umroh 12 hari

Mbah Baenna Bertahan Hidup di Laut Lebih Satu Bulan

Selasa, 15 Oktober 2019
Limadetik.com, Oleh : Yant Kaiy

 

ARTIKEL – Pelabuhan pantai pesisir Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, memiliki beragam cerita unik di masa lampau. Dikatakan unik karena di pelabuhan ini ada seorang nelayan Pasongsongan yang mampu bertahan hidup lebih dari satu bulan di tengah laut. Peristiwa kecelakaan laut ini terjadi sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya di era 1930-an.

umroh 9 hari

Alkisah, adalah seorang bernama Mbah Baenna berlayar mengarungi lautan luas. Bukan mencari ikan. Tapi ia seorang pedagang sembako. Berangkat dari pelabuhan Pasongsongan ia membawa sembako yang tak ada di Jawa. Dari Jawa ia membeli barang untuk dijual ke Sulawesi. Begitulah alur perniagaan Mbah Baenna.

Ketika Mbah Baenna sedang mengadakan perjalanan laut, dari Jawa menuju Sulawesi, tiba-tiba ada ombak besar disertai angin kencang menenggelamkan perahunya. Semua temannya tidak selamat, meninggal dunia. Tinggallah ia seorang diri dengan mengikat tubuhnya pada bambu layar. Ia diombang-ambingkan gelombang laut yang ganas.

Lebih satu minggu dari peristiwa kecelakaan laut tersebut, tiba-tiba ada seekor ikan raksasa mendekat padanya. Mbah Baenna yang sudah kelelahan hanya bisa bicara lirih, “Hai, ikan. Kalau aku memang ditakdirkan menjadi mangsamu, makanlah aku. Tapi kalau aku bukan mangsamu, maka selamatkanlah aku.”

Lalu ikan besar itu mengitari Mbah Baenna. Seolah ikan itu sangat mengerti. Kemudian ikan itu menyelam dan mendekat ke tubuh Mbah Baenna. Ia berpegangan pada sirip atas ikan. Mbah Baenna dibawanya dengan kencang mendekat pada perahu layar yang juga berdagang sembako.

Ikan itu lalu pergi. Dalam hati ia berjanji, takkan makan jenis ikan yang telah
menyelamatkannya. Kemudian Mbah Baenna minta tolong. Ia terselamatkan oleh perahu dagang yang hendak menuju Sulawesi.

“Di sekitar perairan laut Sulawesi, Mbah saya tenggelam saat itu,” terang Sutiksan, M.Pd. pada limadetik.com di SDN Padangdangan II Kecamatan Pasongsongan. (15/10/1019)

“Sampai sekarang keturunan dari Mbah tidak pernah makan jenis ikan yang telah menolongnya.”

Setahun kemudian Mbah Baenna kembali berdagang. Sebagai nelayan yang dikenal tangguh dalam mengarungi samudra, ia dipercaya sebagai juru kemudi. Malang tak dapat dihadang, kecelakaan laut menimpanya lagi. Kecelakaan yang kedua terjadi ketika Mbah Baenna bersama tujuh awak hendak mengantarkan sembako ke Kalimantan. Di pertengahan laut antara Kalimantan dan Jawa perahunya tenggelam. Ia dan anak buahnya selamat bepegangan pada bambu layar.

Baca Juga :  Tiga Remaja Sumenep Dibekuk Polisi Saat Nyabu

Saban hari, satu demi satu anak buahnya mati. Sehingga tinggallah ia seorang diri. Yang bisa dilakukan Mbah Baenna hanya berdzikir kepada Allah SWT. Satu bulan lebih ia berada di tengah laut seorang diri.

“Pada suatu malam, Mbah melihat empat anak kecil sekitar usia 4 Tahun menghampirinya,” cerita Sutiksan yang merupakan cicit dari Mbah Baenna.

“Kakek kok ada di sini?” tanya salah seorang anak kecil.

“Perahu kakek tenggelam. Semua teman-teman kakek meninggal dunia,” terang Mbah Baenna dalam ketidak berdayaannya.

“Sudah lama kakek di sini ya?” tanya yang lainnya.

“Ya,” jawab Mbah Baenna suaranya lirih. Sedangkan penglihatannya sudah mulai kabur.

“Mari kami bawa kakek ke darat!.”

Tanpa menunggu jawaban dari Mbah Baenna, keempat bocah polos itu menariknya dengan kencang.

“Jangan kencang-kencang!” pinta Mbah Baenna karena ia beberapa kali minum air laut.

“Baiklah, kakek.”

Akhirnya Mbah Baenna terdampar di pesisir pantai Desa Leggung, Kecamatan Batang Batang. Keempat anak kecil itu seketika menghilang. Ia sudah tidak berdaya ditolong orang yang sedang mau melaut.

Setelah sehat Mbah Baenna pulang dengan naik dokar dari Desa Leggung ke Pasongsongan yang berjarak sekitar 37 Kilometer. Sesampai di rumahnya, ia sangat terkejut karena banyak tamu sedang mengenang 40 hari kematian dirinya.

“Ya, Mbah sudah disangka telah meninggal di tengah laut dengan keluarga,” terang Sutiksan. (Yant Kaiy/Yt)

Tinggalkan Balasan