PFII Solusi Krisis Fiskal Daerah: Dr. Agus Syabarrudin Ajak SMSI dan BPD Kawal Transformasi Pembiayaan Daerah

- Penulis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kanan Ketua SMSI Pusat, Firdaus (kiri) Dr. Agus Syabarrudin (tengah) dan Sekjen DPP SMSI, Makali Kumar

Kanan Ketua SMSI Pusat, Firdaus (kiri) Dr. Agus Syabarrudin (tengah) dan Sekjen DPP SMSI, Makali Kumar

PFII Solusi Krisis Fiskal Daerah: Dr. Agus Syabarrudin Ajak SMSI dan BPD Kawal Transformasi Pembiayaan Daerah

limadetik.com/, JAKARTA – Rencana kemandirian fiskal daerah melalui instrumen pembiayaan alternatif kembali menjadi sorotan. Laporan United Nations Development Programme (UNDP) mengungkap fakta ironis mengenai ekosistem pembiayaan daerah di Indonesia: meskipun regulasi penerbitan obligasi daerah telah disahkan sejak dua dekade lalu, hingga hari ini belum ada satu pun Pemerintah Daerah (Pemda) yang berhasil menerbitkan instrumen tersebut.

Berdasarkan studi lanskap tersebut, mandeknya obligasi daerah bukan disebabkan oleh minimnya minat investor, melainkan adanya jurang kapasitas teknis di tingkat daerah. Pemerintah Daerah dinilai masih menghadapi keterbatasan fundamental dalam melakukan kurasi, strukturisasi, hingga penyusunan proyek yang berstandar internasional dan layak investasi (bankable).

Kondisi ini menjadi semakin mendesak di tengah krisis fiskal daerah yang dipicu oleh pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) secara tajam sebesar 24%—setara dengan Rp226 Triliun—pada tahun 2026 ini.

Di tengah polemik kehadiran PFII di masyarakat, dalam Rapat Dewan Pengurus Pusat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Jakarta, memandang bahwa PFII hadir adalah sebuah keniscayaan yang harus dimaksimalkan perannya bagi sektor riil pembangunan di daerah yang saat ini membutuhkan sumber dana investasi.

Dalam pertemuan pengurus SMSI Pusat Jumat 24 Juli 2026 di Jl. Veteran II No. 7C Jakarta Pusat, Dr. Agus Syabarrudin menyampaikan pandangannya dengan lugas tentang fiskal daerah dan potensi membangun kolaborasi PFII dan Pemda bersama Bank Pembangunan Daerah.

“Kita tidak bisa membiarkan daerah terus-menerus terbelenggu ketergantungan fiskal, sementara potensi likuiditas global begitu melimpah,” tegas Dr. Agus di tengah keheningan ruang rapat DPP SMSI.

Menyikapi kebuntuan historis dan tekanan defisit APBD tersebut, Dr. Agus Syabarrudin memaparkan strategi terobosan yang bertumpu pada kolaborasi lintas sektor. Ia menekankan bahwa Pemda tidak bisa berjalan sendirian dalam mengakses kolam likuiditas global.

Diperlukan intervensi strategis dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang didorong untuk berevolusi menjadi Regional Investment Bank.

Katalis PFII dan Sinergi Tripartit Kehadiran Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dipandang sebagai katalis yang tepat waktu. Melalui PFII, daerah memiliki saluran permodalan non-pemerintah secara langsung ke institusi finansial global dan Family Office yang meminati instrumen investasi hijau.

Proyek-proyek daerah, seperti infrastruktur dan pengolahan tata air, perlu diselaraskan dengan standar tata kelola Environmental, Social, and Governance (ESG) agar penyerapan modal asing dapat berjalan optimal.

Sinergi kemitraan tripartit antara Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA), Fundbridge Globalink Investa (FGI), dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) diharapkan dapat menjembatani kesenjangan teknis yang disorot oleh UNDP. Dalam forum rapat tersebut, peran SMSI ditegaskan sebagai pilar edukasi dan literasi publik untuk mengawal transparansi proses ini.

BPD sendiri akan diarahkan untuk memegang peranan kunci, mulai dari:
1) Uji Kelayakan (Feasibility Study): Memastikan proyek daerah memenuhi kriteria ekosistem global.2) Penataan Struktur Instrumen: Menyusun penerbitan sesuai regulasi dan standar ESG. 3) Financial Advisor & Lead Underwriter: Mengawal penuh kelayakan emisi obligasi hingga diserap pasar.

Langkah integratif ini diyakini tidak hanya akan mengakhiri masa tunggu dua dekade penerbitan obligasi daerah, tetapi juga menyelamatkan agenda pembangunan infrastruktur publik yang terancam mandek akibat berkurangnya pasokan dana transfer dari pusat.

Facebook Comments Box

Penulis : Joko

Editor : Wahyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel limadetik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Forum Komunitas Seni Gugat Pengukuhan 25 Anggota DKJ
Pokja Jaga Desa Dikukuhkan, SMSI Jatim Siap Jalankan Amanah
Kemendikdasmen Dorong SMSI Jatim Aktif Sosialisasikan Program Pendidikan ke Daerah
Dihadiri Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, 81 Penyair Indonesia Bicara Tentang Indonesia ‘Merdeka Katamu’
SMSI dan RRI Dorong Kolaborasi Media untuk Perkuat Kompetensi Jurnalis dan Jernihkan Informasi
Kredit UMKM Melambat, Achsanul Qosasi Dorong BI Perkuat Transmisi Kebijakan ke Tingkat Bawah
Sambut Suasana Kemerdekaan RI Ke-81, TISI Luncurkan Buku Antologi Bersama Puisi Dwi Bahasa ‘Bahasa Ibu, Bahasa Darahku’
Anna Ruswan Latuconsina Mengangkat Suara Perempuan Melalui Buku “Arum Jeram Pernikahan”
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 06:56 WIB

Forum Komunitas Seni Gugat Pengukuhan 25 Anggota DKJ

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:33 WIB

Pokja Jaga Desa Dikukuhkan, SMSI Jatim Siap Jalankan Amanah

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Kemendikdasmen Dorong SMSI Jatim Aktif Sosialisasikan Program Pendidikan ke Daerah

Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:08 WIB

Dihadiri Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, 81 Penyair Indonesia Bicara Tentang Indonesia ‘Merdeka Katamu’

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:42 WIB

SMSI dan RRI Dorong Kolaborasi Media untuk Perkuat Kompetensi Jurnalis dan Jernihkan Informasi

Berita Terbaru

Anggota Polresta Sumenep saat melakukan razia Miras di Cafe Lotus

Sumenep

Cafe Lotus Digerebek, 48 Botol Miras Diamankan Polisi

Selasa, 8 Sep 2026 - 11:57 WIB