Kasus Pembuangan Bayi Harus Menjadi Referensi Untuk Memperkuat Regulasi

LIMADETIK.com — Oleh : Subliyanto

Mulai tanggal 6 sampai dengan tanggal 8 Maret 2019, yang menjadi tranding topic pada laman limadetik.com adalah sosok bayi (limadetik.com , search : Bayi). Berita miris yang sangat membuat kita sebagai pembaca rasanya ingin menangis karena melihat fakta dan realita sosial yang menimpa bayi yang tidak berdosa, dan sangat memprihatinkan.

Tentu sudah seharusnya kabar ini menjadi renungan yang mendalam bagi kita para orang tua. Betapa tidak, sosok bayi suci menjadi korban gelapnya pandangan orang tuanya, sehingga kegelapan itu menghilangkan kesadarannya bahwa anak itu adalah titipan dari Tuhannya.

“Bayi yang Dibuang Ibu Kandungnya Diduga Hasil Hubungan Terlarang”, demikian Judul Berita limadetik.com (08/03/2019). Terlepas dari itu semua, dari manapun anak itu “diperoleh”, yang pasti dan yang perlu digaris bawahi adalah bahwa bayi yang baru lahir adalah suci dan tidak berdosa. Maka juga berhak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya sebagaimana layaknya bayi yang lainnya.

Baca : Bayi yang Dibuang Ibu Kandungnya Diduga Hasil Hubungan Terlarang

Jika memang anak tersebut “hasil” dari hubungan yang tidak sah menurut agama, Islampun juga telah mengaturnya dengan jelas, serta semua itu bisa kita temukan sajiannya dalam kajian-kajian fiqih yang sudah sangat mudah untuk kita dapatkan, apalagi saat ini kita berada di era informasi dan teknologi (IT).

Tidak hanya dalam pandangan agama, tapi realitas sosial ini sangat patut kiranya untuk menjadi referensi bagi para pemerintah selaku pemangku kebijakan dan  sebagai pilar problem solver, guna menjadi pedoman lahirnya regulasi-regulasi riil yang dapat meminimalisir bahkan menzerokan maraknya pergaulan bebas.

Karena tentunya selain dari minimnya pemahaman konsep keagamaan dari para generasi yang berdampak pada terjadinya degrdasi moral pada mereka, peluang-peluang terjadinya pergaulan bebas juga menjadi faktor dominan dari sikap-sikap amoral generasi penerus bangsa.

Sebagai elemen utama dalam membentengi ini tentu adalah orang tua dan keluarga. Namun demikian juga harus ditopang secara bersama dan bekerja sama oleh semua pihak sesuai bidangnya masing-masing. Maka dengan adanya hubungan sinergitas tersebut, setidaknya dapat meminimalisir, bahkan menzerokan situasi kondisi sosial yang mempunyai value merah di masyarakat kita.

Bukan hanya sebatas keluarga yang merasakan “keaiban” jika hal yang tidak diharapkan semacam itu terjadi disebabkan karena bebasnya pergaulan. Tapi dalam kacamata lingkup yang lebih besar yakni berbangsa dan bernegara “pemerintah” pun kena getahnya, mulai skala dusun hingga skala kabupaten, atau bahkan bisa wilayah dan nasional, apalagi dengan gesitnya media informasi yang didukung dengan canggihnya teknologi saat ini sudah menjadi penyempurna dari semuanya.

Sehingga membangun sinergi antara orang tua, tokoh, ulama’, dan aparatur pemerintah, serta media sangatlah penting untuk membentengi masyarakat kita khususnya para generasinya, agar terselamatkan dari hal-hal yang bersifat kenakalan, yang efek dari kenakalannya sudah pasti kita semua tidak harapakan.

Semoga catatan singkat ini menjadi renungan bagi kita semua untuk terus berikhiyar sesuai peran dan fungsi kita masing-masing, guna terciptanya kondisi dan situasi bangsa yang lebih baik. Amin, wallahu a’lam ()

 


Penulis adalah pendidik asal Pamekasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here