Sumenep, 6 Februari 2020
Limadetik.com – Oleh: Herdayanti
Pakaian ditengah kalangan masyarakat pada saat ini sangat sangat memperhatinkan terutama di kalangan remaja milenial yang mengikuti perkembangan zaman yang begitu pesat, dan yang menjadi pakaian mereka ialah pakaian yang sangat tidak patut untuk dicontoh, kalangan remaja saat ini begitu sangat membentuk bodi mereka tanpa memikirkan pandangan orang lain terutama lawan jenisnya.
Mengapa bukan pakaian yang menutup auratnya secara sempurna?. Ia memang mereka memakai jilbab, namun jika memakai lejing disertai baju pendek yang batasnya berada tepat di perbatasan celana namun tidak sampai menutup belakangnya maka percuma.
Di kalangan remaja saat ini mereka telah memperioritaskan pakaian yang semakin hari semakin modern, remaja saat ini sangat enggan untuk memakai pakaian yang menutup seluruh tubuhnya dengan baik. Kalangan remaja saat ini sangat memperihatinkan pakaian yang dipakainya agar tubuh mereka kelihatan sempurna. Seperti halnya remaja yang satu ini yang selalu antusias untuk tampil elegan mengikuti perkembangan zaman.
‘’Sisil…’’ salah satu teman memanggilnya. ‘’Iyya ada apa sih sastra..? kaget tau..! menjengkelkan sekali.’’ sahutku. ‘’Kamu kesini deh bentar..! pinta sastra.
‘’Kamu gak liat apa aku masih ada kerjaan..!’’ jawab sisil judes. ‘’Sebentar aja sisil, ada yang mau aku tanyakan..!’’pinta sastra sekali lagi. ‘’Yang perlukan kamu bukan aku..!’’celetuk sisil. ‘’Ya sudah, tunggu disana aku masih mau bereskan tempatku terlebih dahulu.!’’ ujar sastra. ‘’Ya oky…!’’celetuknya. Tidak berlangsung lama Sastra pun menghampiri Sisil yang tengah berada tidak jauh darinya, Sastra menanyakan perihal enak atau tidaknya pakaian yang dipakainya, di mana pakaian yang dipakai Sisil itu sangat membentuk poster tubuhnya yang indah, memang manusia itu tercipta dengan kecantikannya namun tidak untuk ditampakkan.
‘’Sisil..! aku mau nanya, apakah kamu gak mau mengganti pakaiaanmu ini. Ini tidak bagus buat kamu sebagai wanita untuk memakainya. Meskipun pada dasarnya kamu telah menutupnyaa namun tidak secara sempurna.!’’ ujar Sastra kepada Sisil.
“Kamu itu terlalu kuno, sekarang ini udah zaman modern dan milenial setidaknya kamu yang mengubah pakaianmu yang kuno..!’’ timpal Sisil dengan membagakan dirinya. ‘’Aku bukannya tidak mau mengikuti zaman yang sekarang terlalu menguasai kita, pakaian kita ya seperti ini bukan yang seperti kamu pakai, percuma jika kamu memakai pakaian yang dinilai sangat bagus dan menarik jika itu hanya dimata makhluk-Nya..!’’ timpal Sastra kembali.
‘’Kamu itu jangan terlalu naïf, ayolah ini pakaian anak remaja Indonesia saat ini apalagi kita ini hidup dikota bukan didesa..!’’celetuknya. ‘’Sisil.. aku sudah terlalu enak dengan pakaian ku saat ini..!’’ lirihnya.
Terkadang aku heran melihat pakaian kalian yang terlalu modis yang hanya membuahkan fikiran negatif untuk kaum Adam. Ingin sekali rasanya aku mengajak kaum hawa terutama kamu yang terlalu mengikuti perkembangan zaman..” ujar sastra menambahkan pembicaraannya.
“Sas.. inilah pemikiran pemikiran anak remaja saat ini ya terutama aku, siapa coba yang tidak mau kelihatan menarik..”cetus sisil jude. ‘’ya inilah yang patut diubah jangan sampai pakaian local kita yang menjadi prioritas utama kita luntur akibat ulah kalian yang terlalu narsis dan eksis..” lirihnya dengan santai.
Memang aku adalah anak yang tidak mau diatur dan tidak mau dinasehati karena Sisil ingin tampil elegan namun itu hanya menjadi penilaian bagi teman-temannya yang tidak memandangnya indah. ‘’Sudahlah Sastra ini waktuku sudah terkuras habis mendengar ocehanmu yang konyol itu..!’’ judesnya meninggalkan Sastra yang belum selesai mengoceh.
Sesampainya sisil didalam ruangan kelas. Ada salah satu cowok yang kerap kali mengganggunya akibat pakaiannya yang terlalu menarik hawa nafsu. Namun sisil tak jadi masalah karena itulah makanannya kerap kali masuk kedalam ruangan dan tanpa sisil sadari bahwa selama ini cara dia berpakaian tidaklah sangat tidak pantas dan bisa jadi menimbulkan perihal yang tidak diinginkan.
“Sisil…!” sapa salah satu teman disampingnya.
“Ada apa sih panggil-panggil mulu..?” judes.
‘’Mau gak ketika nanti ketika udah matkul usai kita jalan yuk..!’’ mengajak sisil.
“Pergi aja sendiri, males jalan sama kamu gak memenuhi kriteriaku” cetusnya dengan sombong.
“Yang jelas bukan kamulah.”Cetus sisil.
“Emang kriteria seperti apa yang kamu inginkan..?” timpal temannya.
“Ehh… kamu gak usah sok milih-milih, tidaka ada orang yang mau sama kamu dengan
pakaianmu seperti ini. Murahan…!”timpal temannya dengan lantang.
“Hello… jangan bilang ini pakaian murahan. Ini mahal tau. kamu aja tuh pakaian yang kumuh dan jelek seperti itu..!“ celetuknya dengan jutek.
“Kamu dengar ya sil… teman-teman di sini terutama cowok cuma menyukai bentuk badanmu namun tidak untuk akhlakmu.” cetus temannya.
“Terserah mereka inilah pakaianku jadi jangan sok. Mengerti..” timpalnya kemudian.
Setelah selesai matkul sisil pun pulang menuju rumahnya dengan dipenuhi rasa kesal yang tinggi akibat ulah sang teman. Teriknya matahari membuat dia sangat kepanasan akibat pakaian yang ia gunakan ditambah lagi ditengah perjalanan ada 3 orang yang tak dikenalnya mengahmpiri dirinya berniat mengganggu karena kemenarikan yang ditampakkannya.
“Ehhh.. kalian mau ngapain, jangan mendekat atau tidak….!” mencoba mengancam.
“Waw… sungguh menarik..” cetus salah satu dari orang tersebut.
“Maksud kalian apa, jangan mendekat…”ujar sisil penuh rasa takut.
“Pakaianmu tidak pantas untuk kau gunakan, pakaianmu terlalu hina, apakah orang tuamu tidak mengajarimu tata berpakaian sehingga pakaianmu sangat tidak senonoh untuk dipandang“ tanya salah satu dari 3 orang tersebut.
“jangan sok tau kamu.. inilah pakaianku dan inilah prioritasku, ada masalah..!” timpal Sisil.
“kesalahanmu adalah pakaianmu..” ujar orang yang terlebih dahulu bertanya kepada sisil.
Kemudian muncul pertanyaan yang sangat menyakitkan buatnya dari salah satu orang tadi.
“Apakah kamu beragama Islam, jika kamu islam murtadlah engkau ke Agama yang tidak
melarangmu untuk berpakaian seenaknya…” tanya orang tersebut.
Kemudian Sisil pun menjawab. “mengapa sehingga timbul pertanyaan seperti itu. Aku Islam aku juga menutup auratku, jangan menyuruhku untuk murtad karena sampai kapanpun agamaku ya Islam dan akan selamnya islam..!” lirihnya.
“jika memang kamu Islam maka perbaiki pakaianmu agar lawan jenismu tidak hanya mencintai kecantikan tubuhmu semata..” nasihat orang tersebut.
“Aku merasa pakaianku tidak mengganggu kalian, lantas apa yang kalian katakana..” cetus sisil. “memang di dalam diri kamu, kamu tidak merasakan hal itu namun yang menilai kamu adalah orang lain karena tidak mungkin kita sendirilah yang akan menilai atau mengomentari diri kita sendiri. Sangat Mustahil..”ujar orang tersebut kembali.
Inilah pentingnya kita menjaga prioritas kita dalam halnya berpakaian terutama untuk kaum hawa, pakaian kita adalah cerminan akhlak itu sendiri. Jika kita ingin dihormati dan dihargai serta dipandang dengan baik maka berangkatlah dari pakaianmu terlebih dahulu, karena pada dasarnya pakaian adalah sebuah prioritas utama untuk kita sebagai penganut Agama Islam.
Jangan sampai kita memakai pakaian salah seperti yang sudah ada di atas tadi, tutuplah auratmu dengan sopan dan jangan salah presepsi bahwa ketika kita sudah menggunakan jilbab dan baju panjang serta celana panjang namun autar atau poster tubuh kita masih kelihatan maka jangan katakana bahwa kalian sudah menutup aurat kalian. Jika didalam kaca mata Makhluk-Nya itu tertutup namun dalam kaca mata islam itu sama saja kalian tidak menggunakan pakaian sama sekali. (*).
Catatan: Cerita di atas di Ilhami cerita nyata seorang sahabat beberapa waktu yang lalu, mohon maaf jika ada kesamaan nama yang dipakai penulis. Semua itu hanya secara kebetulan saja.
Penulis adalah Mahasiswi STKIP PGRI Sumenep dan Anggota HIMPASS