Jakarta, Limadetik.com— Bentrokan pecah antara dua kubu mahasiswa di Universitas Teheran, Iran, terkait aturan wajib berhijab yang diberlakukan pemerintah.

Kantor berita Iran, ISNA, melaporkan bahwa bentrokan ini pecah ketika sejumlah mahasiswa menggelar demonstrasi karena polisi moral memasuki kawasan universitas untuk memastikan pemakaian hijab.

Para mahasiswa mengatakan bahwa mereka harus melalui pemeriksaan ketat sebelum memasuki universitas.

“Pemaksaan memakai atribut tertentu kepada mahasiswa adalah pelanggaran hak asasi manusia,” demikian pernyataan mahasiswa yang dikutip ISNA.

Seorang pejabat perwakilan urusan kebudayaan universitas, Majid Sarsangi, kemudian menemui para mahasiswa yang berdemonstrasi. Namun, pejabat itu “ditolak secara fisik” saat berupaya mendekati mahasiswa.

Saat itu, Sarsangi sebenarnya ingin membantah kabar bahwa pasukan keamanan memasuki kawasan universitas untuk memastikan para mahasiswi memakai hijab.

Namun, menurut Sarsangi, saat itu “dua kelompok mahasiswa yang berbeda pendapat sayangnya terlibat bentrok ketika kami mencoba menenangkan mereka.”

Kantor berita Fars juga melaporkan bahwa bentrokan terjadi ketika para demonstran berseteru dengan mahasiswa yang mendukung aturan wajib hijab.

“Mereka mulai meneriakkan slogan-slogan untuk melanggar aturan pakaian dan ketaatan berhijab. Slogan itu menunjukkan mereka sendiri melawan Islam,” ujar kepala Organisasi Basij Universitas Teheran, Ali Tolouie.

Aturan wajib hijab ini sebenarnya sudah diterapkan di Iran sejak Revolusi Islam pada 1979 silam. Perempuan di Iran diwajibkan berpakaian “sopan” dan menutupi kepala mereka dengan hijab.

Namun, setiap Ramadan datang, pemerintah memperketat penerapan aturan itu. Belakangan, para warga perempuan di Iran menentang pengetatan aturan itu dengan menggelar aksi di bawah bendera gerakan Gadis Jalan Revolusi.

 

 


Sumber; CNN Indonesia, (has)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here