https://limadetik.com/

Gurujugan, Sungai Pemandian Bidadari

  • Bagikan
20190516 151136

SUMENEP, limadetik.com — Gurujugan terletak di sebelah barat dari Gua Soekarno sekitar 45 meter. Hanya jalan setapak berbatu cadas yang menghubungkan Gurujugan dengan Gua Soekarno. Bagi pengunjung harus ekstra hati-hati kalau menuju tempat wisata yang satu ini, karena pengunjung harus menuruni lembah sangat curam dengan kedalaman kurang lebih 60 meter.

Gurujugan adalah sebuah sungai yang membelah dua desa antara Desa Panaongan dan Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep Berjarak kurang lebih 1 kilometer dari pelabuhan Pasongsongan ke arah selatan. Menurut cerita beberapa orang yang limadetik.com jumpai, bahwa Gurujugan di era tahun 80-an merupakan destinasi wisata satu-satunya bagi masyarakat Pasongsongan. Pengunjungnya cukup banyak kala itu.

https://limadetik.com/

“Biasanya kalau hari raya Idul Fitri dan Idul Adha orang ramai mengunjungi Gurujugan,” kenang Agus Sugianto yang ketika masa kecil pernah mendatangi tempat wisata itu, Selasa (17/9/2019).

“Saya dulu kalau mau ke Gurujugan naik sampan kecil dari pelabuhan Pasongsongan ke arah selatan. Namun ada pula yang berjalan kaki.” tambahnya.

Lantas kenapa sekarang masyarakat Pasongsongan tidak mau lagi berwisata di Gurujugan. Menurut lelaki yang sudah berusia lebih 45 tahun ini menjelaskan, “Itu disebabkan oleh faktor jalan. Akses jalan menuju Gurujugan yang sudah tak ada lagi, karena sepanjang jalan pinggir sungai sudah ditumbuhi semak-belukar. Ini yang membuat malas orang pergi ke sana.” terangnya.

Bukankah ada sampan untuk menuju ke Gurujugan. “Memang sampan ada, tetapi Gurujugan memerlukan sentuhan untuk menarik minat orang berwisata. Tempat wisata akan merana kalau tidak ada pengembangan berarti sebagai daya tarik. Orang akan melirik tempat wisata lain yang menurutnya lebih menarik dari segala sisi,” imbuh pria yang berprofesi guru di SDN Pasongsongan I lebih jauh.

Agus Sugianto juga menambahkan, kalau saja ada pengusaha yang mau berinvestasi, dirinya sangat yakin Gurujugan akan kembali ramai dikunjungi para wisatawan. Maka otomatis akan meningkatkan income masyarakat setempat. Apalagi di sebelah timur ada destinasi wisata Gua Sukarno yang setiap harinya ramai dikunjungi orang.

Pemandian Bidadari
Pemandangan alam menakjubkan di Gurujugan yang diapit dua sisi tebing terjal. Tebing batu yang curam berdiri perkasa. Air sungai mengalir dengan tenang dari sela-sela batu. Gemericik air terdengar lembut di telinga. Pohon-pohon di kedua sisi sungai berbatu itu sangat teduh menaungi. Sebuah karunia Ilahi yang maha indah.

Beberapa hari yang lalu limadetik.com menyambangi rumah pemilik lahan Gua Soekarno, Ceng Rasidi. Rumah beliau cukup dekat dengan Gurujugan, tepatnya di atas tebing sisi timur Gurujugan. Ceng Rasidi, orang yang paling tahu banyak tentang keberadaan Gurujugan karena ia lahir dan besar di situ. Usianya sekarang sekitar 70 tahun.

Belakangan ada desas-desus dari sebagian masyarakat Pasongsongan, kalau Gurujugan adalah tempat para bidadari mandi. Ketika isu itu ditanyakan kepada Ceng Rasidi, ia membenarkannya. “Saya berani bersumpah, kalau kabar tentang ada bidadari yang mandi di sungai Gurujugan, itu benar adanya. Saya tidak bohong,” ujar pria yang kelihatan masih segar itu.

“Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Kejadian itu sekitar jam 2 dini hari. Saat itu saya menuruni tebing terjal Gurujugan dengan membawa peralatan jaring untuk menangkap ikan.”
Lebih lanjut Ceng Rasidi menjelaskan.

Cang Rusdi menjelaskan, kalau dirinya setengah terperanjat demi melihat bidadari-bidadari sedang mandi. Ketika Ceng Rasidi mau mendekat dalam jarak dua belas meter, tiba-tiba bidadari-bidadari itu blingsatan dan segera meninggalkan sungai dangkal tersebut.

“Cukup jelas, karena saat itu bulan lagi bersinar. Bidadari-bidadari itu terbang. Saya baru menyadari kalau bidadari itu bukan cerita khayal, tapi bagi saya nyata keberadaannya,” pungkasnya.

(Yant Kaiy/yd)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan