Petik Laut Masalembu Kembali Bergema, Warisan Budaya yang Menjaga Harmoni Laut dan Kehidupan
LIMADETIK.COM, SUMENEP – Deru mesin ratusan perahu memecah tenangnya perairan Masalembu. Bendera warna-warni berkibar di setiap haluan, sementara doa-doa dipanjatkan mengiringi perjalanan para nelayan yang berlayar bersama dalam tradisi Petik Laut (Rokat Tase’).
Bagi masyarakat pesisir Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, tradisi ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan ikatan spiritual yang telah diwariskan lintas generasi.
Diselenggarakan oleh Rawatan Samudra, rangkaian Petik Laut tahun ini berlangsung meriah, khidmat, aman, dan tertib. Ribuan warga larut dalam suasana penuh kebersamaan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki, keselamatan, dan keberkahan yang terus mengalir dari laut Masalembu.
Sejak awal pelaksanaan, semangat masyarakat sudah terasa melalui pawai darat yang diikuti berbagai elemen warga. Jalan-jalan desa dipenuhi iring-iringan peserta yang menampilkan kekayaan budaya lokal, menciptakan suasana penuh kegembiraan sekaligus memperlihatkan kuatnya rasa memiliki terhadap tradisi leluhur.
Memasuki malam hari, kemeriahan berlanjut melalui pentas seni budaya. Beragam pertunjukan khas daerah dipentaskan sebagai ruang ekspresi sekaligus upaya menjaga agar seni dan budaya Masalembu tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.
Namun, esensi Petik Laut tidak berhenti pada kemeriahan semata. Nuansa religius menjadi ruh utama dalam setiap rangkaian acara. Kegiatan diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan sambutan panitia, istiqosah, ceramah agama, serta doa bersama yang dipanjatkan demi keselamatan para nelayan dan keberkahan hasil laut.
Momentum paling dinantikan hadir ketika ratusan perahu bergerak serempak mengarungi lautan Masalembu. Pawai laut itu menghadirkan panorama yang memukau.
Tidak hanya nelayan yang ikut berlayar, tetapi juga anak-anak, perempuan, pemuda hingga orang tua memenuhi setiap perahu, menjadikan laut seolah berubah menjadi panggung persatuan masyarakat pesisir.
Pemandangan tersebut menjadi simbol bahwa laut bukan hanya ruang mencari nafkah, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari identitas masyarakat Masalembu.
Pengurus Rawatan Samudra, Jailani, menegaskan bahwa Petik Laut merupakan warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, spiritual, dan sosial yang harus terus dijaga.
“Petik Laut adalah jati diri masyarakat nelayan Masalembu. Tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT, menjaga persaudaraan, memperkuat semangat gotong royong, serta mencintai laut sebagai sumber kehidupan,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, menjaga tradisi tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab menjaga ekosistem laut. Laut yang dinikmati hari ini, kata dia, bukan sekadar peninggalan leluhur, tetapi amanah yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Laut Masalembu harus tetap lestari agar anak cucu kita kelak masih dapat menikmati kekayaan yang sama. Jangan sampai mereka hanya mendengar cerita bahwa Masalembu pernah memiliki laut yang kaya. Mari kita rawat bersama, kita jaga, dan kita wariskan dalam kondisi yang tetap memberi kehidupan,” katanya.
Jailani juga mengingatkan masyarakat agar tidak pernah lelah menjaga budaya maupun lingkungan.
“Jangan berhenti hanya karena merasa lelah, dan jangan menyerah hanya karena perjuangan belum sepenuhnya tercapai. Selama kita tetap bersatu, peduli, dan terus berjuang, insya Allah akan selalu ada jalan dan harapan.”
Ia turut mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat persatuan, menghormati keberagaman, serta mempertahankan tradisi sebagai identitas yang membanggakan masyarakat nelayan Masalembu.
Panitia Rawatan Samudra menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, para sesepuh nelayan, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat keamanan, pemerintah, pemilik perahu, relawan, dan semua pihak yang telah bergotong royong menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.
Berkat sinergi tersebut, seluruh agenda mulai dari pawai darat, pentas seni budaya, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, istiqosah, ceramah agama, doa bersama hingga pawai laut berlangsung lancar, aman, dan penuh khidmat.
Petik Laut Masalembu kembali membuktikan bahwa sebuah tradisi bukan hanya tentang menjaga warisan masa lalu, tetapi juga membangun masa depan.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Masalembu tetap menjadikan budaya sebagai perekat persaudaraan, agama sebagai fondasi kehidupan, dan laut sebagai amanah yang wajib dijaga.
Melalui Rokat Tase’, mereka tidak hanya merayakan hasil laut yang melimpah, tetapi juga meneguhkan komitmen bersama untuk merawat laut Masalembu agar tetap menjadi sumber kehidupan, kebanggaan daerah, sekaligus warisan berharga bagi generasi yang akan datang.
Penulis : Wahyu
Editor : Wandi











