https://limadetik.com/

Hairul Anwar dan Potret Politik Etik Yang Mulai Ditinggalkan

limadetik.com - Tak Berkategori
  • Bagikan
IMG 20200616 WA0016

Oleh;Hairus Zaman
(Pecinta Kopi)

Partai politik merupakan organisasi yang mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita mewujudkan ideologi partai. Singkatnya,  setiap partai politik adalah entitas yang menjadi kendaraan untuk mendapatkan kekuasaan dengan tujuan luhur demi untuk mengatur dan mewujudkan kebaikan bersama.

https://limadetik.com/

Dalam dunia politik, partai politik yang  memelihara akar paradigma bahwa politik itu kejam dan segala cara boleh ditempuh tanpa menghiraukan nilai-nilai etika dan moralitas, akan sulit mendapatkan tempat bagi siapapun  yang ingin mendidikasikan dirinya hanya dengan bermodalkan ide dan gagasan cemerlang serta niatan luhur membangun peradaban melalui jalan politik.

Partai Politik yang harusnya menjadi jembatan jalan luhur membangun peradaban ternyata juga dapat menjadi jalan bagi para penghamba kekuasaan yang hanya mementingkan bagaimana kekuasaan itu direbut dan di pertahankan, namun menghiraukan bagaimana caranya supaya dapat memproduksi perubahan dan kemaslahatan.

Akan menjadi petaka bagi peradaban dan kemaslahatan masyarakat, bila ternyata aktor politik yang hanya memiliki orientasi kekuasaan tanpa niatan untuk memproduksi perubahan yang mengisi kolom struktural yang dapat menentukan kebijakan partai. Karena di negeri ini, peran partai politik sangat fundamental di dalam mengisi kolom-kolom kekuasaan.

Sebuah kisah dan cerita, sosok yang bernama Hairul Anwar salah satu milenial  asal sumenep madura yang di kenal banyak kalangan sebagai sosok pengusaha yang memiliki ide dan gagasan cemerlang yang dapat membangun kabupaten Sumenep menuju ke arah kemaslahatan.

Ternyata harus terlempar dari panggung suksesi bursa bakal calon bupati dan bakal wakil bupati kabupaten sumenep 2020. Karena partai politik yang selama ini dia ikut merawat dan membesarkannya, nyatanya diujung keputusan  rekomendasi partai nyatanya jatuh kepada orang bukan kader dari partai politiknya.

Padahal sebelumnya berdasar hasil rapat pleno di internal partainya Hairul Anwar ditunjuk agar masuk dalam bursa Bakal Calon Bupati dan Bakal Calon Wakil Bupati Sumenep 2020. Sebanyak 22 pengurus DPC dan 27 Dewan Pengurus Daerah (DPD) di internal partai politiknya hadir untuk mengusulkan nama Hairul Anwar.

Namun publik dapat menyimpulkan dan menilai serta juga merasakan bahwa Hairul Anwar terdzolimi secara politik. Seseorang yang sebelumnya di usung di internal partainya untuk masuk bursa bakal calon bupati dan bakal calon wakil bupati sumenep, nyatanya yang di tetapkan oleh partai politiknya ternyata orang lain. Namun di sisi lainnya ternyata  banyak pihak yang terus memberikan dukungan kuat baik di luar dan di dalam internal partai yang setia kepada Hairul Anwar. Serta akan berada di belakang Hairul Anwar tentang pilihan politiknya nanti akan berlabuh.

Fenomena yang terjadi kepada Hairul Anwar, semakin melegitimasi pemahaman bagi banyak kalangan terutama kepada kaum milineal dan kaum terdidik bahwa budaya berpolitik yang ada masih jauh dari kata ideal. Karena tidak ada  potret praktek politik yang mengedepankan moralitas dan etika yang di berikan dari partai politik yang bisa publik terima sebagai edukasi politik.

Bukannya perilaku partai politik yang mengesampingkan moralitas dan etika dalam berpolitik hanya akan semakin menciptakan kristalisasi paradigma publik tentang kejujuran dan komitmen adalah sebuah hal yang langka bisa di dapatkan dalam dunia politik.

Publik semakin buram dan akan jauh memaknai tentang tujuan politik dan bagaimana seharusnya berpolitik secara luhur. Bila kita coba kutip misalnya tentang apa itu tujuan politik itu sendiri,  menurut Aristoteles sangatlah sederhana; tujuan politik menurutnya adalah menghantarkan manusia pada hidup yang baik. Namun, apakah mungkin hidup yang baik sebagai tujuan politik akan tercipta bila moralitas dan etika tidak dijadikan sebagai pondasi dalam berpolitik. Bukannya kebaikan itu esensinya mengandung moralitas dan etika.

Sebuah tantangan sebenarnya bagi semua pihak terutama kaum milenial dan kaum terdidik, untuk terus berupaya merubah sebuah fenomena budaya berpolitik menjadi praktek politik dengan menempatkan moralitas dan etika serta gagasan sebagai pondasi. Sehingga kelak anak cucu kita, tidak hanya memahami dan mengetahui bahwa etika politik tidak hanya ada di dalam ruang kelas perkuliahan dan di dalam buku.

Tentunya kita tidak mau, bila kedepan ada lagi sosok yang memiliki ide cemerlang dan keinginan luhur membangun peradaban akan ada yang tersisihkan kembali, hanya karena kalah dengan praktek budaya politik yang tidak mengenal etika dan moralitas.

Hikmah dari kita memahami dan mencoba merenungkan dari fenomena politik yang terjadi demikian, kita dapat memetik Ada dua tantangan bagi kaum terdidik dan kaum milineal yang ingin terjun dalam dunia politik, pertama merubah budaya politik di partai politik. Karena peran partai politik sangat penting di dalam mengisi kolom-kolom kekuasaan, maka budaya politik di partai politik harus dibenahi dan ini membutuhkan orang-orang terdidik yang memiliki niatan luhur. Dengan begitu edukasi politik akan juga terbenahi

Tantangan yang Kedua, terus meningkatkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Kecerdasan merupakan sesuatu yg sangat diperlukan bagi calon pemimpin dan pemimpin,  kecerdasan diperlukan untuk memecahkan masalah yang di hadapi masyarakat. Masalah masyarakat selalu bervariasi dan pemimpin di tuntut untuk selalu dapat menghadirkan inovasi yang dapat cepat dan tepat menghadirkan pemecehan masalah yang dihadpi masyarakat. Hanya dengan kecerdasan dan ilmu pengetahuan pemimpin dapat menghadirkan inovasi dan kemampuan minejerial yang tepat.

Dengan begitu, bila kedua tantangan itu bisa dijawab oleh para kaum terdidik dan milenial yang memiliki keluhuran, maka membangun peradaban yang berkemajuan dan maslahat cepat atau lambat akan mudah di wujudkan.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan