positif, 959 sembuh dan 72 meninggal.

Bila dipersentase kan, populasi penduduk yang terpapar Covid-19 0,14 persen dari 844.872 jiwa. Persentase ini lebih rendah dari nasional dan Propinsi Jawa Timur. Dimana masing-masing 0,78 persen dan 0,42 persen dari populasi penduduk. Namun, persentase kesembuhan, Sampang lebih rendah dari persentase nasional dan Jawa Timur. Sementara prosentase angka kematian lebih tinggi dari nasional dan lebih rendah dari Jawa Timur.

Sampang angka persentase kesembuhan 79,98 persen. Sedang. nasional 87,07 persen, dan Jawa Timur 88,07 persen.

Akan tetapi, multak membutuhkan pertolongan Allah SWT, Dzat Yang Maha menyembuhkan segala macam penyakit. Di tengah kegagalan setiap usaha pengendalian penyakit, saatnya kita bersimpuh dan berpasrah diri, mengetuk langit agar wabah penyakit diangkat dan manusia hidup seperti biasanya kembali.

Berbagai data statistik di atas banyak membingungkan semua pihak, sehingga untuk mengatasinya lonjakan kasus baru, Bupati Haji Junaidi membuat terobosan spiritual selain program penanganan Covid-19 yang sudah berjalan biasa. Bagaimana hasilnya, biarlah sejarah nanti menjawabnya.

Manusia hanya punya kemampuan ikhtiar dan berdoa, melalui pendekatan ilmu dan syariat secara simultan. Namun, semua keputusan akhir di tangan Yang Maha Kuasa. Wallahu ‘alam bisshawab!
________________________

“Yuszak AS”, Pemerhati Sosial Agama dan Kemasyarakatan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan