https://limadetik.com/

Warga Kemantren Lamongan Keluhkan Dampak Pabrik PT. Jaya Brix Indonesia

  • Bagikan
Warga Kemantren Lamongan Keluhkan Dampak Pabrik PT. Jaya Brix Indonesia
FOTO: PT. Jaya Brix Indonesia

LAMONGAN, LimaDetik.Com – Sejatinya keberadaan industri atau pabrik berskala besar diharapkan mampu memberikan kesejahteraan masyarakat, khususnya warga terdekat lokasi industri. Namun hal ini berlawanan saat melihat PT Jaya Brix Indonesia, justru keberadaanya dikeluhkan oleh warga sekitar, utamanya warga Desa Kemantren, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Pasalnya industri yang memproduksi bata ringan tersebut meninggalkan dampak limbah yang mengganggu kesehatan warga dan berdampak pada lingkungan sosial dan ekosistem alam di sekitar lokasi. Selain itu industri yang juga memproduksi gaxibot tersebut menimbulkan pulosi udara, (asap dan debu), kebisingan dan limbah air.

https://limadetik.com/

Suaji, Kepala Desa Kemantren mengatakan, jika keberadaan PT Jaya Brix Indonesia tidak membawa kebaikan, justru menambah keburukan, utama kesehatan bagi warga Desa, Kemantren.

“Adanya PT Jaya Brix Indonesia malah menimbulkan keresahan dan kekecewaan warga. Limbah, debu, dan asap, dan kebisingan dirasakan warga Kemantren tiap harinya. Bahkan beberapa waktu yang lalu hewan ternak warga banyak yang mati, ” kata Kades Kemantren, Senin (15/3/2021) kemarin.

Disinggung mengenai perhatian pihak pabrik pada warga, Suaji megaku sangat tidak layak, dan tak sebanding dari dampak yang ditimbulkan.

Warga Kemantren Lamongan Keluhkan Dampak Pabrik PT. Jaya Brix Indonesia
FOTO: Warga saat menyampaikan pengaduan ke PT JAYABRIX INDONESIA yang berlokasi di Desa
Kemantren Paciran Lamongan Jawa Timur

”Selama ini hanya 2 RT bahkan dulunya cuma 1 RT yang dapat bingkiaan, itu pun hanya setahun sekali , berupa Sembako senilai Rp 80 ribu. Mengenai dampak yang ditimbulkan, kami pernah memanggil pihak PT Jaya Brix Indonesia. Kami hanya meminta agar, dampak tersebut bisa diselesaikan, bagaimana solusinya. Namun hal itu direspon, tapi tidak berlangsung lama, hingga kini dampak itu terus berlansung,” bebernya pada sejumlah awak media.

Saat perwakilan warga mendatangi untuk menyampaikan aduhan, pihak PT Jaya Brix Indonesia belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan pihak pabrik juga tidak mau bekomentar banyak. Karena hanya diwakili staf personalia pabrik yang meresahkan warga tersebut.

H. Muhammad Ali, warga yang ikut menyampaikan pengaduan bersama warga yag lain mengatakan bahwa PT Jayabirx Indonesia ini sudah lama beroperasi di Desa Kemantren, namun kontribusi yang diharapkan warga tidak pernah dipenuhi, seperti kewajiban CSR yang nantinya dapat diberikan kepada warga kurang mampu atau CSR dalam bentuk pembangunan jalan desa dan beasiswa sekolah/kuliah pada warga kurang mampu.

“Menurut saya hal seperti itu perlu diberikan oleh pabrik sebagai bentuk kontribusi nyata bagi warga. Belum adanya perjanjian Kerjasama dan MoU antara PT Jayabrix Indonesia dengan Pemerintah Desa Kemantren adalah awal permasalah ini timbul, pihak Pemerintah desa mengajukkan beberapa kontrak Kerjasama dan MoU, namun sampai tahun 2021 belum ada respon serius dari pihak Pabrik” tegas. H. Muhammad Ali.

(Fatih/yd)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan