Rabu, (25/7/2018).

JAKARTA, Limadetik.com — Nampaknya, medium sosialisasi bernama televisi tidak bisa lepas dari perhatian publik. Sebagai salah satu aspek fundamental dalam pelbagai upaya pembentukan karakter berwajah keberagaman, wajar saja jika tugas dan perilaku televisi mendapatkan perhatian, baik dari yang bersifat pujian hingga berujung kritik.

Rilis survey KPI

Konten yang ditayangkan televisi kerap mendapat kritikan mulai dari yang bernuansa hiburan, hingga pada hal yang bersifat prinsipil seperti siaran agama. Sudah ada berapa analisis dan kritikan yang disampaikan sejumlah pakar terhadap konten agama yang ditayangkan televisi.

Konten siaran agama yang bernuansa diskriminatif dan bertendensi memecah marak terjadi di layar televisi. Kapabilitas dari sang pemateri (dai) hingga “pembiaran” yang dilakukan pihak televisi menjadi fenomena yang santer terjadi di media massa, khususnya televisi.

Barangkali pernyataan Mama Dedeh beberapa pekan lalu dalam sebuah acara di salah stasiun televisi masih hangat dalam pusar kesadaran masyarakat. Pernyataan tentang Islam Nusantara menjadi bara yang cepat membakar lahan luas makna Islam. Pembakaran terhadap makna Islam Nusantara, sebagaimana dikampanyekan oleh Nahdlatul Ulama (tercatat dalam kongres 2015 lalu di Jombang), menimbulkan tidak hanya kontroversi, tapi juga memperlihatkan kepada khalayak terkait kapabilitas keilmuan, serta pengetahuan agama dan konteknya di tengah masyakakat.

Ketika kapabilitas kontekstualisasi agama, menyederhanakan ajaran agama sehingga diterima, dan budaya tidak dipertentangkan dengan agama tidak dimiliki oleh para dai yang tampil di layar televisi, maka di sisi yang lain, konten siaran agama beranjak menjadi religiotaiment. Konten agama tak ubahnya menjadi barang hiburan. Bisa dibuat becandaan hingga menuntut rating tinggi untuk menarik iklan sebanyak mungkin.

Lemahnya kapabilitas pengetahuan agama dan budaya inilah yang dikritiki banyak pakar yang mempunyai konsentrasi terhadap aspek penyiaran, agama dan budaya. Kerap mereka menaruh curiga bahwa televisi menampilkan tayangan religi, asal usulnya hanya untuk menambah peringkat rating.

Mau tidak mau, gejala seperti di atas memang mengkhawatirkan. Lebih parah lagi, manakala tayangan religi memsimplikasi semuanya berdasarkan Islam. Tayangan yang demikian tentu menampakkan wajah bengis terhadap agama-agama lain selain Islam yang ada di Indonesia.

Adalah wajar ketika masyarakat Bali terlihat paling buncit menonton televisi yang menayangkan siaran religi. Sebab tayangan religi yang mondar-mandir di layar kaca televisinya tidak menunjukkan penyesuaian akan kebutuhan spiritualitas masyarakat Bali.

Keberagaman Konten.

Pendapat di atas bukan tanpa data dan fakta. Komisi Penyiaran Indonesia melakukan survei bekerjasama dengan 12 universitas dengan melibatkan 1200 responden. Salah satu daerahnya adalah Bali. Dalam survei tersebut dinyatakan tak lebih dari 10 persen masyarakat bali duduk menonton siaran religi di televisi.

Survei yang dirilis pada tanggal 25 Juli ini, setidaknya membuka mata publik, terlebih insan penyiaran bahwa tayangan religi telivisi masih jauh panggang dari api. Ada tugas rumah yang harus dikerjakan dan perhatian bersama. Apa yang kemudian menjadi hasil survei ini sebenarnya untuk menunjukkan koreksi bagi lembaga penyiaran.

Setidaknya dalam semangat pendirian KPI sebagai tangan panjang reformasi dalam dunia penyiaran, untuk tetap mengawasi dan mengarahkan lembaga penyiaran jalan lurus dengan tanggung jawabnya, yakni frekuensi adalah milik negara dan digunakan untuk kepentingan khalayak banyak. Maka satu keniscayaan, keberagaman konten harus hadir si tengah masyarakat.

Lantas, bagaimana lembaga penyiaran menyikapi survei yang dilakukan KPI? Atau dengan pola bagaimana KPI musti membuat jera Lembaga Penyiaran melalui hasil survei yang dilakukannya? Entahlah. (red)

OPINI. By : A.riyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here