Ilustrasi

SUMENEP, Limadetik.com – Petani tembakau meminta agar pemerintah turun tangan dalam penentuan harga tembakau. Pasalnya, sebagian petani di Sumenep, Jawa Timur mulai panen.

Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan limadetik.com, harga tembakau rajangan di tiap-tiap kecamatan berbeda. Di Kecamatan Guluk-guluk saat ini harganya berkisar Rp 35 РRp 45 ribu per kilogram. Sedangka di Kecamatan Pasongsongan berkisar Rp.45-50 ribu per kilogram.

Bagi petani harga tersebut dinilai belum ideal. Karena biaya operasional yang dikeluarkan petani pada musim tanam tahun ini cukup mahal dibandingkan musim tembakau tahun lalu.

“Maka dari itu, kami harap pemerintah turun tangan untuk memperjuangkan nasib para petani tembakau,” kata Ketua Himpunan Tani Indonesia (HKTI) Sumenep, Moh. Ramzi, Rabu (1/8/2018).

Menurutnya sudah saatnya pemerintah mengatur standarisasi harga tembakau.Apalagi bagi warga Sumenep tembakau masuk salah satu tanaman yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan sandang dan pangan.

Kata Ramzi, biaya yang dihabiskan oleh petani pada musim kali ini cukup besar. Buktinya untuk biaya air saja misalnya,di Kecamatan Guluk-guluk dipatok Rp100 ribu per 1 ribu pohon tembakau.

Berbeda dengan yang dialami petani asal Kecamatan Pasongsongan. Mereka harus membayar air sekitar Rp80 ribu per jam. Itupun petani tidak maksimal menggunakan air untuk siram tembakau. Karena sumber air yang dikelola pihak swasta sangat terbatas.

“Standarisasi harga tidak bisa diberlakukan tanpa ada payung hukum yang menaungi. Semisal Perda (Peraturan Daerah) yang spesifik mengatur dan melindungi petani,”terangnya.

Perda itu nanti kata dia, tidak hanya mengatur soal harga, melainkan juga mengatur pengambilan poster (contoh) oleh pihak gudang atau pedagang dari petani.

“Karena selama ini banyak petani yang mengeluh karena pengambilan poster terlalu banyak,” tukasnya.(hoki/rud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here