Sinung Sudrajad Desak Pemkab Tutup Pendakian Gunung Piramid
LIMADETIK.COM, BONDOWOSO – Tragedi kembali merenggut nyawa pendaki di Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Timur. Dua pendaki hilang selama 3 hari, kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad, mendesak pemerintah menutup sementara jalur pendakian hingga sistem keselamatan benar-benar dibenahi.
Menurut Sinung, insiden yang kembali terjadi menjadi sinyal bahwa pengelolaan wisata pendakian di gunung Piramid tidak bisa lagi dilakukan dengan pola lama.
Jalur ekstrem tersebut, kata dia, harus ditutup sementara sambil dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan.
“Yang pertama harus dilakukan adalah menutup sementara dan melarang pendakian. Setelah itu pemerintah desa, kecamatan, kabupaten bersama Dinas Pariwisata harus menyiapkan sistem yang benar,” kata Sinung, Rabu (5/8/2026).
Pernyataan itu disampaikan setelah operasi pencarian dua pendaki yang dilaporkan hilang di kawasan Gunung Piramid berakhir duka.
Tim SAR gabungan menemukan kedua korban meninggal dunia di kawasan Punggung Naga pada kedalaman sekitar 60 meter.
Korban ditemukan berjarak sekitar lima meter satu sama lain. Mereka adalah Maliya Finda (51), warga Surabaya, dan Irfan Nasrul Laili (34), seorang pemandu pendakian asal Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso.
Sinung menegaskan, penutupan jalur bukan bertujuan mematikan sektor wisata. Sebaliknya, langkah tersebut diperlukan agar pemerintah memiliki waktu membangun sistem pendakian yang aman, profesional, dan berstandar.
Dia mengusulkan pemerintah menyeleksi pemuda-pemuda setempat untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di organisasi pencinta alam profesional, seperti Wanadri dan lembaga sejenis. Setelah memperoleh sertifikasi, mereka dapat bertugas sebagai pemandu resmi di Gunung Piramid.
“Setiap wisatawan yang ingin mendaki Gunung Piramid wajib didampingi guide yang sudah terlatih dan bersertifikat. Kalau belum ada guide profesional, jangan diizinkan mendaki,” tegas Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso ini.
Menurutnya, keberadaan pemandu bersertifikat bukan hanya untuk menunjukkan jalur pendakian, tetapi juga memiliki kemampuan melakukan pertolongan pertama dan penanganan kondisi darurat apabila terjadi kecelakaan di gunung.
Selain membangun sumber daya manusia, Sinung juga mendorong pemerintah desa mengembangkan fasilitas penunjang wisata seperti penyewaan tenda, perlengkapan pendakian, hingga camping ground. Dengan konsep tersebut, Gunung Piramid dinilai dapat berkembang sebagai destinasi ekowisata premium, bukan sekadar wisata massal.
“Kalau konsep ini dijalankan, semua pihak akan diuntungkan. Wisatawan merasa aman, pemerintah desa memperoleh pendapatan, pemerintah kabupaten mendapat PAD, bahkan jika bekerja sama dengan Perhutani semua bisa sama-sama mendapatkan manfaat,” ujarnya.
Sinung mengungkapkan gagasan tersebut bukan hal baru. Ia mengaku telah menyampaikannya sejak insiden pendaki sebelumnya yang menewaskan almarhum Thorik. Bahkan, sejumlah komunitas SAR disebut telah mendukung konsep pengelolaan wisata berbasis keselamatan tersebut.
“Sudah beberapa kali saya sampaikan. Program ini sebenarnya low cost, tidak membutuhkan biaya besar. Banyak pihak yang bisa diajak bekerja sama untuk melatih pemuda setempat menjadi guide profesional. Tinggal ada niat atau tidak,” katanya.
Ia juga mengingatkan tren pendakian gunung terus meningkat setiap tahun. Karena itu, larangan tanpa diikuti pembenahan tata kelola dinilai tidak akan efektif menghentikan aktivitas pendakian ilegal.
“Kalau hanya ditutup tanpa solusi, orang tetap akan mencari celah untuk naik. Karena itu penutupan harus bersifat sementara sambil menyiapkan SDM, aturan, dan fasilitas. Setelah semuanya siap, baru dibuka kembali dengan standar keselamatan yang jelas. Kalau tidak, kita hanya tinggal menunggu korban-korban berikutnya,” pungkas Sinung.
Penulis : Budhi
Editor : Wahyu











