UA-110482044-1, G-W7VVX1GT8W

Awal Kemarau, Terdapat Desa di Sumenep Mulai Krisis Air Bersih

kekeringan
Ilustrasi kekeringan

SUMENEP, limadetik.com – Meskipun masih memasuki awal musim kemarau, terdapat desa di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur yang mulai kekurangan air bersih yakni Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan.

“Sejak awal bulan lalu warga di sini mulai kekurangan air bersih,” kata salah satu warga Desa Montorna, Ahmad (36) Senin, (13/7/2020).

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Buktinya, warga harus membeli air bersih Rp 350 ribu per pick up. Jika digunakan untuk kepentingan mandi dan konsumsi, satu kali beli diperkirakan hanya cukup lima hingga tujuh hari pemakaian.

Baca Juga :   Merakyat, Cabup Fattah Jasin Nikmati Rujak Desa

Selain itu sebagian warga memanfaatkan air bersih sisa musim penghujan. Caranya warga membuat tandon air seperti sumur guna menampung air hujan. Sayangnya, sampai saat ini belum ada suplai air bersih dari Pemerintah.

Terpisah, Kepala Desa Montorna, Ach. Junaidi membenarkan bahwa saat ini di desanya mulai krisis air bersih. “Ini sudah berlangsung setiap tahun,” ucapnya.

Dia berharap ada perhatian dari pemerintah, semisal pengeboran air. Sehingga warga tidak selalu kekurangan air setiap tahun.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, R. Abd. Rahman Riadi beberapa waktu lalu mengatakan, terdapat 38 desa yang berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau ini.

Baca Juga :   Peringati Maulid Nabi, Pengurus Masjid Ibadurrahman Hadirkan Wakil Bupati Sumenep

Puluhan desa itu tersebar di 10 kecamatan, salah satunya Kecamatan Pasongsongan, Dasuk, Batuputih, Batang-batang, Talango dan Kecamatan Saronggi.

“Desa-desa itu rentan terjadi kekeringan. Saat ini kami sedang melakukan pemetaan,” kata R. Abd. Rahman Riadi, Kepala BPBD Sumenep.

Dikatakan, untuk menentukan daerah menjadi zona kekeringan menggunakan tiga kriteria, salah satunya interfensi kegiatan penanganan kekeringan dari OPD terkait, seperti Dinas PUPR dan Cipta Karya, pemetaan dari BPBD sendiri berdasarkan data kekeringan yang ada dan dari informasi masyarakat sekitar. (hoki/yd)

Baca Juga :   Identitas Korban Pembunuhan Akhirnya Terungkap

Tinggalkan Balasan