https://limadetik.com/

Terobosan Penyemprotan Disinfektan Desa Labuhan

  • Bagikan
IMG 20200329 173854
Alat penyemprotan disinfektan Desa Labuhan, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang

SAMPANG, Limadetik.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Labuhan, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, bersama masyarakat setempat melakukan terobosan menyegah covid-19, dengan membuat inovasi bilik penyemprotan disinfektan berukuran besar. Pasalnya alat tersebut diperuntukkan warga Desa Labuhan yang kembali dari perantauan di beberapa Kota di Indonesia.

Moh Jawahir Kepala Desa Labuhan, ia menjelaskan jika sebelumnya kami bersama warga melakukan penyempotan secara manual, kali ini mengandeng warga Desa Labuhan kami membuat bilik penyemprotan disinfektan untuk disemprotan ketubuh orang yang masuk Desa Labuhan melalui jalur mudik.

https://limadetik.com/

“Dua unit bilik penyemprotan disinfektan disediakan, satu unit dengan ukuran panjang 4 meter, tinggi 1,8 meter, dan lebar 1,5 meter yang dibuat khusus untuk bisa dilalui kendaraan bermotor roda dua, selain itu juga disiapkan bilik yang dikhususkan untuk perorangan, mulai hari ini masih diletaknya di depan Balai Desa yang juga merupakan jalan poros, bahkan nantinya alat ini juga akan diletakkan di tempat-tempat ramai yang berada di Desa Labuhan” jelasnya, Minggu (29/3/2020).

Lanjut Jawahir, dengan keberadaan alat ini diharapkan dan sekaligus menghimbau pada masyarakat, untuk bersama-sama untuk mencegah penyebaran covid 19. Berdasarkan pendataan aparat Desa Labuhan, warga yang kembali dari luar Kota ke Desa Labuhan hingga hari ini berjumlah kurang lebih 160 dengan asal Kota diantaranya, Surabaya, Solo, Malang dan Jakarta.

“Awalnya kami prioritaskan alat penyemprotan tersebut, untuk masyarakat Labuhan. Tapi karena melihat kebutuhan masyarakat umum, kami juga siapkan untuk warga disekitar Labuhan,” tambahnya

“Dan alhamdulilah warga diluar Labuhan juga bisa memanfaatkan layanan ini, harapan kami bilik penyemprotan disinfektan ini bisa membantu pemerintah dalam menangani sebaran virus,” timpalnya.

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa sebagian warga tidak bisa menerapkan stay at home, karena harus bekerja untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan tidak sedikit melakukan perjalanan hingga ke luar madura.

“Kami juga paham dengan kondisi masyarakat, namun kami juga menginstruksikan semua warga untuk tetap melewati bilik ini sebelum sampai dirumahnya,” tegasnya. (Nor/yd)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan