Lamongan, 2 April 2019.

LAMONGAN, Limadetik.com — Menjadi santri yang tinggal di lingkungan pesantren seringkali dinilai hanya berkutat pada kegiatan keagamaan, mengaji Alquran dan kitab kuning dari pagi sampai malam, belum lagi dengan tembok pembatas yang mengilingi linkungan pesantren, seolah-olah menjadi tolak ukur untuk menilai bahwa santri adalah kaum yang teralienasi.

Pemahaman primodialisme yang disematkan pada kaum santri seakan menjadi dikotomi antara dunia pesantren dan dunia wira usaha yang pada tataran realitas sosialnya setiap orang memiliki hak yang sama untuk melakukannya.

Namun, di Pondok Pesantren Maulana Ishaq yang berlokasi di Desa Kemantren, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, para santri tidak hanya disuguhi dengan kajian-kajian keagamaan dan kegiatan shalat berjamaah, sebaliknya mereka dibina dengan kemampuan usaha terutama di sektor peternakan dan agribisnis.

Bahkan, saat ini dari usaha peternakan yang dilakukan para santri tersebut mampu memasok kebutuhan daging domba di pasar-pasar lokal dan modern di wilayah Lamongan dan Bogor serta turut berkontribusi pada program ekspor 6000 domba pemerintah Indonesia ke Malaysia.

Meskipun saat ini usaha peternakan yang dilakukan di Pesantren Maulana Ishaq dinilai mulai mendapatkan hasil, namun keberhasilan pondok pesantren yang didirikan KH. Abdul Wahid tahun 2012 tidaklah diraih dalam waktu yang singkat dan tanpa perjuangan.

Pesantren yang tergolong sebagai pesantren Salafiyah ini selalu berusaha membuka dan menerima ide-ide serta pemikiran modern yang membangun agar cita-cita menjadi pesantren kreatif dan bermanfaat bagi masyarakat dapat benar-benar dirasakan.

Saat ini pesantren Maulana Ishaq memiliki ratusan santri yang datang dari berbagai penjuru wilayah Indonesia, di antaranya Bojonegoro, Lamongan, Makasar, Ambon, Rembang, Tuban, dan Nganjuk. Jumlah santri makin tahun mengalami peningkatan, dibarengi juga dengan perbaikan fasilitas pesantren yang terus ditingkatkan. Termasuk membangun kandang ternak domba dengan populasi 500 ekor, Balai Pertemuan, Kantor Yayasan, Masjid, Taman Baca, dan Gedung Madrasah, serta fasilitas-fasilitas umum.

Pesantren Maulana Ishaq memang menjadi pesantren yang memiliki cirikhas tersendiri, di mana peternakan domba pedaging terus dikembangkan sebagai sarana memberikan pengajaran wira usaha bagi santri agar mampu menjadi santri yang mandiri, di samping itu kegiatan kepesantrenan juga tidak lupa untuk senantiasa ditingkatkan sebagai dasar dalam melahirkan santri yang mandiri, religius, dan beraklakul karimah.

Agung Pranata, Guru Peternakan MA Vokasi Pesantren Maulana Ishaq menuturkan, bahwa kegiatan usaha penggemukan domba yang dipraktekkan di lingkungan pesantren Maulana Ishaq merupakan program pesantren sebagai upaya mewujudkan ekonomi mandiri. Di samping itu, usaha penggemukan domba juga menggunakan sistem pakan fermentasi, sehingga tidak membebani santri untuk ngaret (mencari rumput) setiap hari.

“Komposisi pakan fermentasi menggunakan complete feed di antaranya bungkil kopra, bungkil sawit, dedak, dan tumpi jagung. Pakan tersebut kemudian difermentasi menggunakan mikroba em4, gula tetes dan urea. Selanjutnya setelah proses pencampuran pakan selesai, pakan tersebut kemudian disimpan di dalam drum ukuran sedang dalam keadaan kedap udara selama 21 hari” kata Agung.

“Proses pengolaan pakan dilakukan oleh santri. Kenaikan bobot domba menggunakan pakan karya santri ini naik 4kg perbulan”, tegas Agung Pranata.

Bapak Sai’in, salah satu penduduk desa yang tinggal di samping pesantren menuturkan, bahwa kegiatan usaha penggemukan domba yang dilakukan di Pesantren Maulana Ishaq merupakan sebuah ide yang kreatif guna memberikan kegiatan tambahan bagi santri. Selain itu, dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk ikut belajar sistem ternak yang dipraktekkan.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Maulana Ishaq, KH.Abdul Wahid memberikan penegasan bahwa Pondok Pesantren Maulana Ishaq senantiasa membuka pintu bagi siapa saja yang ingin ikut belajar di pesantren, baik belajar keagamaan maupun usaha penggemukan domba.

“Kegiatan peternakan yang dilakukan sengaja dilakukan sebagai upaya untuk membekali santri agar mampu menjadi mandiri yang kemudian mengamalkannya pada siapapun yang membutuhkan”. tutur KH. Abdul Wahid, singkat. (IAI Tabah/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here