SUMENEP, limadetik.com — Hari raya idul fitri 1440 H/2019 M. telah tiba, umat muslim di seluruh dunia kini tengah menyambutnya dengan penuh kegembiraan, haru bercampur sedih membuat hingar bingar takbir berkumandang di Masjid-masjid, musholla ataupun surau. Tak terkecuali di salah satu Desa nun jauh di ujung timur Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur.

Di salah satu Desa yang ada di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, tepatnya Desa Tanjung Kiaok penduduknya masih kental dengan budaya Takbir keliling sebagai sebuah tradisi yang sudah berpuluh puluh tahun, bahkan ratusan tahun yang silam masyarakat di Desa ini selalu menyambut Idul Fitri dengan berbagai hiasan yang unik untuk mengajak warga bersama sama mengumandang Takbir, Tasbih dan Tahmid sebagai simbol kebesaran Islam.

Hiasan miniatur Musholla Babussalam lama Tanjung Kiaok

Pada perayaan idul fitri kali ini, ada beberapa hiasan yang ditampilkan untuk menghibur warga sebagai bakti di hari raya yang fitri. Salah satunya hiasa miniatur Ka’bah dan Masjid.

Salah satu pengurus Masjid Jamik Nurul Ihsan Tanjung Kiaok Hasit mengatakan, bahwa kegiatan takbir keliling ini merupakan budaya sekaligus tradisi bagi warga di Desa nya yang tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat yang ada hingga saat ini.

Miniatur Musholla yayasan Babussalam

“Ini tradisi sejak nenek moyang kita yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat di sini. Maka tiap tiba hari raya idul fitri dan hari raya haji kita selalu melakukannya sebagai kecintaan kita terhadap Agama Islam” katanya, Selasa (4/6/2019).

Bahkan tambah Hasit, kegiatan takbir keliling seperti ini tidak hanya ada di desa tanjung kiaok, melainkan di setiap desa yang ada di kecamatan sapeken.

“Dan di setiap desa yang ada di kecamatan sapeken ini sama juga melakukan takbir keliling dengan berbagai hiasan yang ditampilkan” tambahnya.

Senada dengan pengurus yayasan Babussalam Hayat menegaskan jika kegiatan takbir keliling ini harus tetap dipertahankan sebagai salah satu cara untuk tetap mengenalkan budaya Islam kepada generasi yang akan datang.

“Budaya (tradisi, red) ini tidak bisa dihilangkan, sebab ini adalah bagian dari cara kita untuk tetap mempertahankan dan memperkenalkan pada generasi-generasi dimasa yang akan datang, betapa pentingnya tetap menjaga Islam itu dimasa saat sekarang ini dengan banyak nya faham-faham islam yang anti budaya seperti ini” pungkasnya. (yd/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here