https://limadetik.com/

CHANGE

  • Bagikan
IMG 20200219 121009

Sumenep, 19 Februari 2020

Limadetik.comOleh : Khoirun Nisak Imelia Putri

https://limadetik.com/

Sinar mentari pagi menelusup masuk, mencari celah antara tirai itu. Bau tanah menyemerbak, tercium selesainya turun hujan. Kicau burung membangunkan semangat pagi. Meski diri tak ingin beranjak dari hangatnya selimut, tapi apalah daya ia harus bergegas.

Ayu namanya, seorang wanita cantik dan cerdas. Memiliki keuletan dan ketekunan yang tak diragukan lagi. Sebagai designer dan memiliki beberapa butik di beberapa kota tak pernah membuatnya berpaling dari kata syukur mengingat betapa beeruntungnya ia kini. Mulanya ia hanya gadis kecil yang kumuh dan tak tau apa itu pendidikan tinggi. Ia hanya sempat merasakan bangku sekolah dasar sampai kelas empat. Korban dari kemiskinan yang melanda. Orang tuanya hanya buruh serabutan di pasar. Ia memiliki tiga adik, satu laki-laki dan sisanya perempuan.

Ayu adalah anak pertama dari ketiganya. tak bisa dimungkiri, bahwa kerap kali ia membantu perekonomian keluarganya. Ia menjual permen gula yang dibuat sendiri di rumahnya. Banyak yang ia lewetkan. Banyak hal yang ia tidak ketahui tentang kemajuan. Ia tertinggal masa ceria kanak-kanak. Hidupnya hanya dihabiskan bekerja, bekerja dan terus bekerja. Ia rela tidak melanjutakan pendidikannya asalkan adik-adiknya tidak bernasib sama dengan dirinya.

Ia hanya bisa berusaha membantu meringankan beban keluarga. Dengan berbekal satu plastik permen, ia berjalan sepanjang desa untuk menawarkan dagangannya.

Hanya sandal jepit kumuh yang menemaninya berjalan, menjadi saksi dan mengatakan pada dunia bahwa ia tak ingin menyerah. Setelah habis dagangannya ia pulang kerumah gubuk di pinggir desa, tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Tempat ia bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi.

Malam hari, adzan mulai berkumandang. Saatnya ia mengaji ke surau sebelah, surau Datuk Ahkam. Itu adalah nama guru ngaji di desa itu. Orangnya sangat baik, dermawan, penyabar, dan merupakan orang yang dipandang di kota ini.

“Amak !! Ayu pergi ngaji !” Ujarnya berteriak dari pekarangan rumah.

“Iya, hati-hati jangan lupa ajak adikmu” ujar Amak.

“Iya, ayo Natta, mana Wardah?”.

“Tak tau sudah berangkat awal mungkin”

“Oh, baiklah mari berangkat”.

Kaki kecilnya mulai bergerak, menapaki jalan setapak di ujung desa bersama adiknya. Ia masih setia menggenggam tangan milik adiknya. Pulang mengaji ia bergegas membantu Amak didapur seperti biasa, ia membuat permen untuk dijual besok.

“Amak, mana Apak?”.

“Apakmu kurang sehat badannya panas dari semalam, tapi sudah membaik kayaknya

”Mendengar itu, sontak membuat Ayu pergi ke kamar Apaknya, ia melihat sang Apak yang sedang tertidur pulas. Ia memasuki ruangan dengan langkah hati-hati takut membangunkan Sang Apak. Ia mendekat ke sisi Apak, ia pandangi wajah yang sudah tampak tua. Terlihat begitu letih menanggung keadaan keluarga. Ia adalah sosok Apak yang teladan. Kerap kali ia menyuruh Ayu agar berhenti bejualan tapi Ayu selalu bisa meyakinkan sang Apak. Lambat laun mata Apak terbuka, tampak jelas guratan kesediham disana, tapi berbanding terbalik dengan senyuman yang berusaha ia ukir disana.

“Mendekatlah Ayu !” Ayu mendekat pada sang Apak

“Apak sakit?”

“Tidak, Apak hanya sedang letih saja”

“Apak” mata Ayu berkaca-kaca, tak kuasa memelihat sang Apak terbarimg lemah.

“Jangan menangis Ayu anak baik, Apak sayang Ayu” sang Apak tak kuasa membendung tangisnya

“Maafkan Apak, Apak masih belum bisa membuat Ayu, Amak, dan adik-adik bahagia. Apak mohon Ayu jangan benci Apak, Apak sayang sangat sama Ayu” ujarnya serak

“Apak jangan bicara seperti itu, Ayu sayang Apak. Apak orang yang paling Ayu sayang.

“Apak ingin berpesan tolong jaga Amak dan adik-adikmu. Ayu anak baik, Amak yakin Ayu bakalan jadi orang besar, usaha dan kerja keras. Ayu harus yakin bahwa Allah sayang sama orang baik.

”Itulah sepenggal ingatan sebaris pesan dari Apak sebelum beliau pergi untuk selamanya. Apak mengidap batuk berdarah yang tak kunjung mendapat pengobatan. Apaknya pergi dua hari setelah percakapan singkat itu. Ketika Sang Apak melaksanakan shalat isya’ di kamarnya. Ketika sujud terakhir. Entah mengapa beliau tak kunjung bangun dari sujudnya, ternyata beliau lebih dulu dirindu oleh Sang Pencipta.

Ayu memulai kehidupan baru tanpa Apak. Menjalani hari-hari seperti biasa dengan bayang-bayang masih kehilangan. Akan tetapi lambat laun ia mulai nerima keadaan. Tapi nahas, nasib baik masih belum berpihak pada Ayu, lagi-lagi ujian menimpanya. Ia harus kehilangan orang yang ia sayangi, Amak dan kedua adiknya, setelah tsunami menerpa desa satu tahun setelah kematian Apaknya.

Dari berberapa orang yang selamat ada dirinya di sana, si gadis kecil yang sempat terombang-ambing, terhempas oleh derasnya air, tersangkut dan terbentur beberapa pohon dan puing bangunan. Beberapa luka di sekujur tubuh terlihat ketika ia ditemukan oleh pihak evakuasi, Betapa malangnya gadis kecil itu, betapa hancur hatinya, betapa remuk batinnya, betapa jahatnya takdir ini padanya. Hanya putus asa yang ia rasakan.

Kesedihan yang ia rasakan, hanya sebaris kata yang ia pikirkan “apa yang harus ku lakukan “ lirihnya. Berteman malam yang pengap, di sini di tempat evakuasi ia menginap, besama korban yang selamat lainnya. Entah sejak kapan kabar itu merambat luas, tanpa terasa kabar ini terdengar oleh seseorang yang berhati malaikat yang mau merawatnya dan menyekolahkannya dengan layak.

Yaitu kerabat jauh dari ibunya yang tinggal di lain kota dengan yang ia tempati. Banyak yang ia lewati bersama lunturnya kesedihan yang ia rasakan, banyal hal yang harus ia kejar. Latar belakang yang ia miliki tak pernah ia jadikan hambatan. Berbekal tekad yang kuat, kesempatan itu tak disia-siakan olehnya.

Hingga kini, setelah apa yang terjadi tak pernah sedikit pun terlupa dengan nikmat yang Tuhan berikan padanya. Ia meyakini sebab dan akibat semua ini terjadi karena memang yang terbaik untuknya. Kini, gadis kecil itu menjelma sebagai wanita cantik dan sukses.

Ia menyadari ia yang kini adalah hasil dari orang-orang yang baik hati dan tentunya berkat kerja keras yang dimilikinya. Tak hentinya ia bersyukur. “Hari kemarin adalah sejarah, hari esok adalah misteri dan sekarang adalah anugerah. Maka yang bisa memanfaatkan hari sekarang yang akan menuai hasilnya” batinnya

SELESAI

Penulis adalah  Siswa SMA Plus Miftahul Ulum, Kelas : X-E

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan