SAMPANG, LimaDetik.Com – Pandemi Corona Virus Desease (Covid)-19 yang merebak beberapa tahun belakangan ini benar-benar menimbulkan dampak yang luar biasa dibeberapa sektor, salah satunya adalah sektor ekonomi.
Lesunya perekonomian berimbas kepada berkurangnya penghasilan masyarakat karena adanya perubahan keadaan dimana masyarakat harus bisa menyesuaikan dengan situasi yang baru demi terputusnya mata rantai sebaran Covid-19 yang makin menggila.
Hal tersebut diatas, tidak mengendorkan semangat para pemuda millenial yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Sumber Makmur, Dusun Tambengan, Desa Tanggumong, Kecamatan/Kabupaten Sampang, Madura, Jawa timur ini.
Ditengah kondisi pandemi Covid-19 dengan kondisi ekonomi yang tercekik, mereka lebih memilih bertani melon demi bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ditemui di tengah sawah yang sedang digarap untuk ditanami buah melon, Sekreraris Kelompok Tani (Poktan) Sumber Makmur Alif Mahmudi S.Pd.I menjelaskan, dengan kondisi seperti sekarang ini, kita harus pandai menangkap dan memanfaatkan peluang. Kreatif dan inovatif dalam melakukan budidaya pertanian sehingga lebih produktif dalam meningkatkan pertanian, terutama di wilayah Poktan masing-masing.
“Gak harus kerja kantoran, disawahpun kita juga bisa berpenghasilan. Asal tekun dan gak malu untuk bertani. Untuk bulan ini, kami memilih bertani melon. Karena peluang pasarnya bagus, mudah ditanam” jelasnya, Minggu (4/7/2021).
Melon yang ditanamnya berjenis Anvi dengan keunggulan lebih dikenal masyarakat, cepat laku, dan rasanya yang manis.
“Kami pernah mencoba menanam melon jenis Golden dengan warna kuning, tapi kurang diminati pasar karena masyarakat menganggap bahwa itu bukan melon, tapi buah lain” ungkapnya.
Menurutnya, buah melon masa panen lebih cepat, hanya 60 Hari saja. Jika ditanam hari ini, bulan agustus sudah bisa dipanen. Sedangkan untuk kualitas, kapasitas dan rasa, itu tergantung perawatan.
“Kami disini hanya ingin menginisiasi dan memotivasi masyarakat disini agar tidak malu untuk bertani. Terutama kalangan pemuda milenial yang ada disekitar sini. Dengan bertani kita juga menciptakan lahan pekerjaan sendiri. Jadi petani itu sehat, setiap hari kena sinar matahari pagi. Berolah raganya melalui bertani saja, karena semua otot ditubuh kita bergerak dan itu bisa meningkatkan imun tubuh kita demi menghindari serbuan corona” ujarnya.
Di tempat yang sama, Abd. Hamid menambahkan, untuk permodalan, kelompoknya menggunakan dana swadaya dengan cara urunan modal.
“Modal itu kita peroleh dari sumbangan dan swadaya teman-teman yang tergabung dalam Poktan Sumber Makmur. Besarannyapun tergantung kemampuan finansial masing-masing anggota. Seperti tadi tuh, ketika beli plastik penutup tanaman seharga 700 ribu, itu hasil urunan” jelasnya.
Diakuinya, hingga detik ini kelompoknya belum mendapat suntikan bantuan apapun dari pemerintah. Baik itu bibit ataupun alat pertanian demi meningkatkan produktifitas pertaniannya, apalagi akses pasar.
Disinggung terkait ketersediaan pupuk didaerahnya, Hamid mengatakan tidak mengalami kesulitan. Pasalnya, Poktannya sudah menjalin kemitraan dengan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dan pemilik kios didaerahnya untuk mempermudah itu.
“Untuk bantuan pupuk yang bersubsidi, petani disini dapat semua dan itu mudah didapat karena itu bagian dari misi kami untuk mempermudah masyarakat dan memajukan hasil tani disini. Semua kami lakukan untuk masyarakat. Kalau dulu meski ada duit, tapi pupuk langka dan sulit didapat. Jadi masyarakat itu bingung” tuturnya.
Diakhir, Kelompoknya berharap kehadiran dan peran serta pemerintah dalam hal permodalan, alat pertanian dan akses pasar demi peningkatan produktifitas pertaniannya.
Hingga beita ini diturunkan, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sampang R. Suyono M.Si ketika dikonfirmasi via telepon seluler tidak bisa dihubungi.
(MDS/YD)