Cerpen

CERPEN: Kelalaian di Tengah Jalan

×

CERPEN: Kelalaian di Tengah Jalan

Sebarkan artikel ini
IMG 20200420 222616

Oleh: HERDAYANTI

                                           Senin, 20 April 202

Di seberang jalan terdapat sebuah rumah yang dihuni oleh 2 orang yaitu suami dan istri. Pasangan ini sudah beberapa tahun membina rumah tangga. Mereka berdua sangat taat akan amanah yang diberikan oleh siapapun, keduanya sangat taat kepada Allah mereka selalu menjaga apa yang telah menjadi milik mereka meskipun hanya tinggal digubuk tua tetap saja tidak menjadikan mereka iri atau ingin memiliki sesuatu yang lebih, tidak ada karunia (anak) yang ada diantara mereka tapi itu tidak menjadikan hubungan rumah tangga mereka dihadang oleh masalah apapun itu.

“Assalamualaikum…” sapa kakek dari depan pintu.

“ Waalaikumsalam..” jawab nenek dari dalam rumah.

“Kakek datang, tolong bukain pintu.” pinta kakek.

“Iyya.. tunggu sebentar.” ujar nenek. “soalnya nenek terlanjur memegang sesuatu takut tumpah kalau nenek lepaskan.” ucap nenek melenjutkan ucapannya tadi.

“Ya sudah jangan lama ya nek. Kakek sudah lapar sekali.” Pinta sang kakek. “Iyya suamiku..” ujar nenek kembali.

“Maaf ya kek.. soalnya nenek lama bukain pintunya.” Timpal nenek mencium tangan sang kakek. “ya sudah gak apa-apa..! oiyya kakek sekarang ada tugas dari ibu Ratna untuk membawa uang ini ke Bank.” sebut kakek sambil memperlihatkan koper yang ada di tangannya.

“Masya Allah..! ya sudah kek. Kakek makan dulu selepas itu langsung bawa uang tersebut ke bank takutnya nanti hilang, kita kan gak punya uang untuk mengganti uang sebanyak itu.” timpal nenek. “Ya sudah kakek makan dulu, tapi nenek bisa kan temanin kakek ke bank, soalnya kakek takut tidak bisa menjaga amanah ini.” si kakek meminta.

“Iyya sudah, kita barang-bareng kesana.” Celutuk nenek. “ya sudah, kita makan sama-sama aja dulu biar kita bisa langsung ke sana.” Timpal kakek. “Kek..! kakek harus ingat jangan sampai amanah yang diberikan oleh ibu Ratna atau siapapun itu ternodai atau rusak, karena beberapa kepercayaan itu bisa lunak dengan 1 buah kesalahan saja, jadi nenek harap kakek bisa menjadi orang yang sangat amanah,” mohon nenek kepada suaminya.

“Insya Allah kakek akan amanah, do’ain aja semoga kakek bisa taat untuk sekarang dan selamanya.” Pinta kakek pula kemudian. “pasti nenek akan mendoakan kakek..” celutuk nenek kemudian.

Ibu Ratna adalah salah satu orang yang mempekerjakan kedua suami istri tersebut, ibu ratna sangat mempercayai keduanya, 3 tahun lamanya mereka bekerja dirumah Ibu Ratna tersebut dan tanpa ada 1 pun masalah yang menimpa mereka, karena sifat amanah serta kejujuran dari keduanya membuat ibu Ratna sangat menyukai mereka. Ibu Ratna adalah orang kaya dan sangat baik, mereka juga sudah lama diajak oleh ibu Ratna untuk tinggal dirumahnya, namun suami istri menolak karena mereka lebih suka hidup digubuk tua dengan kesederhana mereka. Mereka sangat berat untuk meninggalkan gubuk tua mereka yang lama ditinggalinya, suka duka ikut mewarnai dinding gubuk tersebut dan itulah sebabnya mereka menolak ajakan ibu Ratna.

“Kakek,” terdengar suara dari arah belakang. “iyya bu..!” jawab kakek menoleh ke sumber suara. “kek..! Sekali lagi jangan panggil ibu, panggil anak aja karena saya sudah menganggap kalian berdua orang tua kandung saya sendiri.” begitu Ibu Ratna memintanya.

“Ya sudah nak.. apa ada yang bisa kakek bantu.” Tanya kakek. “gak ada kok kek. Oiyya dari tadi saya belum melihat nenek. Ada dimana ya kek.” tanya ibu Ratna pula kemudian. “ada kok nak, nenek ada di belakang rumah lagi nyiapin sarapan untuk kalian sekeluarga.” celutuk kakek.

“Terus kakek sendiri ngapain,,? Kakek nanti aja kerjanya kalau sudah sarapan biar kakek ada tenaga juga, kan Ratna juga gak nuntut kakek untuk kerja terus, lagi pula kakek kan udah sering sakit-sakitan juga, ya sudah kita masuk kerumah ya kek kita makan dulu.” Tanya ibu Ratna sekaligus meminta sesuatu kepada kakek.

“Tapi.. ini kan tugas kakek, mana mungkin kakek mau enak-enakan, lagi pula di sinikan kakek digaji, masa iyya kakek mau enak-enakan tinggal nerima gaji berarti sama saja kakek menerima gaji buta.” jawab kakek dengan sedikit candaan. “andaikan kakek mau menerima permintaan Ratna jadi kita kan bisa tinggal sama-sama dirumah ini, lagi pula anak-anak juga sangat sayang sama kakek dan nenek.” Lirih ibu Ratna kepada kakek.

“Ya sudah kakek minta maaf, bukannya kakek menolak tapi gubuk tua kakek dan nenek itu kenangannya sangat banyak dan sangat terkesan, sayang kalau kenangan tersebut ditinggalkan.” Lirih kakek kepada ibu Ratna. “iyya gak apa-apa kok kek.! Ratna mengerti ya sudah ayok kita masuk ke dalam.” pinta ibu Ratna sekali lagi. “ya sudah mari..” ujar kakek.

Ke esokan harinya kakek kembali mendapat amanah dari ibu Ratna yang sangat menyesalkan yang dimana hari tersebut mampu mengalahkan amanah tersebut dengan sangat mudah. Ibu Ratna memberikan amanah kepada sang kakek untuk menukar perhiasan yang sudah dibelinya kepada toko tempat dia membeli perhiasan tersebut, kebetulan perhiasan tersebut berjumlah dua buah yang jumlahnya sangat fantastis. Tidak tahu kenapa kakek tiba-tiba tergoda melihat perhiasan yang sangat mewah tersebut.

“Kakek. Ratna mau minta tolong sama kakek, tolong perhiasan ini ditukar soalnya ini tidak sesuai dengan keinginan cucunya kakek dan juga sangat kebesaran.” Pinta Ibu Ratna. “tapi..! kakek takut nak. Ini terlalu berat untuk kakek.” Timpal kakek.

“Ratna sudah sangat lama mempercayai kakek dan Ratna yakin amanah ini terlalu berat untuk kakek, Ratna beli perhiasan di toko sebelah tolong ditukar ya kek..” pinta ibu Ratna kembali. “ya sudah..! terima kasih banyak kakek. “iya nak kakek jalan dulu ya.” celetuk kakek. “hati-hati ya kek…” pinta ibu Ratna. “Iyya nak, Assalamualaikum.” salam sang kakek.

Kemudian kakek melanjutkan perjalanannya menuju toko yang sudah disebutkan oleh ibu Ratna. Tiba-tiba di tengah jalan kakek merasa tertarik dengan perhiasan tersebut dan berniat untuk tidak jadi menukar perhiasan tersebut dan ingin membawa pulang ke gubuk tua mereka.

Di sampaing itu ibu Ratna menunggu sang kakek balik dari toko tempat ia membeli perhiasan tersebut. “Kok kakek lama ya, perasaan untuk menukar perhiasan tersebut tidak selama ini.” Lirihnya didalam hati.

Sudah 1 jam lebih ibu Ratna menunggu kepulangan kakek, namun sang kakek tidak muncul juga. Tetapi ibu Ratna langsung berprasangka baik kepada sang kakek.

“Assalaamualaikum nek…” terdengar suara kakek dari samping rumah dengan nafas tergesa-gesa. “ Waalaikumsalam..! kakek kenapa kok nafasnya tidak teratur seperti ini, kakek sakit?” Tanya sang nenek. “nek.. kita masuk ke dalam yah, kakek mau bicara sesuatu sama nenek.” Pinta kakek dengan nafas tergesa-gesa.

“Ya sudah.. mari masuk.” jawab sang nenek. “kakek punya sesuatu untuk nenek..” ujar kakek tersenyum. “sesuatu apa kek. Sebelumnya kakek gak pernah seperti ini ke nenek.” heran nenek kemudian. “taraaa…! Ini untuk nenek.” Kakek menunjukkan perhiasan tersebut. “kakek dapat dari mana perhiasan ini. Bukannya perhiasan ini sangat mahal ya, emang kakek punya uang atau tabungaan perasaan yang nenek tahu kakek tidak punya untuk membeli perhiasan semahal ini.” cetus sang nenek. “ini hasil tabungan kakek yang kakek tabung-tabung selama ini..” timpal kakek dengan gugup.

“Tapi..! nenek merasa ada kejanggalan dari prilaku dan sikap kakek dari tadi. Lebih baik kalau kakek jujur sama nenek, o iyya tadi ibu Ratna kan menyuruh kakek, emang kakek disuruh apa sama ibu Ratna?.” tanya nenek. “mmmmm…..” kakek diam. “kok emm… sih kek, kan nenek nanya, apa jangan-jangan perhiasan ini. Ingat ya kek kejujuran itu penting dan amanah juga perlu diperhatikan. Kakek ingatkan kan kata-kata nenek dulu.” Cetus nenek kembali.

“Astagfirullah halazim..! maafkan kakek nek, sebenarnya perhiasan ini amanah dari ibu Ratna, tapi kakek telah lalai untuk menjaga amanah ini. Maafkan kakek nek.“ lirih kakek mengakui kesalahannya. “ Ya Allah kakek. Kok bisa kakek melakukan hal seperti ini dan melukai kepercayaan yang sudah bertahun-tahun diberikan oleh ibu Ratna, apa kakek tidak memikirkan penyebab dari kesalahan kakek ini, hanya karena dua buah perhiasan tersebut kakek mampu berbuat seperti itu, apa kakek tidak memikirkan itu semua. Ibu Ratna adalah orang yang sangat baik kek, ya sudah besok kakek harus minta maaf dan jujur kepada ibu Ratna.” pinta nenek dengan marah.

“Kakek tidak tahu nek. Entah mengapa kakek ingin memiki barang ini. Ya sudah tapi nenek harus memaafkan kakek terlebih dahulu.” kakek memohon sedih. “sebelum ibu Ratna memaafkan perbuatan kakek maka nenek dan Allah mengampuni kakek juga.” Cetus nenek. “Insya Allah nenek akan jujur kepada ibu Ratna.” timpal kakek kemudian.

Ke esokan harinya kakek pun bergegas menuju ke rumah ibu Ratna. Sampai pada tempat tujuan sang kakek pun langsung meminta maaf dari ibu Ratna.

“Nak..! kakek minta maaf, kakek hilaf tanpa sengaja kakek membawa pulang perhiasan itu dan berniat untuk memiliki.” ujar kakek sedih. “kesalahan apa yang kakek maksud. Ratna tidak mengerti sama sekali.” Timpal ibu Ratna yang tidak mengerti apa-apa.

“Semalam kan Ibu Ratna menyuruh kakek untuk menukar perhiasan ini ke toko tempat ibu membelinya tapi di tengah kakek kehilangan arah dan berbalik arah.” Lirih kakek (jujur). “jadi maksud kakek. Kakek mau mengambil perhiasan tersebut. Kok bisa kek, sudah bertahun-tahun kakek bekerja untuk saya tapi kok bisa baru kali ini kakek melakukan kesalahan yang fatal ini. Kalau kakek mau barang tersebut langsung bilang aja itu tidak jadi masalah kok, Ratna pasti membelikan kek tanpa harus melakukan hal seperti ini.” begitu cetus ibu Ratna.

“Kakek hanya minta  maaf dari kamu nak. Kakek tidak mau kesalahan ini terus mengahntui kakek dan kakek juga takut kalau Allah marah besar kepada kakek.” Lirih kakek menyesal. “sampai kapanpun Ratna akan memaafkan kesalahan kakek sebesar apapun itu yang penting kakek terus menjunjung kejujuran.” ujar Ratna sekaligus pintanya.

“Terima kasih banyak nak. Ya sudah ini perhiasan kamu nak. Kakek kembaliin.” celetuk kakek.

Kesimpulan: cerpen ini mengajarkan kita bahwa bagaimana pentingnya sebuah kejujuran Karena kejujuran itu sendiri mampu mengalahkan kesalahan sebesar dan sekecil apapun kesalahan yang kita buat. Dan perlu juga diketahui bahwa sikap amanah yang sudah melekat di dalam diri kita harus dijaga dengan baik dan jangan sampai amanah tersebut bisa ternodai hanya karena hal-hal yang konyol. Menjunjung tinggi sikap amanah dan kejujuran adalah kunci utama dari suatu kesuksesan itu sendiri. [*]