Media Sosial: Panggung Popularitas atau Kuburan Etika?
Oleh: Moh. Hamdan Rois, S.Pd. _____________________________________
OPINI – “Manusia tidak lagi menghadapi kesulitan menemukan panggung di zaman ini. Yang mulai langka justru kemampuan untuk menjaga martabat.”
Media sosial merupakan salah satu perubahan paling signifikan dalam cara manusia berinteraksi. Saat ini, siapapun memiliki kesempatan untuk menyuarakan pendapat, menciptakan informasi, dan memengaruhi persepsi publik tanpa perlu menjadi seorang reporter, pejabat, atau figur publik. Pada awalnya, pergeseran ini dianggap sebagai pencapaian besar untuk kebebasan dalam mengekspresikan diri.
Meski demikian, terdapat paradoks yang perlahan-lahan menjadi gambaran baru dari masyarakat digital di balik kebangkitan ini. Media sosial sering kali bertransformasi menjadi ruang untuk mengungkap sisi paling intim dari kehidupan individu, bukannya berfungsi sebagai platform untuk menyebarkan pengetahuan dan memperkuat hubungan sosial.
Bahkan tragedi pelecehan seksual sering menjadi konsumsi publik daripada mendapatkan perlindungan bagi korbannya; pertengkaran rumah tangga disiarkan secara langsung; perceraian menjadi serial televisi yang ditunggu jutaan orang; dan konflik keluarga diperdebatkan di ruang publik.
Fenomena ini menunjukkan sebuah realitas yang mengkhawatirkan: perbatasan antara kepentingan masyarakat dan rasa ingin tahu masyarakat semakin tidak jelas. Apa yang seharusnya diselesaikan dengan empati justru dipertontonkan demi memperoleh perhatian. Di sinilah persoalan sebenarnya bermula.
Media sosial mengalami tantangan besar akibat perubahan pola pikir manusia, yang berpindah dari memelihara integritas menuju mencari perhatian, bukan karena faktor teknologi itu sendiri. Etika sering kali menjadi korban pertama ketika perhatian (Attention) menjadi uang.
Media sosial menciptakan sebuah sistem di mana perhatian dianggap sebagai aset. Semakin kuat emosi yang ditimbulkan oleh sebuah postingan, semakin tinggi kemungkinan untuk memperoleh likes, views, shares, dan pengikut tambahan. Dalam paradigma ini, kesedihan orang lain berfungsi sebagai penggerak bagi algoritma. Padahal algoritma hanyalah sistem. Ia tidak memiliki nurani. Yang memiliki nurani adalah manusianya.
Teknologi Tidak Pernah Bersifat Netral
Marshall McLuhan, seorang ahli komunikasi dari Kanada, menyatakan, “Medium is massage”. Ide utamanya adalah bahwa media tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga memengaruhi cara manusia berpikir, merasakan, dan berinteraksi satu sama lain.
Media sosial tidak hanya memungkinkan individu untuk berkomunikasi, tetapi juga memunculkan budaya komunikasi yang baru yang sangat responsif, cepat, dan bergantung pada perhatian publik.
Sebut saja Neil Postman mengingatkan bahwa setiap teknologi membawa “Bias” tertentu terhadap kebudayaan. Dalam komunitas yang didominasi oleh media visual, kesenangan secara bertahap menggeser pemikiran mendalam. Yang menarik lebih dihargai daripada yang benar. Yang viral lebih diperhatikan daripada yang bernilai.
Hari ini, kritik Postman terasa semakin nyata. Di ruang digital, pertanyaan yang sering muncul bukan lagi, “Apakah ini benar?”, melainkan, “Apakah ini akan viral?”.
Lebih jauh, filsuf Korea Selatan Byung-Chul Han menggambarkan masyarakat kontemporer sebagai transparency society masyarakat yang terobsesi membuka segala sesuatu. Transparansi jelas memiliki peran yang signifikan dalam konteks publik, namun ketika diterapkan secara berlebihan dalam ranah pribadi, ia berujung pada kehilangan privasi. Individu tidak lagi dihormati karena martabat mereka, tetapi lebih kepada kemampuan mereka untuk menarik perhatian.
Sebagai akibatnya, platform media sosial secara bertahap mengubah budaya rasa malu menjadi budaya pamer, budaya klarifikasi menjadi budaya asumsi, dan budaya menjaga kehormatan menjadi budaya memamerkan kehidupan orang lain.
Ketika Aib Menjadi Komoditas
Fenomena yang paling meresahkan bukanlah jumlah pengguna platform media sosial, tetapi pergeseran penderitaan manusia menjadi barang dagangan digital. Saat ini kita melihat bagaimana pertikaian dalam keluarga diubah menjadi konten yang berseri. Proses perceraian disebarluaskan mulai dari tahap mediasi hingga keputusan pengadilan. Perselingkuhan direkam dan disiarkan secara langsung. Anak-anak ikut terseret dalam konflik yang jejak digitalnya akan terus hidup bertahun-tahun.
Ironisnya, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penonton. Kita juga memberikan dorongan terhadap budaya tersebut melalui interaksi seperti klik, komentar, dan berbagi. Semakin banyak perhatian yang diterima, maka semakin banyak pula manfaat sosial dan ekonomi yang didapatkan oleh para pembuat konten.
Dengan kata lain, meskipun algoritma dapat meningkatkan visibilitas konten, algoritma itu sendiri tidak memaksa individu untuk memanfaatkan kesedihan orang lain. Pilihan itu tetap merupakan keputusan moral manusia.
Saleh Digital: Keberkahan yang Tidak Berhenti di Masjid
Dalam tradisi Islam, salah satu tujuan utama dari syariat (Maqāṣid al-syarī’ah) adalah ḥifẓ al-’irḍ, yang berfungsi untuk menjaga harga diri dan derajat manusia. Para ahli agama mengungkapkan bahwa syariat bertujuan untuk perlindungan tidak hanya pada agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, tetapi juga untuk menjaga kehormatan individu dari penghinaan, fitnah, pengungkapan aib, serta semua bentuk penurunan martabat.
Oleh karena itu, pelarangan terhadap ghibah, namimah, tajassus, fitnah, dan penyebaran informasi yang tidak jelas bukan sekadar norma moral individu. Semuanya merupakan instrumen syariat untuk menjaga ’irḍ (Kehormatan manusia).
Dalam dunia digital, prinsip ḥifẓ al-’irḍ menjadi semakin signifikan. Menekan tombol “Unggah” sekarang tidak hanya sekadar langkah teknis, tetapi juga sebuah keputusan etis. Setiap gambar, video, komentar, atau tangkapan layar yang dibagikan dapat berpotensi meningkatkan atau bahkan merusak martabat individu. Inilah saatnya kita memerlukan kerangka baru yang dapat kita sebut sebagai saleh digital.
Saleh digital bukan hanya sebatas keterampilan dalam mengoperasikan teknologi, melainkan juga menjadikan teknologi sebagai wadah praktik akhlak. Ini adalah bentuk kesalehan yang tercermin dalam cara seseorang mengoperasikan kamera, menulis komentar, berbagi informasi, dan menghormati batas antara area publik dan pribadi.
Individu yang saleh dalam ranah digital akan mempertimbangkan sebelum melakukan unggahan: Apakah informasi ini akurat? Apakah ini memberikan manfaat? Apakah ini dapat menyakiti kehormatan seseorang? Apakah unggahan ini mendapatkan ridha dari Allah?. Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih krusial daripada sekadar menghitung jumlah tampilan.
Mengembalikan Martabat Manusia
Peradaban digital tidak akan runtuh karena kecanggihan teknologinya. Ia justru terancam ketika manusia kehilangan kemampuan membedakan antara hak publik untuk mengetahui dan hak seseorang untuk tetap bermartabat.
Media sosial akan selalu menawarkan panggung. Algoritma akan terus mengejar perhatian. Popularitas akan tetap menjadi godaan yang menggiurkan. Namun, martabat manusia tidak boleh menjadi harga yang dibayar untuk semua itu.
Orang-orang dewasa ini memiliki banyak ruang untuk berbicara. Kemampuan untuk menahan diri menjadi langka. Kesalehan digital mengingatkan kita bahwa tidak semua yang dapat diterbitkan seharusnya muncul di publik di tengah budaya yang mendorong “Unggah sekarang, baru pikir. ” Sebab martabat manusia lebih penting daripada satu unggahan yang viral.
Penulis : Moh. Hamdan Rois
Editor : Wahyu











