Tragis.! Arab Saudi Kembali Siksa Ulama Secara Brutal di Penjara Kerajaan

RIYADH, Limadetik.com — Arab Saudi dikabarkan kembali siksa secara brutal seorang pembangkang politik dan pengkhotbah Muslim terkenal secara brutal di penjara kerajaan.

Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM), Prisoners Of Conscience (Tahanan Hati Nurani), yang merupakan organisasi non-pemerintah independen yang berusaha mempromosikan hak asasi manusia di Arab Saudi, mengumumkan dalam sebuah postingan di halaman Twitter resmi mereka bahwa Dr. Ali al-Omari saat ini menderita luka bakar dan cedera parah di seluruh tubuhnya sebagai akibat dari pemukulan biadab dan setruman listrik yang ia alami selama penahanannya di sel isolasi, 15 bulan terus menerus, begitu yang tertulis disebuah twitter prisoners of conscie@m3talk_en.

Prisoners of Conscie@m3takl_en

🔴BREAKING NEWS: 

We confirm that Dr. Ali al-Omari is currently suffering from severe burns and injuries all over his body, due to being severely tortured by beating him and subjecting him to electric shocks during his detention in solitary confinement for 15 continuous months!.

Dijelaskan bahwa Omari baru-baru ini dibebaskan dari sel isolasi sebagaimana dilansir media ini dari ArrahmahNews.com.

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menangkap ulama itu (Ali Al-Omari, red) yang menyerukan lebih banyak hak bagi perempuan dan berkampanye menentang ideologi Wahabi yang kejam di acara TV-nya, pada awal September 2017, bersama dengan sekelompok pengkhotbah, akademisi dan penulis.

Wahabisme adalah ideologi yang dianut dan disebarkan secara luas oleh ulama-ulama dukungan rezim di Riyadh. Teroris Daesh Takfiri dan kelompok-kelompok militan lainnya menggunakan ideologi ini untuk menyatakan orang-orang dari agama lain “kafir” dan untuk membenarkan pembunuhan serta kekejaman yang mereka lakukan.

Dikatakan, Omari telah sepenuhnya dilarang dari kunjungan dan kontak dengan keluarganya selama berada di sel isolasi.

Arab Saudi akhir-akhir ini meningkatkan penangkapan bermotif politik, penuntutan, dan penghukuman terhadap penulis, pengkritik dan aktivis hak asasi manusia.

Para pejabat Saudi juga telah mengintensifkan langkah-langkah keamanan di Provinsi Timur kaya minyak yang penduduknya mayoritas adalah Muslim syiah, menyerbu dan menyerang siapa saja yang dianggap menentang kerajaan.

Provinsi Timur itu telah menjadi tempat demonstrasi damai sejak Februari 2011. Para pengunjuk rasa menuntut reformasi, kebebasan berekspresi, pembebasan tahanan politik, dan diakhirinya diskriminasi ekonomi dan agama terhadap wilayah kaya minyak tersebut. (LD/ARN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here