https://limadetik.com/

Novel, Keping Asa

  • Bagikan
1568635094929

Penulis: Yant Kaiy

Judul novel: Keping Asa

https://limadetik.com/

Tujuh belas tahun dalam penjara, perjalanan waktu yang cukup lama, perjalanan waktu yang teramat menyiksa. Kerinduan-kerinduan mendera senantiasa menghias kesunyian yang tak mungkin bisa dihindari. Semua dilakukan karena istri tercinta, namun ketabahan itu serba terbatas. Ia silau akan dunia yang gemerlap. Lalu ia menjadi selir orang kaya, hidupnya pun banyak berubah.

Kupersembahkan novel ini buat kakakku tercinta S. Yohana, yang telah memberiku pelita dalam kesengsaraan, penderitaan, kepedihan. Sehingga diriku mampu berjalan meniti masa depan.

Luka Lama

Dinding tebal dan terali besi yang sangat kuat telah membelenggu sebagian hidupku, sebagian masa depanku di sini membujur kaku dan bisu, aku tak bisa
berteriak. Selebihnya hanyalah sesal tiada arti lagi, menyusup dalam rongga hidupku, menyelinap dalam halusinasiku, mengoyak luka kian menganga. Perih dan
pedih menelikung di dasar hati. Sungguh sangat menyiksa dan hampir saja semua kesabaranku lenyap. Namun sekeping asa masih tertanam di jiwa, tumbuh mekar seiring waktu.

“Kau yang tabah ya!” saran Ustadz Abdullah
ketika aku divonis 17 tahun penjara di pengadilan.
Beliau adalah guru mengajiku.
“Insya Allah, Ustadz.”
“Yang rajin ibadah!”
Ia menepuk bahuku dengan penuh perhatian.
“Baik, Ustadz.”
“Jangan tinggalkan sholatmu. Bertobatlah
kepada-Nya.”
Aku mencium tangannya sebelum aku dinaikkan
ke kendaraan menuju penjara.

Kini aku adalah bagian kehidupan yang terbuang dari kumpulannya. Atau lebih gamblangnya sebagai sampah masyarakat. Aku hidup dalam keremangan, mengais sisa-sisa. Di sini aku biasa bernapas meski sesak terasa. Pengap! Kendati aku tahu hal itu nista, namun aku bersyukur, sebab di sini aku dapat mengingat Tuhan walau sekilas dalam gelap dan itu teramat bermakna. Hari-hari yang melelahkan, membosankan, bahkan tak jarang melahirkan buah sesal, sebentar lagi akan berakhir. Dalam setiap kesempatan aku menghitung jari, kendati itu sebuah pekerjaan membingungkan. Waktu tersisa pada keresahan, kebimbangan, juga ketakutan yang mendera tiap detak jantung. Aku tak mampu berbuat sesuatu meski hanya untuk diri ini. Aku selalu kalah dengan kepahitan yang deras mengalir di sekujur ragaku. Membanjiri persendianku tanpa henti. O… aku benar-benar lelah!

Aku sujud di lantai semen. Aku menangis dan air mata membasahi sajadahku. Mengalir bak anak sungai. Tuhan…dengarkan! Tuhan…kabulkan! Tuhan…kuatkan iman di hati ini!. Rintihan kecil seperti ini senantiasa menghiasi tembok, terali, langit kamar penjara ini. Apalagi ruang yang membelenggu ini sebentar lagi akan kutinggalkan. Maka, tiada salahnya kalau aku berlama-lama sujud dan menangis pada-Nya hanya untuk memohon ampun terhadap dosa yang kuperbuat. Aku harus menjalani neraka dunia, imbalan bagi orang-orang yang mengerjakan dosa, lantaran aku gelap mata telah membunuh Usman. Peristiwa itu terjadi tujuh belas tahun yang lalu, ketika usiaku sembilan belas tahun. Aku betul-betul menyesal melakukan semua itu. Dan pikiran semacam itu tak pernah terlintas dalam benakku sebelumnya. Nasi memang sudah menjadi bubur, tinggallah sesal yang berkepanjangan. Sisa-sisa sesal yang terus memburu setiap gerak ragaku, menyeruak tak terkendali.

Mungkin aku sudah terbius oleh tradisi usang; lebih baik putih tulang daripada putih mata. Tradisi nenek moyangku sebagai “kacong Madura”. Setidaknya demikian kebanggaan bagi masyarakat di tanah gersangku. Tanah tempat aku dilahirkan ke alam fana ini. Memang lebih baik menjadikan musuh seperti abu dan tanah, ketimbang harus menanggung derita malu sepanjang hidupku. Itulah bagian dari pergaulan sehari-hari yang aku lalui. Meski tak jarang nuraniku berontak terhadap semua itu, tetapi semuanya sia-sia belaka.

“Kau jangan lupakan kami, Kri! Kenanglah selalu kami di sini! Kami mungkin tak berarti lagi bagi siapa saja. Hanya pada kau kami berharap,” setengah berbisik Yoga kepadaku, nada suaranya meminta penuh kelembutan, tidak memberingas seperti ketika ia menjadi
perampok sekaligus pembunuh yang amat ditakuti. Aku hanya bisa terdiam. Mematung tidak bergeming. “Kami sangat bahagia dan begitu berharga jika kau lakukan itu. Kami ikut berdoa di sini, semoga kau sukses menempuh hidup di alam kebebasan!” celetuk Adi yang berperawakan tinggi tegap. Kehidupan masa lalunya sebagai Penggerak Organisasi terlarang yang ingin menggulingkan pemerintah, namun gagal dalam sebuah pergerakan, akhirnya mendekam dalam penjara, dan harapan untuk bebas kosong, sebab Adi divonis seumur hidup.

“Aku akan senantiasa mendoakan kalian. Percayalah!” Aku menepuk kedua pundak mereka secara bergantian. Sebagai bentuk solidaritas kesetiakawanan. Meyakinkan mereka dalam galau yang tidak bertepi lagi. “Terima kasih kawan!” sahut Yoga tercekat kalimatnya. Matanya berkaca-kaca. Aku terenyuh mendengar ungkapan kedua sahabatku. Ada nada nada sunyi yang menggeletar. Ada irama lara dari baris-baris kalimatnya. Ada guratan derita pada air mukanya yang sungguh sangat sulit kujabarkan dalam bentuk kata-kata elegi. Ya, begitu sunyi kami di sini.

Malam ini kami duduk bertiga di atas sebuah tikar kumal, saling berhadapan, saling merenungi nasib. Wajah kami serupa wajah-wajah tunawisma, para pengemis. Wajah yang datang dari dunia lain dimana didalamnya ada puing kenistaan dan kehinaan yang berbaur membentuk lingkaran kehidupan sunyi dan haus akan cinta kasih sayang sesama. Tapi, apalah artinya kami. Sebab kami tak ubahnya debu yang seringkali dipermainkan angin lalu menempel di dinding-dinding kaca, dan sewaktu-waktu kami disingkirkan.

Kami adalah kotoran yang mesti dimusnahkan. Sengaja malam ini kami tidak tidur, kami ingin menghabiskan waktu yang sangat bersejarah dalam hidup ini bersama. Kendati sesaat, namun ini sangat berarti sebagai narapidana. Sebab salah satu diantara kami akan perpisah. Sunguh suatu kenyataan yang sangat berat, setelah sekian lama menjalin kemesraan lewat canda dan tawa, berbagai suka dan duka. Meski kami tahu kalau pertemuan dan perpisahan adalah sesuatu yang pasti terjadi pada setiap insan.

Andai… Tidak! Munafik! Betapapun kenyataan terasa menyakitkan, aku harus menerimanya, biarpun terasa menusuk jiwa ini. Toh, harapan sudah terbentang, meski layar masih belum berkembang. Aku harus siap menerima semuanya. Tidak boleh ada yang tersisa sejemput pun. Biarpun kenyataan itu pahit bagi kami terasa. Kami akan siap menghadapinya, seperti ketika kami melakukan sesuatu yang berdosa, seperti ketika kami pertama kali masuk kamar “penyiksaan” ini, seperti ketika kami meninggalkan orang-orang yang kami cintai, seperti…Detik-detik selanjutnya, pintu ruangan kami terbuka. Derit pintu penjara itu mirip sebuah tangisan yang begitu pilu menyayat kalbu.

Derit pintu yang kami nanti, dan kami pun saling berpelukan mesra. Tanpa terasa air mataku mengalir sebelum akhirnya kutinggalkan kedua sahabatku itu.

“Selamat jalan, Kri! Semoga Tuhan memberikan jalan terang bagimu!” ujar kedua sahabatku sembari melepaskan pelukan diantara kami bertiga.

“Amin!” Kami pun berpelukan kembali, sangat erat satu sama lain.

“Jaga sholat kalian!” desahku lirih.“Itu pasti.”

“Aku gembira mendengarnya,” celetuk Yoga
nada suaranya lirih.

Air mata kami berhamburan. Sesekali kami menyekanya dengan tangan. “Saudara Bakri?” tanya salah seorang sipir penjara kepada kami bertiga. “Ya, saya, Pak,” sahutku bergegas keluar dari bilik penjara.

Beberapa orang sipir penjara sudah berdiri di depan pintu jeruji besi. “Tanda tangan ini!” seorang sipir penjara menyodorkan beberapa lembar kertas. “Baik, Pak,” tegasku sedikit dipaksakan.

Debur di dada ini kian berguncang, hebat. Persis dengan debur hati di saat Usman tersungkur di depan mataku bersimbah darah. Masih lekat dalam ingatan, bagaimana Usman mengerang menahan sakit sebelum nyawanya terlepas dari raga. Bacokan dan sabetan celuritku telah menamatkan riwayatnya.

Sebagian anggota tubuhnya terpisah dari tempatnya akibat brutal ayunan amarahku yang membakar habis seluruh kesabaran. Sungai kesadaranku kering oleh panas kemarau kalap. Emi berusaha melepaskan diri dari Usman. Ia terjatuh dari tempat tidurnya. Ia panik demi menyaksikan adegan menegangkan dan mengerikan tersebut, ia tak dapat menyembunyikan paras ketakutannya, ia menjerit sekuatnya sampai akhirnya para tetangga berhamburan masuk bilikku. Mereka yang datang berusaha menenangkanku.

Semua tampak tegang. Suasana rumahku jadi mencekam tanpa batas. Usman telah menodai keharmonisan rumah tanggaku, walau aku tahu ia adalah kekasih istriku sebelum mengikat janji di depan penghulu. Kami ditunangkan ketika kami belum mengerti makna sebuah perkawinan, dan kesepakatan untuk menyatukan kami terlaksana juga setelah ada desakan dari kedua orang tua Emi. Karena kedua orang tua Emi takut menyalahi aturan main dalam kesepakatan yang sudah terikrar, sejalan dengan itu Emi diisukan punya kemesraan “gelap” dengan Usman, maka mereka cepat-cepat menyatukan kami dalam bahtera rumah tangga.

Dan sudah menjadi rahasia umum, kami yang memang belum siap ke arah itu seringkali diantara kami terjadi cekcok karena perbedaan pendapat dan kesukaan. Merasa tidak betah di rumah, ditunjang lagi pekerjaanku sebagai sopir truk yang mengangkut hasil petani dari desa ke kota, akhirnya aku akrab dengan wanita-wanita lacur dan minuman keras setiap aku singgah di sebuah kota. Setelah puas membaui, barulah aku pulang.

Mahligai rumah tanggaku memang acapkali goyah. Bersama istri, aku hambar dalam merajut kasih di peraduan. Tidak ada kemesraan. Tidak kurasakan sebuah kehangatan yang menentramkan jiwa kerontang. Sebenarnya kami melakukan hubungan suami-istri dalam kepalsuan. Aku menyadari betul kalau aku lebih gandrung dengan wanita-wanita bejat ketimbang Emi yang cerewet saat itu.

Di tengah kecewa, merana dan rasa kesepian Emi yang begitu dahsyat, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Usman, bekas pacarnya. Ia menyelinap diantara goyah biduk perkawinan kami. Mereka lalu melakukan perbuatan zina. Hubungan layaknya suami-istri tiap kali aku tidak di rumah. Begitu kata para tetanggaku. Sebelumnya aku tak percaya atas omong kosong itu. Namun setelah kubuktikan sendiri ternyata benar. Rupanya mereka telah melakukan itu berulangkali.

Aku murka seketika. Aku gelap mata. Darahku membuncah, membakar setiap persendianku, menelikung ke otakku tak terkendali. Kemudian kuayunkan celuritku ke tubuh Usman yang tanpa sehelai benang berulang-ulang. Istriku yang saat itu ada di bawah pelukan Usman menjerit sekuatnya demi melihat aku kalap. Dan, selanjutnya aku tinggalkan mereka semua, aku langsung menuju pihak berwajib, menyerahkan diri. Sekalian aku bawa celuritku sebagai barang bukti ke kantor polisi.

Semua itu aku lakukan karena aku tak rela istriku disentuh tangan lelaki lain. Seperti para sang suami di dunia ini, tentu mereka tak rela istrinya, maaf, dicabuli lelaki lain, walau apapun alasannya. Itu soal kehormatan bagi siapa pun. Tidak terkecuali aku. Bayang-bayang masa lalu itu adalah bagian dari perjalanan usiaku di penjara selama tujuh belas tahun. Bayang-bayang yang sangat sulit terhapus dari dasar hati paling dalam. Membelit tanpa tedeng aling-aling.

Kuayunkan kakiku. Udara bebas yang masuk ke rongga dada ini, terasa nikmat. Jauh berbeda di penjara nan pengap itu, serta bau-bau dari desah napas nara pidana, semuanya menyatu dalam bentuk kesunyian dan kerinduan bergelora. Menyasar ke segala penjuru di otakku. Sinar surya dan belaian angin pagi menyentuh sekujur tubuh. Sambil berjalan, kuperbaiki penampilan seolah mengangkat marwah jati diri. Terasa ringan langkah ini menyusuri jalan dengan ramainya kendaraan dan orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Aku tak peduli, terus saja melangkah dan melangka. Menyibak kebebasan sepuas dahaga di raga ini! Kapal penyeberangan merapat ke dermaga, seluruh muatannya laksana tumpah berhamburan. Aku telah berada dalam pelukan bumi Madura tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku begitu damai di dalamnya. Aku menyeruak lebih jauh lagi. Terik matahari, Madura mendekati siang hari, cukup menyengat panasnya di sekujur tubuh. Kubiarkan keringat mengalir. Kubiarkan pandangan mata ini menyusup ke sudut-sudut rumah dan toko di sepanjang perjalanan.

Setelah cukup jauh melangkah, setelah kelelahan mulai menghalangi hasratku. Kemudian aku berhenti di sebuah warung, mengisi perutku yang kosong, menyirami kerongkonganku yang kering. Kusulut sebatang rokok sejenak sebelum melangkah lagi. Sisa uang di saku masih banyak, entah siapa yang mengirimkan uang terhadapku lewat wesel pos. Alamatnya tidak jelas, hanya bertuliskan “Keluargamu di Madura”. Aku sungguh penasaran. Sebab seingatku tak pernah keluargaku mengirimkan apa-apa selama aku di penjara, atau sekedar membesukku dan membawa makanan seperti teman-temanku yang begitu rutin keluarganya datang dan berbincang-bincang.

Tampaknya aku tidak berharga lagi di mata keluargaku, ketimbang teman-teman sesama narapidana. Aku jadi iri. Aku betul-betul tidak punya siapa-siapa di sana, kecuali Adi dan Yoga yang sering menghibur diriku. Namun itupun masih belum cukup. Sehingga sangat wajar kalau aku benar-benar rindu akan kabar tentang tanah kelahiranku yang lama telah kutinggalkan. Benarkah kedua orang tuaku telah melupakan anaknya ini? Benarkah beliau sangat membenciku setelah peristiwa itu? Tetapi mengapa aku didesaknya untuk mengawini Emi yang tak kucintai sebelumnya itu? Mengapa, mengapa? Haruskah aku menyalahkan sebagian mereka, setelah mereka ikut-ikutan membenciku, seperti kebencian masyarakat di sekitarku? Haruskah kebencian dilawan dengan kebencian pula? Tidak, aku tidak boleh dan tidak akan membencinya!

Sebab, karena mereka aku lahir dan besar. Aku harus memberikan yang terbaik bagi mereka, sebagai bentuk pengabdianku yang tulus, sebagai bentuk terima kasihku yang amat dalam atas jasa-jasanya. Tiba-tiba hatiku ingin berada di tengah-tengah keluargaku. Aku telah mempersiapkan segala sesuatunya buat mereka. Langsung aku naik angkutan pedesaan. Pohon-pohon yang rindang dan jalan menuju kampungku masih seperti yang dulu. Tidak banyak berubah, kecuali di kanan-kiri jalan mulai berdiri rumah-rumah penduduk.

Sesampainya di rumah tak kutemui kedua orang tuaku. Sepertinya rumahku sudah lama tak berpenghuni. Benarkah kedua orang tuaku telah meninggalkan rumah ini? Barangkali beliau merasa malu karena memiliki seorang anak pembunuh? Kuteliti semua isi rumahku sekali lagi. Kuat dugaanku, rumah ini memang sudah lama tanpa penghuni. Aku terdiam di sudut ruangan. Aku duduk dan bertanya-tanya, mengurung resah. Tak pernah kubayangkan hal ini terjadi, tujuh belas tahun berpisah, harapan akan mendapat sambutan yang hangat atas kepulanganku ternyata hampa belaka.

Sirna ditelan kecewa. Aku kian terperosok ke dalam jurang kesedihan, dan semakin jauh terjebak di dunia merana. Tercabik luka lama. Lalu tanpa kusadari, dari sudut-sudut mata mengalir air bening, membasahi dadaku. Ya Allah, tolonglah hamba-Mu!…“Kakak….”Tiba-tiba dua sosok yang amat kukenal, adik iparku, Ana dan suaminya menghambur dan mendekatiku. Kami pun melepaskan rindu. Ana adik istriku masih menganggapku sebagai kakak. O…, betapa lapangnya hati ini. Betapa teduh hati ini. Rupanya ia tak banyak berubah, masih setia terhadap diriku yang pembunuh.

“Maafkan kami yang tak membesuk Kakak selama di penjara!” celetuk Hadi suami Ana sangat pelan dan penuh penyesalan. Kulebarkan tanganku dengan sedikit senyum penuh kehangatan.

“Tidak mengapa. Aku sangat bahagia melihat kalian yang sudah dikarunai anak. Siapa namanya?”

“Mimi, Kak….”Kudekati anak perempuan yang berusia tiga tahun kurang lebih itu dengan penuh kasih sayang. Kuciumi pipinya yang montok itu. Tetapi tak seberapa lama Mimi kembali kepangkuan ibunya. Entah, mungkin merasa takut atau bagaimana karena baru pertama mengenalku. Setelah beberapa lama kami berbasa-basi, di suatu detik kesempatanku bertanya, “Kemana kedua orang tuaku, An?.

”Ana tak langsung menjawab. Bibirnya seolah-olah terkunci. Suasana di ruangan tempat kami pun jadi sepi.

Sejurus kemudian Hadi memberanikan diri, “Sudah meninggal, Kak.” tambah Hadi tulus dan nada suaranya datar. Tangannya terus memegangi lenganku. Ia duduk di sampingku.

Pyarrr! Laksana disambar petir disiang bolong. Remuk-redamlah sekujur hidupku. Punahlah semua harapanku. Begitu cepat Tuhan mengambil kedua orang yang sangat kucintai. Kini terasa lengkaplah semua penderitaanku. Aku terduduk lemas. Keduanya membopongku ke tempat duduk.

“Maafkan kami, Kak. Kami hanya menerima wasiat dari beliau untuk tidak mengabarkannya pada Kakak. Katanya, takut bertambah menderita di penjara. Kami harap Kakak memakluminya!” cetus Ana agak bergetar dan hati-hati.

“Maafkan kami, Kak!” timpal Hadi. Kini telah terjawab sudah, pertanyaan yang membuat hatiku merana di balik terali besi. Pertanyaan-pertanyaan rindu yang menghiasi langit dan dinding tebal dalam penjara.“Karena kecelakaan…”

“Kecelakaan?” Aku melotot tidak percaya dengan semua apa yang dikatakan mereka. “Benar!” sela Ana kemudian.

“Saat itu kendaraan yang membawa mereka berdua terlempar sedemikian jauh. Semua penumpang meninggal saat itu juga, kecuali Ibu, Kakak, dan Mas Hadi. Ibu dan Kakak meninggal di rumah sakit, dan di situ pula aku menerima wasiat untuk tidak mengabarkannya pada Kakak tentang kecelakaan tersebut. Kami merasa kehilangan segala-galanya pada saat itu.”

“Ada keperluan apa mereka berangkat bersama? ”tanyaku hampir tidak dapat mengendalikan emosi.

“Membesuk Kakak,” ujarnya selanjutnya. Oh, Gusti! Dosa apakah yang telah diperbuatnya sehingga mereka kau ambil semuanya milik kami. Hadi kemudian menunjukkan bekas-bekas luka akibat kecelakaan itu terhadapku. Lalu kami ziarah ke pekuburan orang-orang yang kami cintai. Doa-doa kami menghiasi relung hati ini. Di atas gundukan tanah gersang kami mencucurkan air mata. Seperti kegersangan hati kami. Kami lebih banyak diam ketika kami meninggalkan persemayaman terakhir orang-orang tercinta.

“Sebaiknya Kakak di rumah kami dulu!” ajak Ana penuh guratan kebimbangan.

Aku menolaknya dengan halus. Tetapi Hadi memaksanya untuk tidak ditempati lantaran masih kotor. Aku pun menurut apa kata mereka. Sebab, aku masih belum siap untuk bersua dengan istriku. Yang pasti, Emi takkan suka dengan kehadiranku. Tapi biarlah. Aku akan menghadapinya dan meminta maaf kepadanya. Mudahkan, pikirku.

Hari ini bulan Agustus, senja begitu indah. Mempesona. Aku melangkah mengikuti mereka, kendati di langkah-langkah kakiku ada kebimbangan. Masihkah Emi mencintaiku?.

Lingkaran Sunyi.

Selesai makan bersama, kami duduk di ruang
tamu. Kami merasa bahagia di tengah-tengah mereka,
walau duka berkepanjangan telah meluluhlantakkan
semua impianku.

Lalu aku bercerita panjang lebar selama di
penjara. Pengalaman pahit itu kupaparkan apa adanya,
tidak ditambah dan dikurangi. Hanya itu oleh-olehku.
Tiada bingkisan yang amat berharga buat mereka yang
merasa memiliki diri ini. Padahal hati kecilku berkata,
mungkinkan Ana dan suaminya masih tetap seperti yang
dulu. Entahlah. Semua masih samar kudalami sikap
mereka. Tetapi aku bahagia Hadi dan Ana menerima
ceritaku.

Tetapi aku tiba-tiba ingat sesuatu. Sesuatu yang
hampir terlupa karena buaian obrolan kami yang renyah
dan terasa akrab. Sesuatu yang menggundahi alam
pikiranku selama ini.

“Emi ke mana?”
Sontak mereka berdua tertegun. Mereka baru
tersadar. Kupandangi wajah mereka satu persatu.
Kutemukan gumpalan-gumpalan resah. Aku tidak teralubanyak berharap dari pertanyaanku. Sebab,
bagaimanapun pertanyaan ini wajar karena aku masih
punya hak sebagai seorang suami atas Emi.

Saat yang dinanti akhirnya tiba, Ana
menceritakan tentang Emi yang meninggalkan rumah
karena bekerja. Itu terjadi setelah kematian kedua orang
tua kami beberapa bulan berikutnya. Betapa pun Emi
sangat membenciku, dan apabila ia mau lepas dariku,
aku tetap akan merelakannya, dan itu haknya.
Wanita yang mana bisa bertahan selama tujuh
belas tahun tanpa belai kasih dari sang suami. Aku
mafhum semuanya.

“Jadi siapa yang mengirimkan uang dua kali padaku. Kami saling berpandangan. Lalu mereka tambah terbelalak ketika kutunjukkan sobekan wesel pos itu.

“Entahlah. Barangkali teman Kakak…” celetuk
Hadi.
“Tapi bisa juga Kak Emi,” potong Ana singkat.”
“Namun, sudahlah! Yang penting kita harus
mencarinya.”

Kalau itu memang benar, berarti Emi masih
mempunyai rasa cinta kepadaku, meski cinta itu amat
nisbi dan terpaksa.

Aku tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, tidak
juga Ana. Kuakui, akulah yang terlalu kerdil dalam
berpikir dan mengambil keputusan terlalu cepat. Aku
bodoh, cengeng… Biasanya hanya menangis, menyesali
yang sudah terjadi. Padahal air mata seorang lelaki
begitu mahal artinya, sekaligus nilainya.

Aku juga tidak boleh menyalahkan siapa-siapa,
juga Hadi yang amat setia menantiku tiap menjelang
tidur dua pekan ini. Aku sadar, diriku terlalu ceroboh
dalam bertindak dan begitu gegabah dalam mengambil
sebuah keputusan. Aku pernah menempeleng Emi ketika
kami cekcok. Dan tak jarang pula, tangan ini selalu
berbicara dalam permasalahan sepele yang tak perlu
dipertentangkan. Waktu itu, sebagai seorang wanita, Emi
hanya bisa menangis. Ia memang lebih banyak
mengalah. Sebab ia juga menyadari akan selera kami
yang berbeda.

Tapi aku tak pernah mau berpikir tentang
kebutuhan Emi, sedangkan ia sebaliknya. Aku sungguh
sangat berdosa terhadapnya.

Apalagi Emi sangat setia menantiku, kata Ana
dua hari yang lalu. Bahkan dua tahun yang lalu ada
seorang jejaka yang mau melamarnya, tapi apa nyatanya,
Emi dengan keteguhan hatinya menolak mentah-mentah, bahwa dirinya masih mempunyai seorang suami. Benar- benar kesetiaannya terhadapku sangat kuat.

Terasa lengkaplah dosa-dosaku kepadanya. Entah dengan apa
aku menebusnya. Lantaran kurasakan dosa-dosa itu
begitu meruah di dadaku, begitu menyesakkan.
Dalam rumah seorang diri, kutemukan masa lalu
yang tersisa dan masih membekas erat di sisi rumahku.
Semuanya melahirkan rasa insyaf yang bulat. Insyaf
yang tak bisa ditawar-tawar.

Bila malam menjelang, sunyi menyengat
kesendirianku. Aku menyibukkan diri, sekedar
mengobati duka lara. Barangkali akan sembuh untuk
langkah diri selanjutnya, meski tidak total, yang penting
aku mengusahakannya. Sebab kalau dibiarkan, akan
berkembang menjadi penyakit yang mengenaskan.
Mulailah aku bercocok tanam. Pekarangan di
belakang rumah yang cukup luas mulai kugarap. Begitu
lama tanah di belakang rumahku itu merana tanpa
sentuhan tangan-tangan berotot kuat. Sebagai pewaris,
aku mempunyai keharusan untuk melanjutkan pekerjaan
Ayah. Ya, Ayah dulu juga pernah berpesan kepadaku:

“Ayah sebagai seorang petani, Kri. Ayah
mengharapkan kau juga nantinya menjadi seorang
petani. Seperti ayah. Kau jangan menggantungkan cita-
citamu terlalu muluk. Lihatlah dirimu!”

Kalimat itu pernah dicetuskannya, ketika itu aku
memilih jalan hidup sebagai sopir truk. Atas keteguhan
hati dan berapa alasan yang aku kemukakan, akhirnya
Ayah merestuinya. Dan kini, aku telah menunaikan

“Amanat” ayah untuk menjadi seorang petani.
Kesibukan seorang petani, ternyata telah
mengikis sebagian masa laluku. Tidak hanya itu,
tubuhku kini nampak segar dan otot-ototku mulai
mengencang. Bahkan, tak jarang waktu seharian
kuhabiskan di ladang, mencangkul dan menyabit
tumbuhan liar di antara tanaman yang kupelihara.
Tak terasa, waktu begitu cepat menggilas usia
dan kesibukanku. Sudah empat bulan usia tanamanku.
Tiba juga saatnya panen, memetik hasil jerih payahku
selama ini.

______………______

“Akhirnya kakak mau meninggalkan kami juga?
Setelah kami ditinggal oleh Kak Emi sekian lama,”
cegah Ana dan Hadi ketika diriku mengungkapkan
keinginan untuk mencari Emi.
“Yang pasti, aku akan kembali bersama dengan
Emi.”

Kutatap foto Emi yang terpajang di dinding
sebelah kiriku, tempat di mana aku duduk. Foto Emi
diusia kurang lebih 14 tahun.

“Sebelum aku menemukannya, aku akan selalu
dikejar-kejar rasa bersalah terhadapnya. Aku merasa
berkewajiban untuk mencarinya. Aku ingin
mendapatkannya secara utuh. Aku sangat
membutuhkannya.”

Dari ujung mataku, Ana dan Hadi terlihat gugup
sekali.

“Tolonglah! Kalian harus mengerti akan
perasaanku saat ini. Dan hal ini bukan semata-mata
kepentinganku saja, melainkan demi kita bersama. Kita
tentu tidak mau kehilangan lagi, setelah orang-orang kita
cintai meninggalkan kita. Kumohon kalian mengerti
akan hal ini!”
“Tapi, Kak…”
“Tidak, aku harus mencarinya.”
“Tapi Kakak tidak tahu, kalau Kak Emi itu ada di
mana?”
“Benar, Kak,” Hadi menimpalinya.

Kutatap wajah-wajah di hadapanku. Begitu
murung dan resah. Namun sekali lagi kuyakinkan
hatinya.

“Kalian tidak usah khawatir akan diriku. Seperti
kalian tidak mengkhawatirkanku ketika masih di penjara.
Aku bisa menjaga diri. Dan diriku sangat sedih bila
kalian bermuram durja begitu.”

Setelah sekian lama kami dalam diam, akhirnya
Ana angkat bicara, “Baiklah kalau begitu, kami berdua
di sini akan berdoa menanti Kakak. Walau bagaimana
pun, Kakak tetap bagian dari kami juga.”

Aku hanya bisa tersenyum. Ada kebanggaan
yang susah kugambarkan.

“Aku akan ingat selalu ucapan itu,” sahutku
sebelum akhirnya meninggalkan mereka dengan rasa
haru. Kucoba untuk bertahan hingga titik darah
penghabisan.
————0o0——–

Menapaki pagi yang cemerlang. Embun-embun
bergelanyut di ranting-ranting pepohonan. Sesekali luruh
ketika sang angin yang sepoi datang menggoda dan
merayunya. Gadis-gadis hitam manis di kali sedang
mencuci, menghias pagi. Tiba-tiba aku ingat akan istriku.

Wajah gadis-gadis itu membangkitkan kenangan
manis dan pahit masa lalu ketika memadu cinta,
mengetengahkan cekcok sebagai awal dari kegagalan
membina mahligai rumah tangga, membentangkan jarak
dalam menuntut sebuah perhatian. Dan itu sia-sia;
sebuah prilaku yang mubadzir, bahkan sikap egois di
antara kami selalu terlahir.

Aku mulai mengeja kesalahan dan bentuk emosi
yang tak terkendali selama masih bersama dengannya.
Wajah-wajah gadis di kali seperti istriku semua, nampak
mereka bercanda, tertawa renyah menghias pagi, sesekali
mereka terdengar bersenandung. Hati ini kian tersudut
pada penyesalan. Tapi semuanya akan sia-sia jika aku
tldak mendapatkannya. Setidaknya sejumput maaf akan
kupersembahkan buatnya, walau apa pun rintangannya.
Telah kupersiapkan semuanya hanya untuk Emi.
Dan betapa bangganya kami, bila diriku mampu
mengembalikan Emi seperti gadis-gadis di kala itu.
Setidaknya bayang-bayang seperti itu menghias
perjalananku, mengisi rongga dadaku, mengiringi
langkah-langkahku menyibak kabut pagi.

Impian-impian hanya menyeruak tak tentu
rimbanya. Akankah Emi mau kembali dan memaafkan
atas kesalahan yang pernah kuperbuat? Padahal, diriku
sangat rindu, sangat membutuhkannya, kendati nantinya
Emi akan memaki-makiku. Akan kubiarkan Emi mencemoohku, menamparku, melemparku,
menendangku, seperti yang pernah kulakukan padanya.

“Sejak Kakak meninggalkannya, dia benar-benar tersiksa
hidupnya. Dia terus dirundung duka dan rasa penyesalan
atas sikapnya terhadap Kakak. Dia seringkali bercerita
padaku setiap ada kesempatan. Dan Kakak jangan lagi
ragukan cintanya, sebab aku sangat mengerti akan
perasaannya,” cerita Ana beberapa hari yang lalu.
Aku memang banyak mendapatkan cerita tentang
Emi, selama aku meninggalkannya, hidupnya begitu
gersang tentunya.

O, istriku… Di mana kau kini? Ingin rasanya aku
menangis, menumpahkan rasa penyesalan. Ingin rasanya
aku berteriak memanggil-manggil namamnya. Tetapi itu
tidak mungkin kulakukan di dalam kendaraan yang sesak
dengan penumpang menuju kota ini. Kutahan luapan perasaan itu erat-erat. Sebab,
aku masih punya etika dan rasa malu. Aku tak mau
mereka mengatakan diri ini gila. Meskipun hatiku begitu
“gila” kepadanya.

Seperti orang bingung aku turun dari kendaraan
yang membawaku. Langkah kakiku terasa berat
menyusuri sudut-sudut kota. Kulihat bayangan tubuhku
sendiri, “Ah, kau begitu gelap, kau begitu sengsara, kau begitu gegabah, kau begitu sedih, kau begitu…. cinta, ya
cinta kau begitu dalam pada Emi.

Oh, nasib… Masih belum puaskah kau menyiksa
diri ini? Masih belum cukupkah pengorbanan yang
kuberikan? Masih belumkah semuanya….
Tidak terlalu sulit mencari rumah mewah dengan
halaman luas dan berpagar besi. Dengan sikap curiga
tukang kebun rumah itu menanyaiku. Kupaparkan
kepentinganku dengan cara yang terbaik. Sengaja aku
tak melibatkan emosi diri, lantaran itu tidak perlu, dan
kukira itu akan membuang-buang waktu saja.
Mata lelaki itu penuh selidik. Sekali lagi
mengawasiku dengan sikap tenang, tak kentara.
“Saya sebagai kakaknya.

”Kupilih ‘kakak’ untuk tidak memperpanjang pertanyaan di keresahan hati ini.
“Emi sudah lama sekali tidak ada di sini!”
Belum hilang keterpanaanku, lelaki gendut itu
lalu angkat bicara lagi secara panjang lebar dan begitu
terus terang.

“Lalu dimanakah dia kini, Pak?”

Lelaki yang tak pernah lepas dari rokoknya itu
nampaknya mengerti akan kegundahanku.

“Entahlah. Yang jelas, wanita yang membawa
Emi itu juga mengaku kakaknya. Bahkan saya pernah
mencegahnya, namun hal itu percuma. Terus terang,
sejak kepergiannya, keluarga kami sangat merasa
kehilangan seorang pembantu yang ulet dan jujur.
Rasanya sulit mencari pembantu yang kreatif seperti
dia.”

Kutatap wajah berkumis tebal di hadapannku.
Tanpa kusadari mata kami bersirobok.
“Bapak boleh percaya, juga boleh tidak. Kami
tiga bersaudara. Emi adik bungsu dan tidak punya
saudara perempuan seperti cerita Bapak tadi.”
Sengaja aku berdusta untuk mendapatkan
keterangan tentangnya. Toh, manusia lahir ke dunia fana
ini saban hari melakukan kedustaan. Dan dusta-dusta itu
ada yang baik dan jelek, serta tidak selamanya bertujuan
pada kemungkaran.

Tidak banyak yang bisa kujadikan bekal atas
penjelasan lelaki itu. Akhirnya kutinggalkan dia dengan
perasaan kacau. Kulangkahkan kaki ini pada tujuan yang
tak menentu. Dan kegalauan diri senantiasa menjadi
bumerang dalam jiwa tandus ini.

Tiba-tiba aku mendapatkan sesuatu. Cepat-cepat
kupanggil becak yang mangkal di pertigaan jalan.
Setibanya di tempat yang sangat akrab dengan
kehidupanku dulu, kehidupan yang menjanjikan
kenikmatan. Kemudian aku merasa kembali muda. Aku
merasa bergairah kembali. Aku mencari sesuatu di balik
gelak-tawa perempuan-perempuan pengobral cinta. Lalu
kutarik satu di antara sekian ratus manusia di situ. Kami
sembunyi di balik pintu.

“Kau mengenal wanita ini?”
Dia menggeleng. Kutatap matanya yang redup
itu. Ada seberkas ketakutan yang menggeliat juga dalam
pikiranku. Kupandangi wajah layu dalam pelukanku itu,
sekali lagi.

Ya, Allah… Wajah itu tak ubahnya istriku, walau
hati tak dapat didustai tetapi mata ini mengatakan lain.
Rabunkah aku?
Dia menggerakkan tubuhnya, sebagai isyarat
meminta. Aku mencoba menahannya. Namun, sekali lagi
ia mendesaknya. Kuturuti kemauannya meski bayang-
bayang paras istriku lekat di halusinasiku. Setelah puas
dalam saling memberi, aku beranjak dan meninggalkan
uang di atas kasurnya.

“Tunggu!” cegah perempuan yang baru ‘kubaui’
itu.
“Aku kenal dengan wanita itu.”
Kubalikkan tubuh menghadapnya. Aku mendekat
dalam jarak yang tidak terbatas.

“Dia pernah bekerja di sini, hanya beberapa
bulan. Namun Nini kemudian pergi.”
Sambil memperbaiki rambut lurusnya, ia
berceloteh lagi.

“Emang Nini apamu?”
Tampaknya Emi merubah namanya menjadi
‘Nini’. Memang itu sudah biasa dalam kehidupan dunia
pelacuran.

“Bukan siapa-siapa?”
Wanita berhidung mancung itu sejenak
menatapku. Lalu kembali berdandan. Usapan bedak tipis
menghias pipinya yang indah.

“Tetapi dia pergi entah kemana. Padahal di sini
dia punya banyak pelanggan, lho!” celotehnya
mengundang gairahku, namun aku bisa
membendungnya.
“Oh!”

Tak sengaja aku melepaskan ‘oh’ itu. Kata itu
meluncur sedemikian rupa demi mendengar
penuturannya. Laksana sembilu menyayat kalbu.
Terguncang hebat jiwaku. Walau begitu, cintaku takkan
pernah berpaling darinya meski dia telah ‘dibaui’ oleh
banyak hidung belang. Aku ikhlas menerimanya. Toh,
aku juga bukan manusia suci, seringkali menggagahi
kupu-kupu malam; dari wanita yang satu ke wanita
lainnya.

“Kenapa?”
Buru-buru kuubah sikapku. Ia menelisik
perubahan sikapku sejenak.

“Apanya?” sahutku datar, menhindar dari curiga
lebih lanjut.

Dibalik gincunya yang tebal, dibalik sikapnya
yang urakan, telah kutemukan kualitas kejujuran sebagai
perempuan murahan.

Kuletakkan lagi beberapa lembar uang sebelum
kutinggalkan. Biasa, sebagai ungkapan terima kasih.
Kutinggalkan tempat prostitusi itu.
Entah kemana lagi harus kucari. Tapi yang pasti
di tempat pelacuran. Dan tidak mudah, membutuhkan
waktu panjang dan uang. Aku sendiri sudah berikrar,
tidak akan pulang sebelum membawa Emi. Itu tekadku.

Itu tekadku. Dan aku tak ingin gagal. Tidak ingin!
Bagaimanapun harapan telah kubentangkan diantara
bimbang yang menggelegak.

Tapi, bagaimana seandainya Emi ada dalam
pelukan lelaki lain? Aku akan tetap mengasihinya. Aku
akan mencintainya walaupun tidak harus memiliki.
Betapa pun ia akan membenciku seluas lautan, aku akan
tetap menyanyanginya. Yang terutama dari sekian
banyak harapanku, hanya kata ‘maaf’ yang ingin
kubingkiskan. Ya, hanya kata ‘maaf’ yang ingin
kupersembahkan atas rasa bersalahku padanya. Yang
lainnya tidak ada sama sekali.

Sebelum tujuh belas tahun, ia telah kutinggalkan
tanpa pesan atau kesan. Selebihnya hanya sikap
permusuhan dari pertengkaran yang tercipta. Aku
mafhum benar, betapa sunyi hidupnya tanpaku di
sisinya, tiap malam hanya berteman impian-impian
kosong belaka. Kendati aku di sampingnya, yang
dirasakan barangkali hanyalah rasa bersalah dan bersalah
dari sikapku yang mau menangnya sendiri.
Ya, Tuhan… Bahagiakanlah dia! Seruku dalam
hati mengiringi gemericik galau di dada.

Lima pekan sudah aku mengembara. Menyusuri
lorong-lorong kecil yang becek dengan bau minyak
wangi murahan. Di sela-sela tawa dan denting gelas, di
sela-sela musik yang mengalun lembut, menawarkan
kehangatan dalam debur birahi, di situ aku menyapu
pandangan, mencari seseorang yang paling kuhormati,
Emi, istriku tercinta. Tapi tak pernah kujumpai. Ia seolah
lenyap, ditelan perut bumi.

Walau begitu aku tak pernah lelah. Seperti
ketidak-lelahanku mengenangnya dalam keremangan
dunia pelacur. Tekadku belum pudar, belum
menampakkan kering sungai asa ini.
Dalam mengarungi samudera cinta, tak jarang
aku terhempas dan terombang-ambing karenanya. Dan,
aku berusaha bangkit kendati aku sendiri yang membuat
prahara itu.

Racun dalam darahku adalah cinta yang nista.
Kenistaan ini telah melahirkan bentuk lautan dosa,
bahkan seringkali rakus tanpa syukur. Dengan racun
cinta itu aku akan terus mencari tahu. Brengsek! Lelaki
memang brengsek, kalau tidak begitu, lelaki akan
dikultuskan sebagai banci. Maka para lelaki akan
menunjukkan bahwa dirinya juga brengsek kepada
wanita yang dikencaninya. Begitu seterusnya.
Aku menyadari semua yang kulakukan adalah
dosa namanya.

Tapi di sinilah duniaku. Dunia yang mendatangkan gairah kembali muda. Dunia yang
memberikan inspirasi dan optimistik. Aku bangga bahwa
diriku masih mampu bermain cinta di antara tikaman
sunyi yang mendera. Aku bangga melakukan itu, sebab
aku memang haus selama ini.

Aku mengetahui kalau dalam hidup hukum
karma pasti berlaku. Tapi pengendalian birahi sulit
kukebiri. Siapa yang menanam dialah yang memetiknya.
Kira-kira demikian pepatah lama.
Waktu tujuh belas tahun tidak sebentar. Sekian
lama birahiku dibelenggu waktu.

Dan kini aku melampiaskannya. Tapi aku bergelut dengan gamang tak
berpantai. Ya, aku telah membakar diriku dengan dosa-
dosa. Mulai sebelum ambruknya tubuh Usman di
tanganku sampai kini, sampai usiaku tiga puluh tujuh
tahun. Usia yang sudah tidak muda lagi
Namun masih perkasa, kata para wanita yang
kukotori, berulangkali hal itu diucapkan oleh para wanita
yang selesai kugagahi. Aku jadi bangga pada diri ini.
Namun di balik kebanggaan diri terselip sesal,
menyeruak ke lembah nurani.

Dan yang paling membanggakanku nanti, kalau
aku bisa mendapatkan Emi kembali ke pangkuanku. Aku
takkan kawin dengan wanita lain, kecuali dengan dia.

Mungkin penyakit liarku akan sembuh dengan
kehadirannya. Ya, aku memang bersumpah pada diriku
untuk menghentikan petualangan cinta ini. Aku ingin
membangun mahligai rumah tangga yang harmonis
dengan dua anak cukup. Mawadah warahmah, demikian
banyak orang bilang. Seperti slogan-slogan yang
dianjurkan di setiap tempat di Tanah Air ini.
Dan nantinya aku ingin kembali hidup seperti
mereka yang sudah bahagia dalam sebuah rumah tangga.

Oh, betapa nikmatnya hidup seperti itu, bayangku.
Sejatinya dalam rumah tangga memang seperti itu.
Yang sangat ditakutkan bagi orang-orang yang
sudah lanjut usia dalam menjelang ajalnya, yaitu dirinya
merasa tidak memiliki orang yang dicintainya. Betapa
tersiksanya ia. Betapa terharu hatinya tanpa ada orang
tua yang membantunya. Dan aku tak ingin seperti itu.
Aku ingin hidup dihari tuaku ada yang mendampingiku,
mengasihiku, menyayangiku. Aku ingin hidup ini
sedapat mungkin berharga.

Setidaknya buat diriku sendiri saat detik-detik terakhir usiaku, bisa menyaksikan
mereka bahagia sebelum kepergiaanku untuk selamanya.
Duh, betapa damainya…

“Kri!”
Teriakan seseorang menghentikan langkahku.
Kubalikkan tubuh.

“Hendak kemana kau?” Ujar Mina yang tak lain
mucikari di lokalisasi prostitusi yang baru kulewati.
“Hai, Tante.”
“Gimana kabarmu?”
“Baik.”
Aku menghampiri. Ia tersenyum, aku
membalasnya. Senyum yang renta lantaran usia sudah
udzur.
“Kelihatannya kau seperti orang bingung!?”
tebaknya penuh perhatian.
“Ah, masak iya?”
“Benar.”
Kuangkat bahu sebagai tanda seperti yang
dilihatnya. Lalu kusodorkan potret seorang wanita.
“Kau mengenalnya, Tante?”
Perempuan renta tapi kelihatan ceria itu meneliti
potret sekali lagi. Ia mengernyitkan dahi.
“Siapa namanya?”
“Emi!”
“Untuk apa kau mencarinya?”

“Saudaranya sangat mengkhawatirkannya.”
Mina menatapku keseluruhan, seolah mencari
sesuatu di balik sikapku yang menanti.

“Dia memang pernah kerja di sini. Tapi hanya
tiga bulan, tak lebih. Dia cantik, sehingga wajar kalau
langganannya cukup banyak. Tapi kini entah di mana
dia. Aku hanya mendengar kabar, rencananya akan ke
Jakarta…”

“Jakarta?” potongku tanpa terkendali lagi
“Dan dia pernah mengatakan padaku, dia akan
bekerja secara baik-baik.”

Kudengarkan baik-baik pemaparan Mina itu.
Sesekali aku bertanya jika sesuatunya kurang jelas.
Benarkah Emi akan berhenti menjadi wanita tuna susila?
Benarkah?

Sungguh sebuah cita-cita luhur, tidak mau
bergelut diri di lumpur dosa.
Kalau hal itu menjadi kenyataan, betapa
bahagiannya diri ini. Betapa bangganya. Aku benar-
benar terharu mendengarkan cerita Mina yang lengkap
itu. Mulai dari pertama kalinya Emi bekerja sampai
meninggalkan tempat maksiat ini. Begitu lengkap cerita
Mina itu.

“Jadi kau tetap mau ke Jakarta?”
“Ya.”
“Sebegitu pentingnya?”
“Memang.”
Kemudian kutinggalkan Mina tua.

Turun dari taksi, langsung aku menuju perumahan elite. Seperti petunjuk anak buah Mina,
rumah Emi berada di kawasan rumah mewah di Jakarta
Timur.
Kuketuk daun pintunya. Ada langkah-langkah
mendekat. Kuperbaiki sikapku semanis mungkin. Satu,
dua, tiga… daun pintu terkuak. Kutangkap sebuah sosok
dihadapanku.
“Emi…”
“Kau?”
“Ya.”
Kerongkongan tersekat. Langkah untuk
mendekati tertahan. Memang kuakui, diriku merasa tidak
pantas. Emi kini bukan yang dulu lagi. Semuanya telah berubah. Semuanya…

Ia tampak anggun mempesona
kendati dandanannya sederhana.
Emi tiba-tiba sudah berada dalam dekapanku,
sebelum aku sempat berkata-kata. Ia menubrukku
dengan tangisnya yang khas, masih seperti yang dulu.
Tangis yang sudah akrab dengan perjalanan waktu.
Namun isaknya telah banyak berubah.
“Maafkan aku!” ujarnya lirih seraya melepaskan
diri dari pelukanku. Kendati sebentar, tapi itu sangat
bermakna.

“Aku selalu memaafkanmu,” sahutku
meyakinkannya.
Sempat tercium olehku wangi tubuhnya yang
berbeda dengan para wanita lacur yang pernah
kusetubuhi. Wangi yang datang dari wanita-wanita
terhormat.

Kutatap sekali lagi wajah yang pernah kumiliki
itu. Tiba-tiba dadaku berguncang hebat. Terasa
canggung sikapku. Aku memang tidak terlatih
menempati rumah mewah seperti yang ditempati Emi
saat ini. Barangkali aku takkan betah tinggal di rumah
mewah dengan arsitektur lux. Furniture lengkap serba
mahal. Sebab tempatku di rumah yang jauh dari
keramaian, dengan pemandangan yang masih hijau dan alami.

Tidak di sini. Semuanya telah tertukar oleh
bentuk-bentuk kemewahan. Terlalu berlebihan bagiku.
Emi mempersilakanku masuk. Aku mengekor di
belakangnya.
Kami duduk di kursi beludru. Lantainya
berkarpet mahal.
Kami saling diam. Padahal tadi aku telah
merenda sebuah kalimat yang patut dipersembahkan.
Namun lidahku kelu dan tak dapat berbuat banyak.
Kikuk aku jadinya.

Merasa hatiku begitu tegang, kuberanikan diri
untuk bertanya, walau hal itu hanya basa-basi.
“Rumahmu sendiri?” Begitu datar dan terasa hambar kalimat itu
meluncur dari bibirku. Tak bisakah aku bermanis-manis
padanya, setelah melewati waktu dan jarak, semuanya
sudah berubah dan tak seindah yang kubayangkan.

Kucoba untuk memahami. Aku memandanginya.
Menyelami garis-garis parasnya. Mata kami bersirobok.
Cepat-cepat kualihkan pandangan. Ada rasa bersalah
yang terlalu dalam mengoyak-koyak perasaanku.

“Bukan. Rumah Pak Agung.”

“Pak Agung?” korekku tertahan.
Sebenarnya jawaban Emi itu tidak perlu bagiku.
Lantaran aku sudah tahu banyak tentangnya dari anak
buah Mina yang mucikari itu; Emi menempati rumah
mewah ini sebagai istri “gelap” Pak Agung yang
pengusaha.

Kusulut sebatang rokok, sekadar mengusir
galauku.

“Kehadiranku kesini tentunya telah mengusik
ketenanganmu, Mi. Aku merasa telah mempunyai
banyak dosa terhadapmu. Dan dosa-dosa lampau itulah
yang membawaku ke sini.”

“Apakah itu tidak terbalik, Mas?”
Kata ‘Mas’ barusan begitu indah kedengarannya.
Aku ingin Emi mengulanginya lagi.

“Tidak. Aku justru sangat bahagia melihatmu
hidup senang di sini. Aku hanya ingin mengucapkan
maaf padamu setelah sekian lama kau kutinggalkan.
Kuharap kau mau menerimanya, Mi!” terangku penuh
gairah.

“Aku juga sekian lama ingin mengucapkan maaf
seperti itu, Mas. Sebab aku juga bersalah padamu,”
timpalnya penuh penyesalan. Suaranya agak bergetar di
telingaku.

“Aku sudah menjadi pelacur dan selir Pak
Agung. Aku telah mengotorinya jalinan cinta kita
dengan uang,“ pintasnya.

“Kita ini sama-sama punya
rasa bersalah, Mas! Tapi dosaku kalau ditimbang lebih
parah.” Emi terisak, dalam. Ia menutup sebagian
wajahnya dengan tangan.
Lalu tanpa babibu lagi Emi langsung bersimpuh
di lututku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku terpaku
dalam duduk. Apakah hal ini sebuah tanda Emi
masih…? Tidak. Aku tidak boleh gegabah.

“Jangan menangis lagi!” pintaku tidak ragu
sembari membelai rambutnya.
Air matanya tumpah di celanaku. Tangis Emi
kian menjadi. Lalu kami kembali terkurung dalam diam. Untuk
menghilangkan ketegangan diri, kualihkan pandanganku
ke sebuah lukisan yang terpajang di dinding belakang
Emi yang tertunduk. Lukisan lelaki tua dan tampak
gagah. Inilah wajah Pak Agung, bisik hati kecilku.

“Aku tak ingin menyalahkanmu, Mi. Dan apa
yang kau perbuat selama ini wajar. Aku memahami itu.”

“Tapi, akankah seorang suami mau menerima
kembali istrinya yang telah ternoda?”

Aku terhenyak demi mendengar pernyataan jujur
Emi. Aku juga tak menyangka kalau Emi akan
memberikan kans itu.

“Aku sendiri tidak tahu. Karena aku tak pernah
bisa membahagiakan orang yang selama ini kukasihi.
Sungguh sulit bagiku. Kiranya kaupun mengerti tentang
kekuranganku, Mi.”

Aku berusaha menetralisir suasana.
Sekali lagi kuselami hatinya. Namun sukar sekali
ditebak, begitu suram. Sebab aku harus curiga, Emi
bukan yang dulu. Ia sekarang ibarat merpati yang
terkurung dalam sangkar emas.

Setelah kurasa kunjungan singkatku selesai.
Cepat-cepat kumohon diri darinya. Emi berusaha
mencegahku. Tapi aku tak bisa berlama-lama di sini.
Aku tak mau kehadiranku diketahui Pak Agung. Bisa
runyam nanti.

“Terima kasih sambutanmu.”
“Ya,” sahutnya dengan seutas senyum yang
cukup dipaksakan. “Langsung pulang sekarang?”
Aku mengangguk.
“Kenapa?”

“Batinku berkata begitu.”
“Hati-hati di jalan!”
Emi mengambil tanganku dan menciumnya,
seperti seorang anak yang mau meminta maaf pada
orang tuanya.

“Terima kasih atas kepedulianmu ketika aku
masih di penjara!”
“Maksudnya?”
“Kiriman uangmu.”
“O…”

Kemudian kutinggalkan Emi yang tak bisa
berbuat apa-apa ketika aku kian jauh. Lantaran Emi
bagiku kini sudah menjadi milik orang lain. Jauh dari
harapan yang pernah kubentangkan. Ya, begitu jauh
jarak dan waktu dalam memisahkan kami. Namun aku
puas. Puas mendapatkannya dalam kebahagiaan menjadi
wanita baik-baik.

Tiba-tiba aku seolah ada pada sebuah
persimpangan. Haruskah aku pulang tanpanya? Pulang

“Benarkah itu, Kak? Lalu kenapa kakak tidak
mengajaknya pulang? Padahal kami sangat
mengkhawatirkannya,” ujarnya lembut seolah memohon.
Pertanyaan Ana ini terlontar setelah aku menceritakan
keberadaan Emi yang sebenarnya.

“Telah kukatakan padamu, An. Aku tak berhak
padanya. Aku hanya bisa mengajaknya, namun
keputusan di tangannya. Maafkan aku, An!”

”Tapi Kakak kan sudah berjanji sama kami,” Ana
mengingatkanku. Ia melengos tapi tidak menampakkan
kekecewaan berlebih.
“Apa boleh buat.”
Sebaris kalimatku itu merubah suasana menjadi
kurang nyaman.

Ana tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya,
mungkin, sekaligus rasa kecewa. Kumaklumi semua itu.
Aku pun tak bisa berbuat banyak, kecuali hanya menanti.
Dan, aku pun tak bisa memaksa kehendak, selain
menawarkan sesuatu. Tak lebih.

Kupandangi wajah Ana, Hadi, Mimi anaknya,
berganti-ganti. Seolah ada rasa keresahan yang
menyelimuti nuansa hatinya. Begitu buram, kalau tidak
mau dikatakan pekat. Untuk yang entah keberapa
kalinya, rasa bersalah terlahir, mengguncang jiwaku,
memporak-porandakan impianku atas dirinya. Begitu
kuat rasa bersalah itu, membuat semuanya sia-sia. Begitu
bodohnya aku…

“Kalau memang begitu, besok aku akan
berangkat lagi.”

Ana dan Hadi terpana mendengar ucapanku.
Seakan tak percaya, tampak gundah sikapnya. Namun
aku mencobanya untuk memberikan kepastian, walau
aku tahu hal ini masih belum cukup.

“Benarkah, Kak?” Hadi menyela. Ia agak
terlonjak dari tempat duduknya.
Aku mengangguk sambil melepaskan senyum
yang masih terasa kaku. Senyum seorang lelaki sunyi.
Tapi bukan senyum yang pernah kuberikan pada wanita-
wanita lacur.

“Kalau demikian, besok kita berangkat bersama,
Kak!” usul Ana sangat bergairah. Sebuah asa ternatal
disaat dirinya tidak mendapatkan solusi yang merujuk
pada kesepakatan berjemaah.

Aku setuju dengan ucapan Hadi itu. Kesepakatan
pun tercapai. Kebahagiaan jadi berderai. Mengiringi
kepastian.

Senja di ufuk barat menjingga. Hidupku yang
kacau-balau telah menutup siasatku dalam merebut
kembali sang bidadari. Aku terkapar dalam ketololan
sangat fatal. Sebuah kesempatan menguap digerus sikap
gamangku begitu saja.

Angin membelai wajahku ketika kutinggalkan
mereka. Dadaku bagai terisi impian-impian semu,
menguap dalam fantasi diri, terlukis di dinding nurani.
Menancap tanpa kepastian.
————-o0o———

Kurenungi nasib seorang diri dalam kamar. Ada
hasrat menyala. Ada bimbang membara. Ada ketakutan
akan kegagalan berkobar. Aku ingin berontak, namun
tidak bisa. Kucoba sekali lagi bangkit dengan tenaga
yang tersisa.

“Jangan cengeng, Kri! Kejarlah impianmu,
taklukkan rintangan yang ada!”
Demikian pesan Yoga sebulan sebelum aku
bebas dari penjara.

“Kalau kau sudah keluar penjara ini, carilah dia.
Tinggal apa kata hatimu, mau kembali atau tidak. Suka-
suka kamu, sobat!” support Adi sembari menepuk
bahuku.

“Yap, itu baru pria sejati,” timpal Yoga penuh
kepastian.
Kuselami kembali beberapa dialog kami ketika di
penjara.

Begitu banyak dosa yang telah kuperbuat pada
Tuhan. Apakah atas dosa-dosaku Tuhan murka, sehingga
tiada lagi kesempatan untuk memilikinya? Padahal aku
sangat membutuhkannya, mengasihinya, mencintainya
seluas samudera. Ini bukan gombal. Ini kenyataan yang
ada dalam sanubariku. Aku tak dapat mendustainya. Ya,
aku tak bisa mengingkari diri ini.
Semakin aku mengingkarinya, semakin lebar
luka, maka semakin pula aku tersungkur pada baris-baris
penyesalan.

“Kau masih mencintainya, Kri?”
“ Entahlah.”
“Kau masih mengenangnya mungkin?” Yoga
memaksaku.
“Kadang ia.”

“Itu sebuah keraguan. Tapi itu menunjukkan
kalau kau masih ada hati sama dia,” tukas Adi dengan
senyum sumringah.

Kubaringkan tubuh lelah ini. Sontak bayang
wajah Emi ada di langit-langit kamarku, di sela-sela
tumpukan bajuku yang kotor, di seputar dinding
kamarku. Semuanya, yang kulihat adalah wajah istriku
yang sengsara dan menderita. Dia menderita karenaku,
karena kekasaranku terlalu berlebihan. Sebagai lelaki
aku telah berbuat banyak kesalahan terhadapnya. Dan
karena lelaki pula dia sangat menderita hidupnya. Dia
telah banyak tercuri kebahagiaannya oleh para lelaki
hidung belang. O, betapa tersiksanya dia…
Malam merangkak larut. Penyakit insomniaku
kambuh akhir-akhir ini, begitu kuat. Kendati lelah
menyeruak di tubuhku. Aku tak berkutik. Aku pasrah.
Sementara malam begitu hitam. Sehitam nasib ini.
Sehitam perjalanan usiaku. Kelam!
Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Kucari di lemari tua.
Potret masa lalu itu tersimpan rapi. Potret kami berdua
pada sebuah kenangan. Kucermati wajah istriku,
kemudian kubandingkan. Rambut yang dulu panjang
tergerai, kini dipotong pendek. Wajah yang dulu
sederhana namun tetap menarik, kini sudah tercemari
dengan beraneka bedak warna-warni. Ditambah lagi
dengan kukunya yang panjang, perhiasan yang berlebihan, busana yang mengundang berahi.

Semuanya memang banyak berubah. Emi pun kian jauh dari dunia
masa lalunya. Dia berangkat dari sebuah penderitaan,
kesengsaraan, kesunyian, kebimbangan, ketakutan,
menuju dunia gemerlap namun penuh kepalsuan.
Kiranya tak perlu disalahkan. Semuanya telah terjadi.
Kini, dia tentunya sudah dapat merasakan, dan
membedakan mana yang terbaik. Biarlah, dia akan
menentukannya sendiri.

Sekali lagi, kuamati potret masa lalu itu sebelum
kuletakkan kembali. Kutarik napasku dalam-dalam.
Sesuatu telah meluluhlantakkan perjalanan waktuku.
Suara apa itu. Seketika terdengar sesuatu yang
mengejutkan, memporak-porandakan halusinasiku.
Pendengaran dan mataku awas pada sekitar. Bunyi yang
kunanti tiada terdengar lagi. Cukup lama juga getar-getar
hati berada pada kecurigaan.

Ah, paling kucing memburu tikus. Atau buah
jambu di depan rumahku yang jatuh. Kembali
kubaringkan tubuh lelahku. Tapi mata ini sulit
dipejamkan. Aku benar-benar resah, seiring kupingku
berdenging. Isyarat apakah ini?
Kucuba memejamkan mata ketika samar-samar
adzan subuh berkumandang dari sudut-sudut mesjid.

Kokok ayam pun bersahut-sahutan, menyambut fajar
menjelang.
Aku tak ingin apa-apa lagi. Lepaslah alam
duniaku. Aku terbangun saat matahari mulai
menampakkan dirinya, sinarnya menyusup lewat celah-
celah kamarku. Aku bangkit dan memperbaiki tempat
tidurku.

Pagi yang indah. Tentu akan lebih indah jika ada
Emi. Ah! Sengaja aku begitu untuk menghindari impian-
impian kosong. Impian-impian yang membuat diriku
tersiksa.

Kemudian kuambil sapu. Sambil bernyanyi-
nyanyi kecil, mulailah aku menyapu. Namun nyanyian
kecilku sengaja kuhentikan, karena ketika aku membuka
pintu, aku mendapatkan soonggok sosok yang masih
tidur pulas. Kubangunkan ia karena ia menutup sekujur
tubuhnya dengan selimut. Hatiku curiga. Gerangan
siapakah dia. Orang gilakah? Tidak. Ada dua tas besar di
sampingnya.

“Hai, bangun!”
Aku menggerakkan tubuh itu dengan sapu. Siapa
sangka orang itu adalah orang yang punya dendam sama
aku atas kematian Usman di tanganku.

Aku bersiaga. Pelan-pelan kubuka selimut yang
menutup wajahnya.

“Istriku…” pekikku tanpa tertahankan lagi. Kami
pun berpelukan. Berciuman mesra.
Rupanya bunyi sebelum subuh tadi yang
mengejutkan itu adalah istriku yang datang. Dan dia
tidur di sini lantaran (mungkin) ingin menebus kesalahan
yang pernah diperbuatnya terhadapku. Sengaja dia tidak
membangunkanku. Oh, betapa mulia hatinya.
Aku sungguh sangat terharu! Binar-binar rindu
mencair.

“Bagaimana dengan Pak Agung?” tanyaku
meluncur dalam gamang.
“Aku telah menulis surat, bahwa aku ingin hidup
bersamamu,” tegas Emi yang masih terlihat lelah.
“O, ya?!”
“Aku ingin…”
Kututup bibirnya dengan kecupan hangat. Aku
hanyut dalam kerinduan. Aku terbuai. Sekeping harapan
telah menjadi kenyataan. Sekeping harapan telah
menyatukan kami dalam kebahagiaan. Betapa indahnya.
Betapa berharganya hidup kami pagi ini.

Sementara sang surya dengan sinarnya mengintip
kemesraan kami. Kamipun tak mau membiarkan rindu
jadi beku. Semakin erat kami dalam pelukan. Seolah tak
ingin dilepaskan.

Pasongsongan, Sumenep 2018

Novel ini disunting oleh limadetik.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan